’’Bisa dibilang, kami ini belajar sambil membuat sejarah,” katanya kepada Jawa Pos di Surabaya kemarin (4/5).
Kami yang dimaksud Log bahkan bisa diterjemahkan lebih luas lagi: Indonesia. Hari ini, tepat di 50 tahun kelahirannya, God Bless telah memberi pengaruh begitu besar bagi skena musik tanah air, khususnya rock. Mulai dari gaya panggung, penulisan lirik, pengaturan aransemen, sampai konsistensi berkarya.
’’Dulu memulai, tidak pernah berpikir sejauh ini. Alhamdulillah, teman-teman tetap berkomitmen untuk tetap bersatu apa pun yang terjadi,” kata Iyek, sapaan akrab Ahmad Albar, dalam pernyataan tertulis yang diterima Jawa Pos kemarin.
Mereka membuka jalan tentang bagaimana membuka konser sebuah band dunia, Deep Purple, pada 1975. Pada ’’Musisi’’ yang termaktub di album ’’Cermin” dan sampai sekarang masih sering jadi lagu wajib festival musik, mereka menunjukkan bagaimana musik berkualitas bakal melintas waktu.
Mereka juga, saat merilis album ’’Semut Hitam’’, memperlihatkan bagaimana beradaptasi dengan usia dan zaman. Dan, menjadi pembuka Deep Purple lagi pada Maret lalu adalah bukti betapa tak pernah sia-sia ’’kukejar prestasi itu, seribu langkah kupacu’’.
Paul Heru Wibowo, pengamat musik, menyebut perubahan yang dilakukan God Bless pada ’’Semut Hitam’’ sebagai bentuk keluwesan mereka merespons era dan pasar. Meninggalkan kerumitan di album sebelumnya, ’’Cermin’’, yang meskipun secara estetis diakui, jeblok di pasaran.
Ada bebunyian, kata Paul, yang sangat Indonesia di album yang dirilis pada 1988 tersebut. Iyek pun, seiring performa vokalnya yang tergerus umur, juga menampakkan cengkok khasnya. Lagu-lagu mereka pun jadi lebih mudah diikuti penggemar yang ingin sekadar ikut bernyanyi di konser.
’’Sekarang, coba dengerin ’Semesta’, ’Rumah Kita’, itu suara Indonesia. Suara yang tidak terlalu tinggi atau rendah. Kalau nyanyi bareng itu, bisa,” kata dosen Universitas Multimedia Nusantara Jakarta tersebut.
Secara khusus, Paul mengapresiasi Log Zhelebour yang dinilainya jadi ”kuncian” God Bless. Di tangan produser asal Surabaya itu, band pelantun Rumah Kita tersebut menjadi standar di musik rock. Baik dalam hal karya maupun penampilan panggung.
Log mengenang, yang ada di benaknya saat itu, God Bless yang lama vakum dan tak merilis album harus jadi pionir dan kudu sukses. Sebuah ambisi yang tak mudah diwujudkan. Sebab, industri hiburan Indonesia karut-marut kala itu.
Kontrak tampil antara artis dan promotor tidak menguntungkan. Kadang si artis rugi, tapi tak jarang pula sang promotor yang harus nombok.
Log pun memberlakukan fixed cost: biaya pengeluaran selama konser dikontrol ketat. Jika ada istri atau anak yang ikut, personel wajib merogoh kocek pribadi. Ticketing pun dikendalikan dengan bantuan komunitas setempat.
Kedisiplinan pun dijaga. Para personel tidak boleh lagi hura-hura setelah tampil. Mereka punya jadwal jelas: dari latihan, workshop musik, rilis album, sampai tur konser untuk promosi.
Saat merilis ’’Semut Hitam’’, Log pun membawa God Bless tur konser ke 35 kota. Berbagai perombakan tadi pun membuahkan hasil. Dari tampil dengan bayaran seikhlasnya, mereka meraup pendapatan pertama –dengan sistem kontrak ala Log– mencapai Rp 1,5 juta di pertengahan 1980-an.
’’Dapatnya pun, waktu itu, cash. Setelah penjualan tiket ngumpul, dibagi sama anak-anak,” imbuhnya.
Di luar itu, Log juga mau tak mau berinvestasi logistik manggung. Segala keperluan, dia punya. Dari rigging, multipleks alas panggung, hingga barikade pengamanan.
Buntutnya, God Bless ikut naik kelas: dari panggung terop (seperti acara hajatan kampung) menjadi panggung dengan struktur space frame megah sepanjang 24 meter. Pengamanan pun tak lagi berbekal drum bekas minyak berisi air.
’’Itulah yang saya rasa paling berkesan dari God Bless. Mereka mau semuanya perfect. Sound (system) harus gede, lighting-nya harus bagus,” imbuh Log.
Dia mengakui, ’’mengurus’’ God Bless tidak mudah. Log merasakan betul ego serta idealisme masing-masing personel. Konflik personal dan gonta-ganti personel menunjukkan band ini kerap melewati masa-masa sulit.
