Namun di musim pandemi, toko jahit miliknya sepi pesanan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bahkan ia harus menjual dua mesin jahit miliknya.
Diceritakan oleh Nur Hidayat, sebelum pandemi ia rutin membuat kaos pesanan dari seorang juragan kaos di daerah Borobudur. Kaos tersebut dijual di objek wisata Candi Borobudur. Dalam sehari, ia dipasrahi dua rol kain untuk dibuat lebih dari 300 kaos. Ia dibantu empat orang pekerja di tokonya.
Namun karena Candi Borobudur sempat tutup lama, ia pun tidak lagi mendapat pesanan membuat kaos. Mengingat tidak ada pengunjung Candi Borobudur yang datang. Empat orang pekerjanya pun tidak lagi dipekerjakan, mengingat pemasukannya turun drastis.
"Sekarang kalau ada pesanan garap sendiri, soalnya pesanan kadang ada, kadang tidak. Pemasukan pun turun hampir 70 persen lebih," ujar pria 35 tahun ini.
Kini di rumahnya hanya tersisa dua mesin jahit, setelah di awal 2021 ia menjual dua mesin jahit yang lain. "Karena ada tunggakan dan untuk kebutuhan sehari-hari mau tidak mau ya harus mengorbankan mesin jahit untuk dijual. Total mendapat uang Rp 5,3 juta," kata Nur hidayat.
Menurutnya, untuk saat ini ia lebih sering hanya mendapat pesanan untuk permak pakaian, dengan pemasukan yang pas-pasan. Mulai Rp 7 ribu sampai Rp 15 ribu per pakaian. Sedangkan untuk pesanan membuat pakaian jarang.
Paling-paling pesanan membuat pakaian hanya satu sampai dua perbulan. Kepada wartawan koran ini Nur Hidayat menunjukkan satu seragam sekolah yang tengah ia garap. Setelah dimulainya pembelajaran tatap muka. (man/ton)
Editor : Agus AP