RADARSEMARANG.ID, MAGELANG — Hari Jadi ke-1118 Kota Magelang jatuh pada 11 April 2024 lalu, bertepatan dengan Lebaran hari kedua.
Rencananya, puncak acara hari jadi akan digelar Minggu (28/4) mendatang. Puncak hari jadi ini selain digelar upacara bendera, juga digelar Festival Gethuk dan Grebeg Gethuk di Alun-alun Kota Magelang.
HUT kali ini mengusung tema “Berkarya Unggul untuk Maju, Sehat, dan Bahagia”. Sementara logo hari jadi lebih warna-warni.
Ketua Umum Panitia Peringatan Hari Jadi ke-1118 Kota Magelang Hamzah Kholifi mengatakan, tema dan logo tersebut sarat makna.
Warna oranye muda melambangkan keceriaan, kebahagiaan, energi, ceria, dan harapan. Warna hijau melambangkan alam yang bersih dan berkaitan dengan pembaharuan kota. Sedangkan warna biru melambangkan keteraturan, keamanan, cerdas, dan rileks.
“Sementara angka 8 berwarna merah dengan gambar orang di tengah melambangkan penuh semangat dalam mencapai visi misi Kota Magelang, yaitu Maju Sehat dan Bahagia,” jelasnya.
Seperti diketahui, Hari Jadi Kota Magelang yang jatuh pada 11 April 907 Masehi ditetapkan berdasarkan Perda Kotamadya Daerah Tingkat II Magelang Nomor 6 Tahun 1989 tentang Penetapan Hari Jadi Kota Magelang.
Penetapan ini merupakan tindak lanjut dari seminar dan diskusi yang dilaksanakan oleh Panitia Peneliti Hari Jadi Kota Magelang bekerja sama dengan Universitas Tidar Magelang, yang kemudian dilanjutkan dengan pembahasan pada Sidang Pleno DPRD Kotamadya Dati II Magelang ke-9 pada 6 April 1989.
Kota Magelang mengawali sejarahnya sebagai desa perdikan Mantyasih. Saat ini dikenal dengan Kampung Meteseh di Kelurahan Magelang. Mantyasih memiliki arti beriman dalam cinta dan kasih.
Di Kampung Meteseh terdapat sebuah lumpang batu yang diyakini sebagai tempat upacara penetapan Sima atau perdikan.
Untuk menelusuri kembali sejarah Kota Magelang, sumber prasasti yang digunakan adalah Prasasti Poh, Prasasti Gilikan, dan Prasasti Mantyasih. Ketiganya merupakan prasasti yang ditulis di atas lempengan tembaga.
Kota Magelang kemudian berkembang, selanjutnya menjadi Ibukota Karesidenan Kedu. Juga pernah menjadi Ibukota Kabupaten Magelang.
Setelah masa kemerdekaan, kota ini menjadi kota praja dan kemudian kotamadya di era reformasi. Sejalan dengan pemberian otonomi kepada daerah, sebutan kotamadya ditiadakan dan diganti menjadi kota.
Kota Magelang juga pernah menjadi pusat pemerintahan setingkat kabupaten, ketika Inggris menguasai Koloni Belanda di Indonesia tahun 1815.
Diangkatlah bupati pertama dengan gelar Raden Tumenggung Danu Ningrat I. Bupati ini pula yang merintis berdirinya Kota Magelang dengan membangun alun-alun, bangunan kantor bupati, masjid, dan tempat indah lainnya.
Dalam perkembangannya, dipilihlah Magelang sebagai Ibukota Karesidenan Kedu pada tahun 1818.
Setelah Pemerintah Inggris menyerahkan kembali koloni jajahannya kembali kepada Belanda, kedudukan Magelang semakin kuat.
Kota ini dijadikan pusat perekonomian dan dijadikan Ibu Kota Karesidenan Kedu dengan Staadblad Nomor 125 Tahun 1906 yang berlaku mulai 1 April 1906 dengan nama Gementee Magelang.
Selanjutnya, pemerintah Belanda melengkapi sarana dan prasarana perkotaan dengan membangun menara air minum di tengah kota tahun 1918.
Lalu membangun perusahaan listrik beroperasi tahun 1927, jalan-jalan arteri diaspal. Dan pada tahun 1929, Gementee Magelang berubah menjadi Staatgementee Magelang. (put/aro)
Editor : Tasropi