Meski usahanya ini baru berjalan dua tahun, pelanggannya tidak hanya dari Magelang. Tapi juga Temanggung dan Jogjakarta.
Ia bercerita, usaha buket ini dimulai tahun 2022. Saat itu masih pandemi Covid-19. Usaha ini dimulai sejak dirinya memberanikan diri membuka toko di Gunungpring, Muntilan, Kabupaten Magelang. Karyawannya pun masih dua orang. Penjualan buket juga belum menggembirakan.
“Saya masih pakai sistem pre order (PO), karena belum berani produksi banyak,” kata Febri—sapaan akrabnya, Sabtu, (9/9/2023).
Febri mengevaluasi diri. Cepat-cepat membenahi diri. Ia sadari lemah dari segala hal.
Baik dari manajemen keuangan, produksi, pemasaran, dukungan sumber daya manusia (SDM), sampai dengan kejelasan kontrak dengan karyawan.
Pikirannya pun terbuka ketika mengikuti pelatihan berjenjang di Balai Pelatihan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (Balatkop UKM) Provinsi Jawa Tengah.
Pelatihan itu diselenggarakan oleh Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah secara gratis. Ia didampingi langsung oleh mentor dari BHMTC Indonesia, yakni Bio Hadikesuma.
“Saya berterima kasih kepada Pak Ganjar Pranowo, karena saat beliau menjadi Gubernur Jawa Tengah, sangat perhatian dengan UMKM. Pelatihannya tidak sekali pelatihan langsung dilepas, tapi benar-benar ada kelanjutannya dan pelatihan di Balatkop membuat UMKM punya jiwa pengusaha,” ucapnya.
Sepulang dari pelatihan, ia merombak manajemen bisnis yang belum pernah dilakukan.
Ia mulai menata laporan keuangan, stokis, dan menambah jumlah karyawan menjadi tujuh orang.
“Dulu saya senang menulis omzet di buku, sekarang beradaptasi ke komputerisasi,” terang pemilik usaha Sejoli Craft itu.
Ia merasakan ada perbedaan setelah itu. Usaha dikelola lebih profesional. Pelanggan pun berdatangan.
Dengan menambah jumlah karyawan, ia bisa memproduksi 60 buket per hari. Sehingga mampu memenuhi permintaan konsumen dengan cepat.
“Di momen wisuda, saya mampu menjual 1.200 buket selama dua bulan,” akunya.
Isteri Imam Cahyono ini sudah persiapan untuk Hari Guru Nasional. Kemudian mempersiapkan stok untuk Natal 2023, Valentine dan Lebaran 2024.
“Selain itu, kami juga masih menerima pesanan buket untuk momen lainnya, seperti untuk hadiah anniversary. Setiap bulan pasti ada yang pesan,” imbuhnya.
Febri optimistis, kedepan usahanya makin berkembang. Apalagi dirinya mengandeng generasi Z (Gen-Z) yang kreatif dan melek teknologi untuk memperkuat usahanya. Ia juga memberdayakan disabilitas.
“Kita tidak akan berhenti berinovasi, jeli melihat peluang pasar, dan kita punya target zero complaint,” ucapnya bersemangat.
Melalui usahanya ini, ia juga ingin melatih Gen-Z sebagai generasi yang tangguh dan terampil. Ia pun membebaskan para karyawannya untuk berkreasi.
Sehingga nantinya, mereka bisa mengikuti jejaknya untuk berwirausaha. “Mereka harus jadi Gen-Z struggle,” pungkasnya.
Adapun buket yang dijualnya antara lain, buket bunga, uang, makanan ringan, kopi, jilbab, boneka, dan lainnya. Harga buket mulai dari Rp 35 sampai Rp 500 ribu. (put/web/bas)