Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Bikin merinding! Kisah Mualaf Kwee Giok Yong Pemilik Masjid Al-Mahdi Magelang, Ucap 2 Kalimat Syahadat Pada 17 Ramadan

Puput Puspitasari • Kamis, 21 Maret 2024 | 21:19 WIB

 

Fasad bangunan Masjid Al-Mahdi bergaya arsitektur Tiongkok. Mahdi atau Kwee Giok Yong, pemilik Masjid Al-Mahdi Kota Magelang dijumpai di rumahnya, yang berada di sebelah masjidnya.
Fasad bangunan Masjid Al-Mahdi bergaya arsitektur Tiongkok. Mahdi atau Kwee Giok Yong, pemilik Masjid Al-Mahdi Kota Magelang dijumpai di rumahnya, yang berada di sebelah masjidnya.

RADARSEMARANG.ID - Masjid Al-Mahdi di Kota Magelang memiliki gaya arsitektur unik yang justru menyerupai kelenteng.

Masjid yang terletak di Jalan Delima, Komplek Perumahan Armada Estate, Magelang Utara itu memiliki warna dominan merah dengan aksen kuning. Bangunannya juga mirip selayaknya bangunan kelenteng.

Menara masjid juga di desain seperti bangunan pagoda. Ada juga pernak pernik lampion merah yang menghiasi bangunan.

Sehingga sekilas, orang yang melihat tidak akan mengetahui jika bangunan tersebut ternyata Masjid.

Ide membangun masjid bergaya tiongkok ini dibuat Kwee Giok Yong, seorang mualaf keturunan tionghoa.

Nama AL-Mahdi pada masjid pun bersejarah bagi diri Kwee Giok Yong. Sebab nama tersebut dipilih untuk mengabadikan namanya setelah memeluk Islam pada usia 10 tahun.

Nama Al-Mahdi merupakan pemberian Habib Muhammad bin Hasan Alaydrus. Ia adalah ulama yang menuntunnya mengucapkan dua kalimat Syahadat pada 17 Ramadan. Sejak saat itu, ia lebih senang dipanggil Mahdi.

“Karena Mahdi memiliki arti yang baik. Artinya orang yang mendapat hidayah atau petunjuk,” katanya.

Masjid Al-Mahdi dibangun pada 1 Agustus 2016. Nuansa Islami baru terasa saat memasuki masjid. Pada bagian dinding dan mimbar, dihiasi kaligrafi.

Namun demikian, masjid ini hanya mampu menampung 110 jamaah. Di saat pelaksanaan salat Jumat, jamaahnya mencapai 250 orang, sampai meluber ke jalan.

Karena keunikannya, masjid ini menjadi daya tarik wisata religi di Kota Magelang. Mahdi mengaku diajak Pemkot Magelang untuk mengembangkan wisata religi di Kota Getuk.

Jauh sebelum keinginan pemkot itu ditawarkan pada dirinya, hal itu sudah berjalan secara alami. 

“Banyak ibu-ibu majelis taklim di Jogja, Boyolali, dan lainnya, datang ke sini untuk wisata religi. Namun tidak sekadar foto-foto, kita berikan kajian 30 menit, setelah itu baru foto-foto dan melaksanakan salat di sini juga,” terangnya. 

Ia ingin, masjid ini selalu ramai didatangi masyarakat yang ingin beribadah. Karena itu, ia selalu menjaga kebersihan masjid, agar jamaah merasa nyaman dan tenang beribadah di masjid.

 

Penamaan Masjid Al-Mahdi, diakui Kwee Giok Yong alias Mahdi karena untuk menyandang nama tersebut penuh dengan perjuangan.

Ya, ia harus berjuang karena keluarganya rata-rata menganut ajaran Konghucu. Ketika kecil ia tinggal di Jakarta. Sebagian besar teman-temannya beragama Islam.

Setiap Maghrib, suasana di sekitar rumahnya menjadi sepi. Teman-temannya melaksanakan salat berjamaah dan mengaji di masjid.

“Akhirnya saya ikut ke masjid. Melihat dan mendengarkan mereka mengaji, hati saya terasa lebih tentram,” ungkapnya bercerita.

Hal itulah yang menuntunnya memperdalam ajaran Islam dan akhirnya masuk Islam. Saat Masuk Islam, ia sempat menyembunyikan dirinya masuk Islam dari sang Ayah. Sementara ibunya selalu menjaga Mahdi, ketika dirinya menunaikan salat.

Pun saat Ramadan, Mahdi diminta menahan 5-15 menit untuk menahan buka puasa. Sampai ayahnya pergi atau tidak melihatnya berbuka.

“Saya ingat betul, ibu selalu melindungi saya,” ucapnya tersenyum, mengenang masa-masa itu.

Pun saat khitan atau sunat. Ia sempat terpaksa harus berbohong pada ayahnya. Ia pamit akan mengikuti pertandingan basket di luar kota selama dua hari.  Tapi lambat laun, akhirnya sang ayah mengetahui Mahdi menjadi muslim.

Namun ia ingat betul pesan dari Habib Muhammad, bahwa sebagai umat Islam harus berbakti kepada orang tua.

Ia juga mengungkapkan, sebelum dirinya memeluk Islam, dua kakaknya terlebih dulu mualaf.

Kakak pertamanya mengubah namanya menjadi Taufiq, kakak nomor dua menjadi Hidayat.

 Setelah menjadi muslim, pria asal Surabaya ini tidak pernah kepikiran ingin membangun masjid.

“Waktu umur 10 tahun, mimpi saya nggak muluk-muluk. Sudah masuk Islam, sudah sangat luar biasa, itu keinginan terbesar saya,” tuturnya.

Bahkan berandai-andai pun tidak. Bisa dibilang, ekonomi keluarga Mahdi pada saat itu cukup pas-pasan.

Ayahnya seorang sopir bus malam. Sementara ibunya tukang jahit. Ia juga delapan bersaudara. “Secara ekonomi, memang di bawah. Jangankan bangun masjid, makan saja sulit,” akunya.

Mahdi ingat betul saat mengalami masa-masa sulit. Ia merasakan lapar, makan nasi hanya sehari sekali.

“Kalau nggak kuat beli beras, makan singkong. Tapi Alhamdulillah, berjalannya waktu dan atas kehendak Allah, saya bisa membangun masjid di sini (Kota Magelang, Red),” ucapnya tersenyum. (put/bud)

Editor : Baskoro Septiadi
#Magelang #Masjid Al-Mahdi #kelenteng