Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Batik Borobudur Tetap Bertahan

Agus AP • Selasa, 8 Juni 2021 | 20:30 WIB
Para model memperagakan busana batik Chedro Orlando dengan desain glamour look yang didominasi red elegant atau warna merah menyala penuh semangat dalam memperingati Hari Batik Nasional bertema Batik Specta Nusantara. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Para model memperagakan busana batik Chedro Orlando dengan desain glamour look yang didominasi red elegant atau warna merah menyala penuh semangat dalam memperingati Hari Batik Nasional bertema Batik Specta Nusantara. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID, Mungkid – Usaha Batik Tulis Dewi Wanu yang dikelola sekelompok ibu rumah tangga di Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Magelang, mulai menggeliat. Meskipun masih belum seberapa.

Setelah vakum sejak awal pandemi Covid-19, tahun 2021 ini mereka kembali kedatangan tamu. Ketua Batik Tulis Dewi Wanu Suprianti mengatakan, pada Februari ada 20 tamu dari Kalimantan. Kemudian pada April, ada tujuh tamu dari Jawa Timur.

“Setelah itu belum ada kunjungan lagi. Tapi kemarin kami sudah ikut pameran lagi di hotel,” ujar Suprianti kepada Jawa Pos Radar Magelang, Senin (7/6/2021) siang.

Sebelum pandemi, pihaknya sering terlibat dalam pameran. Minimal sebulan satu kali. Termasuk mengikuti even Inacraft di Jakarta. Ketika di balai ekonomi desa (balkondes) ada even bagus, mereka juga menggelar pameran di sana.

Sementara selama setahun pandemi, terpaksa prihatin. Nihilnya tamu membuat mereka tidak bisa berbuat banyak. Pemberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) juga membuat pelatihan dengan para pelajar dari sekolah ditunda.

Penjualan secara daring sebetulnya dilakukan. Namun hasilnya tidak seberapa. Sebab, selama ini pihaknya mengandalkan kunjungan tamu untuk pelatihan di galeri. Mengingat Batik Dewi Wanu merupakan bagian dari wisata edukasi dalam paket wisata Desa Wisata Wanurejo.

Dalam sebulan, setidaknya ada 200 kunjungan ke kelompok usaha yang  berdiri sejak 2014 ini. Baik dari wisatawan domestik maupun mancanegara.  “Malah pernah sehari ada 400 tamu,” ujar Indar.

Dengan konsep desa wisata, maka ketika wisatawan berkunjung, mereka lantas belajar membatik. Di sana sudah dipersiapkan kain berpola, lengkap dengan perkakas perlengkapan membatik. Wisatawan diajari membuat batik dari proses nyanting, pewarnaan, hingga finishing.

Batik-batik yang diproduksi merupakan batik Borobudur. Sesuai namanya, motif batik ini terisnpirasi dari ornamen-ornamen yang ada di Candi Borobudur. Dengan pendampingan dari UNESCO, batik tersebut menjadi sektor wisata yang berpusat di Dusun Barepan. “Kami juga berharap dilibatkan dalam KSPN. Sehingga sebagai warga lokal kami bisa turut berkembang,” pungkasnya. (rhy/lis)

  Editor : Agus AP
#Batik Borobudur