Mura mengaku, ide membuat Tiwul Lava Merapi dirintisnya sejak Agustus 2020. Saat itu pendapatannya berkurang, setelah objek wisata Candi Borobudur ditutup karena pandemi Covid-19. Selain menjadi pegawai Balai Konservasi Borobudur (BKB) ia juga guide bagi wisatawan. "Pada saat itu istri saya bilang kalau jualan tiwul kayaknya lumayan," ujar Mura.
Kebetulan sang istri juga orang Gunung Kidul, yang khas dengan jajanan tiwul. Lantas Mura pun berinovasi, dengan membentuk tiwul seperti Gunung Merapi karena berada di wilayah Magelang. "Inspirasinya memang dari Gunung Merapi, puncaknya kan itu ada lavanya. Jadi kalau diiris gula jawa akan lumer seperti lava Merapi," jelas Mura, sambil tersenyum.
Kata Mura, selama sekitar satu tahun banyak para pembeli yang datang. Selain karena bentuknya yang unik juga teskturnya juga lembut. Bahannya yakni tepung gaplek, kelapa dan gula jawa. Tidak memakai bahan pengawet. Satu gunungan tiwul dibuat dalam kurun waktu 10 menit.
Satu gunungan Tiwul Lava Merapi dijualnya dengan hargan Rp 15 ribu. Rata-rata dalam sehari ia bisa menjual 20 gunungan. (man/ton) Editor : Agus AP