Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Sejarah Singkat Asal-Muasal Kaos Band Menjadi Identitas Para Penggemar dan Tempat Promosi yang Menjanjikan

Aby Genta Putra Prasetya • Senin, 26 Agustus 2024 | 15:10 WIB
Penyanyi Raisa Mengenakan Kaos Seringai, AC DC Girl (Facebook)
Penyanyi Raisa Mengenakan Kaos Seringai, AC DC Girl (Facebook)

RADARSEMARANG.ID - Bagi para penggemar musik, menyukai salah satu atau beberapa performer yang cocok dengan selera musik pribadi adalah sebuah hal yang pasti.

Dengan menyukai salah satu performer atau band ini, tentunya kita makin mengulik seluruh hal yang berkaitan dengan sang musisi.

Entah itu karya yang dihasilkan ataupun kehidupan pribadi dari si musisi maupun seluruh anggota bandnya.

Hal ini makin menjadikan kita kagum dan menjadikan fase berikutnya sebagai mengidentifikasikan diri sebagai fans yang ingin mendukung band tersebut kedepannya.

Menjadi fans, tak jarang kita akan berkumpul dengan sesama penggemar lain dan membentuk komunitas yang mendukung band tersebut.

Di Indonesia, beberapa komunitas penggemar dengan jumlah massa yang besar seperti contohnya Slankers (Slank), Oi (Iwan Fals) dan Outsiders/Ladyrose (Superman is Dead).

Mendukung band-band tersebut berarti juga turut membantu mereka berkembang agar bisa menciptakan lebih banyak karya lagi, tentunya dengan membeli karya dan merchandise original mereka.

Salah satu yang paling mudah terlihat sebagai fans adalah mengenakan kaos merchandise dari band yang disukai, hal ini pula yang di masa kini makin subur dan ikut berkembang bersama menjadi subkultur skena yang kerap berseliweran di sosial media seperti Instagram dan TikTok.

Lalu, bagaimana sih sejarah perkembangan kaos band menjadi merchandise sekaligus identitas yang kerap digunakan anak-anak muda sekarang sebagai sebuah subkultur?, berikut penjelasannya.

Meskipun masih rancu, namun penggunaan kaos (t-shirt) sebagai identitas yang berkaitan dengan musisi/band dapat ditarik mundur pada era 1940-an di Amerika Serikat.

Saat itu para bobby soxers, yakni para anak muda yang memiliki ketertarikan dengan fashion modern mulai memodifikasi pakaian mereka selaras dengan idola mereka, Frank Sinatra.

Namun, ada pendapat pula yang menyatakan bahwa penggunaan pakaian konser pertama dari fans merupakan karya dari klub penggemar Elvis Presley di tahun 1950-an.

Baca Juga: Vokalis Lamb Of God Sampaikan Keresahannya Kepada Fans yang Fokus Merekam Saat Konser Musik Berlangsung

Lalu di tahun 1960-an, The Beatles melakukan gebrakan dengan membagikan kaos kepada fans-fans mereka pada US Tour dengan alasan agar lebih dekat dengan mereka (The Fabulous Four).

Di tahun 1968, sebuah perusahaan merchandise bernama Winterland Production didirikan, dan sejak saat itu perkembangan kaos band mulai berkembang pesat.

Dalam skala besar, disebutkan band asal Australia yakni AC/DC dikenal sebagai band pertama yang mencetak sejarah sebagai band yang menjual merchandise kaos terlaris melebihi tiket konser tour mereka.

Kaos band dinilai murah dan merakyat, serta dapat menjadi kanvas kosong yang terjangkau sebagai ajang kreativitas, identitas diri dan sesama rekan fans serta bentuk dukungan terhadap band yang sedang melakukan performance.

Selain bentuk identitas fans, dalam konteks bisnis bagi para band yang memproduksinya. Kaos band merupakan cara promosi yang sangat masif, penyebaran nama sang artist akan lebih cepat apabila makin banyak orang yang mengenakan kaos dengan nama band atau muka mereka terpampang disana.

Source: Museum of Youth Culture, Rocker Tee

Editor : Baskoro Septiadi
#identitas penggemar band #sejarah kaos band #asal usul kaos band #merchandise kaos band #sejarah singkat kaos band