RADARSEMARANG.ID, Magelang – Bunga dari pohon tabebuya atau handroanthus chrysotrichus pada umumnya akan mekar saat musim kemarau.
Atau puncaknya sekitar Juli hingga September. Tapi, tahun ini, bunga tabebuya di Magelang mekar tiga kali dalam satu tahun. Dugaannya karena fenomena musim kemarau yang berkepanjangan.
Tanaman yang memiliki kemiripan dengan bunga sakura ini diketahui tumbuh merata dan menyebar di berbagai titik jalan protokol di Magelang.
Termasuk di di sepanjang median jalan mulai dari kawasan Artos Magelang sampai Palbapang, Mungkid. Juga di Jalan Soekarno-Hatta kawasan Sawitan, Mungkid, Kabupaten Magelang.
Kepala Bidang Pengkajian Dampak dan Penataan Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magelang Joni Budi Hermanto menuturkan, mekarnya tabebuya pada bulan ini menandakan fenomena alam yang luar biasa.
Dia menyebut, pada Juni-Juli dan Agustus-September lalu, pohon itu sudah berbunga. Karena memang periode mekarnya tabebuya lazim terjadi satu hingga dua kali dalam satu tahun.
"Saya agak bingung, apakah karena musim kemarau yang berkepanjangan atau karena ditopang kondisi tanaman cukup lama," ucapnya.
Dia menduga, fenomena mekarnya tabebuya tiga kali dalam satu tahun ini disebabkan oleh musim kemarau panjang.
Sehingga membuat pohon itu berbunga. Sebab karakteristik tabebuya ini cenderung lebih berbunga saat cuaca panas.
Adapun penanaman tabebuya mulai dari Artos sampai Palbapang dilakukan sejak 2014 lalu. Sementara di Jalan Pemuda, Muntilan dan Jalan Soekarno-Hatta, Sawitan ditanam sekitar 2017.
"Biasanya (mekar) setahun sekali. Di bulan Juli-Agustus. Tapi, kemarin maju. Di Juni, sudah berbunga," terang Joni.
Sementara pada 2022 lalu, pohon tabebuya di Magelang hanya berbunga sekali. Dia menyebut, kemungkinan pohon itu berbunga dua kali hanya 10 persen saja.
Tepatnya pada Juli-Agustus dan September-Oktober. Namun, ketika September sudah turun hujan, praktis bunga tabebuya tidak akan tumbuh dua kali. (rfk/ton)
Editor : Baskoro Septiadi