RADARSEMARANG.ID, Magelang - Idul Adha menjadi momentum bahagia bagi umat muslim yang merayakannya.
Hari Raya Idul Adha selalu menjadi momen untuk menikmati hidangan yang berlimpah dengan menu masakan daging kambing atau sapi sebagai menu utamanya. Tidak jarang, sisa daging disimpan dalam mesin pendingin untuk dimasak beberapa hari kemudian.
Meski mumpung lagi banyak stok daging di rumah, bukan berarti, masyarakat harus mengonsumsinya secara terus-menerus. Sekalipun daging sapi dan kambing memiliki gizi yang baik untuk tubuh, konsumsi jenis daging tersebut disarankan dari sedikit demi sedikit.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Magelang dr Istikomah menyarankan untuk tidak mengonsumsi daging dalam jumlah yang berlebihan. Mengonsumsi daging kambing dalam jumlah banyak bisa meningkatkan tekanan darah dan kadar kolesterol dalam darah.
Oleh karenanya, bagi mereka yang mempunyai riwayat penyakit kolesterol tinggi dan hipertensi sebaiknya hati-hati. "Pada prinsipnya sesuatu yang berlebihan itu tidak baik," kata Istikomah, Selasa (25/6/2024).
Masyarakat harus memahami, bahwa menjaga asupan makanan agar tetap seimbang harus diperhatikan agar badan tetap sehat.
Dan bagi warga yang mengonsumsi daging olahan kurban untuk tidak lupa mengimbangi dengan sayuran dan buah-buahan.
"Mengonsumsi makanan yang seimbang dan olahraga teratur bisa meminimalisir berbagai penyakit," ujarnya.
Kata Istikomah, tidak hanya daging kambing yang perlu diwaspadai. Daging sapi pada bagian tertentu pun mengandung lemak yang bisa menyebabkan kolesterol tinggi dan juga asam urat.
Selain itu, daging sebaiknya dimasak sehingga menjadi lebih empuk agar tidak mengganggu pencernaan.
"Yang tidak boleh dilupakan, prinsip pengendalian konsumsi gula, garam dan minyak dalam diet sehari-hari. Bisa jadi peningkatan tekanan darah dan kadar kolesterol setelah mengonsumsi masakan, karena penggunaan garam dan minyak dan lemak yang berlebihan saat mengolah makanan, termasuk masakan dari daging," paparnya.
Ia pun mengimbau bagi masyarakat yang sudah merasakan gejala sakit setelah mengonsumsi daging, agar berkonsultasi kepada dokter puskesmas. Jika sudah memiliki riwayat penyakit, disarankan untuk tetap kontrol rutin.
"Bagi yang memang sudah hipertensi dan penyakit kronis lainnya, sebaiknya tetap kontrol secara rutin, minum obat rutin sesuai anjuran dokter. Apalagi bila bergejala," ungkapnya.
Terpisah, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Magelang Maya Susanti menjelaskan, pengobatan penyakit hipertensi dan kolesterol ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Ia pun mengimbau, apabila masyarakat merasakan gejala sakit dapat langsung melakukan pemeriksaan dini di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) terdekat.
Menurut Maya, hipertensi yang diketahui sejak awal bisa diobati dengan lebih cepat. Namun jika hipertensi dibiarkan, bisa menyebabkan komplikasi atau kerusakan pada organ tubuh lainnya.
Di samping itu, penderita penyakit hipertensi memiliki tingkat kepatuhan kontrol yang rendah. Tidak mengherankan, jika penyakit hipertensi berubah menjadi penyakit yang berbiaya mahal.
"Penderita hipertensi harus minum obat darah tinggi meski merasakan badannya sehat. Tujuannya adalah untuk mengontrol tekanan darah," jelasnya.
Mengerikannya, hipertensi bisa menyebabkan stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan penyakit mematikan lainnya. Karena itu, penderita harus meminum obat tekanan darah seumur hidup, sejak diagnosa penyakit ditegakkan.
Sebagai upaya menangani penyakit kronis seperti hipertensi, pihaknya memiliki program Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis). Penyakit yang masuk dalam Prolanis adalah hipertensi, diabetes melitus tipe 2.
Prolanis merupakan sistem pelayanan kesehatan dengan pendekatan proaktif yang melibatkan banyak unsur. Yakni peserta JKN, fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), dan BPJS Kesehatan. Prolanis ini dibentuk dalam rangka pemeliharaan kesehatan bagi peserta JKN yang menderita penyakit kronis, agar mencapai kualitas hidup yang optimal. Serta menekan biaya pelayanan kesehatan menjadi lebih efektif dan efisien.
"Kegiatan prolanis ini menyenangkan, ada senam bersama, cek kesehatan, sosialisasi, dan lainnya," pungkasnya. (put/web/bas)
Editor : Baskoro Septiadi