Uniknya, jamaah yang mengikuti semaan atau membaca dan menyimak Alquran rata-rata berusia 50 sampai 60 tahun. Setiap hari diikuti 50-an orang. Beralaskan karpet dengan beberapa meja kayu panjang, mereka menyimak bacaan Alquran yang dipimpin Gus Adib. Dia adalah satu pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Gus Adib menjelaskan, tradisi ini ada sejak 1950-an yang dipimpin kakeknya, KH Nawawi Abdul Azis. “Kakek di sini 50 tahun, 10 tahun paman, dan selama dua tahun sempat dipimpin santri. Saya sudah delapan tahun,” ujarnya kepada wartawan Radar Magelang.
Semaan di Masjid Agung Kota Magelang berlangsung sejak hari pertama Ramadan hingga tujuh hari sebelum Lebaran. Gus Adib menjelaskan dalam waktu 23 hari, harus khatam sekali pada salat Tarawih, tadarus malam sekali khatam, dan tadarus siang dua kali khatam. “Tanggal 10 Ramadan khatam pertama dan tanggal 20 khatam kedua,” paparnya.
Dia menambahkan, pada 2020 lalu tradisi semaan sempat vakum lantaran ada larangan dari pemerintah untuk melaksanakan kegiatan yang sifatnya berkerumun. Kini, setelah Covid mereda, tradisi itu kembali berjalan. “Dulu diikuti banyak jamaah dan selalu penuh. Namun, sekarang kita batasi hanya sekitar 40 sampai 50 saja,” ujarnya.
Sementara itu, salah seorang jamaah, Mundakir mengaku usai mengikuti semaaan hatinya menjadi tenang. Tidak lapar, hanya merasa ngantuk. (rfk/lis) Editor : Agus AP