Kepala Dusun Dadapan, Desa Mangli, Budi Sutanto mendengar langsung julukan itu. Sejujurnya, ia merasa tersindir. Apalagi kalimat tersebut tidak hanya dilontarkan satu atau dua orang saja. Melainkan dari banyak orang. "Ini sindiran yang cukup menggelitik, apalagi bagi daerah yang baru mengembangkan potensi wisatanya,” ungkap Budi akhir pekan lalu.
Menurut Budi, pembangunan infrastruktur di desanya tidak seirama dengan semangat warga mengembangkan potensi wisata. Kerusakan jalan ini terjadi sejak dua tahun lalu. Mulai dari Desa Kebonlegi yang berjarak 2 kilometer menuju wisata Desa Mangli. Banyak lubang berukuran besar di bagian kanan dan kiri jalan.
Persoalan lain, kata Budi, ruas jalan yang sempit dan terjal. Hanya mampu dilewati satu kendaraan roda empat. "Sulit buat manuver. Kalau papasan, terpaksa bergantian," sebutnya.
Kondisi itu makin parah ketika hujan. Jalanan menjadi licin. Lubang-lubang tergenang air. Membahayakan bagi pengendara. Belum lagi ada ancaman tanah longsor. "Memang sering terjadi kecelakaan," akunya.
Ia ingat, pernah ada petugas yang mengecek kondisi jalan. Tapi nyatanya, belum ada perbaikan sampai sekarang. Padahal jalur wisata ini sangat ramai dilewati berbagai jenis kendaraan bermotor. "Kalau tidak segera diperbaiki akan sangat berbahaya bagi para wisatawan dan masyarakat setempat," ucapnya.
Pegiat wisata Dusun Dadapan Totok juga berharap pemerintah segera merespons keluhan masyarakat ini. Ia memperkirakan jalanan yang rusak mencapai 3 kilometer. Lalu, 10 kilometer lainnya butuh dilebarkan. (put/ton) Editor : Agus AP