Seniman 43 tahun tersebut mengaku belajar melukis dari sang ayah. Waged nama ayahnya, dulu merupakan pelukis kaca dengan motif wayang. "Berawal dari ayah saya seorang pelukis kaca. Setiap hari saya membantu. Di rumah melihat ayah melukis dan secara tidak langsung saya mengamati, melihat, akhirnya coba-coba terus bisa," ujar Nugi panggilan akrabnya.
Bagi Nugi melukis dengan kaca cukup menarik. Karena butuh ketelitian, kerapian, detail, serta tantangan dalam kombinasi warna. Awalnya Nugi hanya melukis wayang di media kaca seperti ayahnya. Namun lambat laun ia bereksperimen. Menggambar dengan tema-tema lain. Mencari objek lukis di perkampungan, kadang juga di sawah. Untuk dituangkan dalam lukisan kaca.
Media kaca yang digunakan kecil. Rata-rata ketebalan kaca hanya 2 milimeter sampai 5 milimeter. Ia menggunakan cat besi dan kayu. Karena kedua jenis cat tersebut bisa menempel dengan baik di kaca. Melukis butuh kehati-hatian, sering ketika lukisan sudah hampir jadi, malah pecah.
"Karakter kaca mudah pecah. Kadang tinggal finishing malah pecah. Itu sudah risiko," katanya. Total sampai saat ini sudah ada 500 lukisan kaca yang dihasilkan. Selain melukis di kaca, Nugi juga biasa melukis di kanvas. Namun lebih dikenal sebagai pelukis kaca. (man/lis) Editor : Agus AP