Orkestra Kluntung sekarang dijadikan kegiatan ekstrakurikuler di SMP Negeri 4 Magelang. Grup kesenian tradisional ini terbentuk pada 2008. Penggagasnya empat orang guru setempat. Salah satunya Sri Murwaningsih, guru seni dan budaya SMP Negeri 4 Magelang. Tiga guru lainnya adalah almarhum Bambang Haryanto, serta Titik Supiyani dan Edi Yusuf Murohmat.
“Untuk Ibu Titik dan Pak Edi sekarang sudah pindah sekolah. Praktis, tinggal saya sendiri di SMPN 4 ini,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Sri menceritakan, awal terbentuk grup musik orkestra ini diawali oleh almarhum Bambang Haryanto. Selain menjadi guru, Bambang juga bekerja sebagai biro wisata. Saat melakukan kunjungan di Banyumas, Bambang berpapasan dengan arak-arakan grup musik di jalan yang bernama Tek-Tek Angklung.
“Waktu itu, almarhum Pak Bambang bercerita ke saya. Kalau dirinya bertemu grup musik unik, yakni Tek-tek angklung. Dan dirinya ingin mencoba membuat grup musik seperti itu di sini,” cerita Sri saat ditemui di SMP Negeri 4 Magelang.
Berjalannya waktu, untuk memberikan ciri khas grup musik ini, Titik Supiyani, guru seni tari, memberikan ide untuk menambah dan memadukan alat musik di grup Tek-tek angklung dengan alat musik truntung dan alat musik lainnya, seperti bass drum, kenong, saron, kendang, dan gong.
“Dari perpaduan ini muncul suara yang rampak dan melodinya kita ambil dari tek-tek angklung. Dari berbagai alat musik ini, kita ambil singkatan menjadi Kluntung. Nama Klunthung ini akhirnya menjadi nama grup orkestra di sini,” jelasnya.
Pada 2011, grup musik Klunthung diresmikan oleh Ketua DPRD Kota Magelang HM Hasan S. Setelah diresmikan, berbagai undangan mulai berdatangan. Grup musik orkestra Klunthung mulai dikenal masyarakat. “Setiap ada event, terutama saat event di Kota Magelang, kita selalu mengiringi,” ujarnya.
Grup musik ini bisa dimainkan empat sampai lima orang saja. Namun bisa dimainkan 10 orang, bahkan 50 orang. Grup orkestra ini, selain bisa memainkan lagu mars sekolah, juga lagu-lagu daerah, lagu pop, dan biasanya lagu dari band Wali.
“Kita juga bisa mengiringi berbagai seni tari, baik tari soreng maupun seni tari topeng ireng,” katanya.
Berbagai gelaran musik pernah menjadi bukti adanya grup musik orkestra ini. Seperti pentas HUT ke-1104 Kota Magelang, pentas di Purbalingga, pentas di kemah kebangsaan tingkat provinsi di Armed 11, dan waktu Gunung Merapi meletus grup ini rutin mengisi dan menghibur masyarakat di tempat pengungsian.
Puncaknya, mewakili anjungan Jawa Tengah, grup musik Kluntung bisa tampil di Taman Mini Indonesia Jakarta. “Waktu itu, untuk mengiring tari topeng ireng,” ujarnya.
Namun kondisi surut dialami grup ini setelah Bambang Haryanto meninggal dan dua guru lainnya, yakni Titik Supiyani dan Edi Yusuf Murohmat pindah ke sekolah lain. Grup musik ini mengalami mati suri. “Sekarang kita mencoba mempertahankan grup musik ini. Alhamdulillah, terbentuk lagi tahun 2021 setelah ada kurikulum merdeka,” ucapnya.
Sri mengatakan, saat ini grup inti musik Kluntung ada 20 personel, dan ada beberapa siswa tambahan. Ia mengaku, meski grup musik ini pernah mencapai masa kejayaan dan tampil di mana-mana, namun saat ini dirinya mulai dari awal lagi. Ia mulai menumbuhkan minat kepada para siswa terhadap musik tradisional ini.
“Untuk saat ini kami fokus untuk latihan dan mematangkan grup terlebih dahulu,” katanya.
Tidak menutup kemungkinan, kata dia, dalam waktu dekat akan ada penampilan grup Kluntung ini. Namun masih sebatas sekitar sekolah dulu. “Kita berharap ada support dan dukungan dari Pemerintah Kota Magelang,” harapnya. (rfk/aro)
Editor : Agus AP