RADARSEMARANG.ID, Mungkid – Siswa-siswi SMP berikut guru hingga wali murid di salah satu sekolahan di Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang mengaku resah dengan teror yang dilakukan oleh seorang pelaku ekshibisionisme.
Teror ini dilakukan melalui video call whatsapp (WA) dengan aksi pornografi ditujukan kepada para siswa hingga wali murid sekolah tersebut. Pelaku memperlihatkan alat kelaminnya di hadapan orang.
CM, Waka Urusan Humas Sekolah terkait membenarkan hal tersebut. Ia menerangkan, kejadian tersebut berawal dari pesan chat dari nomor yang tidak dikenal dan diterima oleh salah satu guru kelas 7.
Melalui pesan chat whatsapp ini, pelaku meminta untuk dimasukkan ke grup kelas. Namun, setelah dimasukkan ke grup siswa, pelaku tersebut ternyata keluar dan meminta dimasukkan ke grup wali murid.
“Setelah dimasukkan ke grup, ternyata dia keluar lagi. Dan pelaku ini mengatakan ternyata yang dimaksud grup kelas IX. Setelah itu, pelaku berhasil mendapatkan kontak wali kelas IX dan melakukan hal yang sama,” jelas CM saat dikonfirmasi wartawan Rabu (18/10).
CM menyampaikan, selang beberapa hari setelah hal tersebut. Ada laporan dari siswa-siswinya, bahwa mereka mendapatkan terror berupa video call.
Namun, pelaku yang melakukan video call tersebut tidak memperlihatkan dirinya, melainkan secara tiba-tiba menunjukkan alat kelaminnya.
“Laporan yang kami terima dari para siswa, saat video call pelaku ini tidak memperlihatkan wajahnya. Melainkan layar hp-nya itu hanya hitam saja, namun tiba-tiba pelaku itu langsung menunjukkan kemaluannya. Dan ini juga menimpa wali murid bahkan beberapa guru saya,” terangnya.
CM juga mengatakan, karena siswa-siswinya ini juga sudah melek digital, mereka mencoba mencocokkan nomor tersebut. Dan ternyata hasilnya, nomor yang buat meneror tersebut sama.
“Teror ini dilakukan pada awal Oktober kemarin. Dan ini sangat meresahkan kami, serta dapat mengganggu dan mempengaruhi mental anak-anak,” tegasnya.
Sementara itu, salah satu wali murid kelas 9 yang disebutkan identitasnya mengatakan, untuk jumlah pasti siswa yang diteror ia tidak tahu.
Melainkan dari, total 30 siswa, hampir semuanya pernah dihubungi, baik melalui chat ataupun video call, baik perempuan maupun laki-laki.
“Pelaku ini juga tidak milih-milih. Ada satu siswa saya yang juga melaporkan kalau diteror, dengan dikirimi gambar penis dan juga sempat di video call. Anak-anak kami kaget, bahkan, ada yang sampai lemas, syok, hingga takut,” ujar guru itu.
Guru tersebut juga mengaku, menjadi sasaran teror pelaku. Baik saat rapat, saat mengajar, ia mengaku terus di telpon pelaku. Praktiknya serupa, layar di hp pelaku tampak gelap dan pelaku tidak menunjukkan sosoknya.
“Tapi, saya menyadari ada yang tidak beres. Saya matikan sambungan telepon, lalu saya blokir nomornya,” bebernya.
Pelaku seperti tak kurang akal. Dengan nomor yang berbeda, tapi praktik serupa, dia kembali menghubunginya. Bahkan sejumlah wali murid pun juga ada yang melaporkan hal sama.
“Saya sudah bertanya, tujuannya apa, dari mana, namanya siapa, namun pelaku tidak mengindahkan pertanyaan tersebut dan diam saja,” terang guru tersebut.
Guru tersebut menduga, pelaku bisa menghubungi banyak nomor karena sempat masuk dalam grup beberapa kali. Pelaku ditengarai mencatat berbagai nomor yang diketahui.
Sebagai langkah antisipasi, CM sudah melaporkan hal ini ke Polresta Magelang per 10 Oktober kemarin.
CM khawatir, dengan perkembangan teknologi yang mutakhir, pelaku justru dapat melakukan perbuatan yang lebih keji lagi. Misal, menampakkan seolah-olah siswa atau walinya memang berhubungan intim dengan pelaku.
Sementara itu, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Magelang, Kompol Rifeld Constantien Baba menyatakan, pihaknya saat ini masih menyelidiki dan mengumpulkan barang bukti perkara tersebut.
“Beberapa saksi sudah kami jadwalkan untuk pemeriksaan di Polresta Magelang,” pungkas Rifeld. (rfk/bas)
Editor : Baskoro Septiadi