Itu juga yang membuat rilisan album mereka tak banyak untuk ukuran band berusia setengah abad. ’’Sebagai band, album mereka memang sedikit. Tapi, sebenarnya, tiap personelnya produktif,” kata Paul.
Iyek punya beberapa album solo. Ian aktif jadi penulis lagu dan penata musik bagi sejumlah penyanyi, terutama sejumlah lady rocker era 1980-an. Donny pun ada di belakang itu dan ikut pula menjadi bagian Gong 2000, side project yang sering disebut God Bless kecil lantaran separo personelnya ada di sana.
’’Dari bangun sampai tidur, di pikiran kami hanya bermusik. Kami enggak berpikir membuat kegiatan selain main musik,” ungkap Ian.
Dari sana ketangguhan yang bertahan sampai setengah abad berasal. Dan, masih akan terus lama bertahan meski sebagian personel God Bless kini telah berusia kepala tujuh.
’’Tidak mudah untuk bisa sampai titik ini,” kata Ian Gillan, vokalis Deep Purple, tentang keawetan bandnya dan God Bless dalam jumpa pers konser Maret lalu.
Ya, tidak mudah. Dan, juga tidak akan mudah dinapaktilasi siapa saja. (*/c17/ttg)
Linimasa God Bless
5 Mei 1973
- Crazy Wheels –band almarhum Fuad Hassan, Donny Fattah, Ludwig Lemans, dan Ahmad Albar– berganti nama menjadi God Bless.
16 Agustus 1973
- God Bless tampil perdana di festival Suasana Malam Kemerdekaan Ke-28 atau Summer 28.
1974
- Fuad Hassan dan Soman Lubis mengalami kecelakaan. Ludwig Lemans mengundurkan diri dari God Bless.
- God Bless, yang saat itu tinggal Ahmad Albar dan Donny Fattah, merekrut kembali Jockie Surjoprajogo, Ian Antono, dan Teddy Sujaya.
1975
- God Bless menjadi pembuka konser pertama Deep Purple di Indonesia.
1980-an
- Album kedua Cermin, album progresif di tengah industri musik yang didominasi musik pop dengan lirik bertema cinta.
- God Bless bergabung dengan Logiss Records. Di bawah label tersebut, para personelnya dilibatkan menjadi juri di festival.
- Di album 1989, Eet Sjahranie –yang masih merupakan pendatang baru– masuk menggantikan Ian Antono.
1990-an
- Pada 1997, album Apa Kabar rilis. Album tersebut menjadi rilisan God Bless yang diisi dua gitaris: Eet dan Ian.
- Eet mengundurkan diri dari God Bless untuk fokus di band-nya, Edane, yang didirikan pada 1992.
2000-an
- Pada 2002, God Bless kembali aktif setelah sempat vakum. Mereka sempat merekrut Inang Noorsaid dan Iwang Noorsaid serta Gilang Ramadhan.
- Pada 2007, seluruh aktivitas God Bless dihentikan sementara karena Ahmad Albar terlibat kasus narkoba. Band kembali aktif pada pertengahan 2008.
- Pada Mei 2009, God Bless merilis 36th, album pertama mereka dengan Nagaswara/Kharisma Entertainment.
2010-an
- Pada 2012, Donny Fattah vakum karena serangan jantung. Posisinya digantikan Arya Setyadi. Sementara itu, posisi drumer diisi Fajar Satritama.
- God Bless resmi memiliki formasi Ahmad Albar (vokal), Ian Antono (gitar), Donny Fattah (bas), Fajar Satritama (drum), Abadi Soesman (kibor), dan Arya Setyadi (bas). Formasi ini bertahan hingga kini dengan Arya Setyadi sebagai basis pengganti.
---
God Bless dalam Angka
7 album
Jumlah album studio yang dirilis: God Bless, Cermin, Semut Hitam, Raksasa, Apa Kabar, 36th, Cermin 7.
12 tahun
Masa vakum rilis album God Bless antara Apa Kabar (1997) dan 36th (2009).
15 personel
Jumlah personel yang pernah keluar masuk di God Bless.
---
Anggota Sekarang
AHMAD ALBAR
vokalis dan pianis
JUSUF 'IAN' ANTONO
gitaris, vokal latar
DONNY FATTAH GAGOLA
basis, vokal latar
ABADI SOESMAN
kibordis, pianis, penyintesis, vokal latar
FAJAR SATRITAMA
drumer dan perkusionis
Mantan Anggota
DEDDY DORES
kibordis, gitaris
ODING NASUTION
gitaris
KEENAN NASUTION
gitaris
YOCKIE SOERJOPRAJOGO
kibordis, pianis, penyintesis
SOMAN LUBIS
kibordis, pianis, penyintesis
FUAD HASSAN
drumer
LUDWIG LE MANS
gitaris
DODO ZAKARIA
kibordis
TEDDY SUJAYA
drumer
EET SJAHRANIE
gitaris
INANG NOORSAID
drumer
IWANG NOORSAID
kibordis
GILANG RAMADHAN
drumer
YAYA MOEKTIO
drumer
Editor : Agus AP