Yunus Listiannendra, pengurus IEA Magelang mengatakan, selama pandemi ini mereka bisa mengawal sekitar sampai 6 sampai 8 ambulans. Bahkan sehari pernah 12 ambulans. Biasanya mereka berkoordinasi dengan para sopir ambulans yang ada di rumah sakit, terkait pengawalan. "Kami sukarela tanpa meminta imbalan satu rupiah pun," ungkap Yunus.
Kata Yunus, dalam satu pengawalan idealnya ada 5 sepeda motor yang mengawal ambulans. Dua di belakang dan tiga di depan. Agar ambulans bisa berjalan lancar. Namun kadang juga tidak sampai 5 sepeda motor. Di IEA Magelang terdapat 25 anggota. Mereka bergantian dalam mengawal ambulans. "Jadi gantian Mas, siapa yang nggak ada kegiatan ya ngawal," imbuh Yunus.
Selama ini kebanyakan yang dikawal adalah ambulans pembawa jenazah maupun pasien dalam keadaan darurat. Mereka melakukan pengawalan terutama di saat jam-jam padat. "Kalau tengah malam kami tidak melakukan pengawalan karena kan jalanan sepi," tandas Yunus.
Yunus menambahkan, dalam merekrut anggota, pihak tidak asal-asalan. Selain harus memiliki SIM C anggota juga terlebih dahulu diberikan pelatihan dan materi. Sebelum nantinya bisa terjun ke lapangan untuk mengawal ambulans. “Jadi ada pelatihan khususnya. Kami tetap memprioritaskan keselamatan di jalan. Rata-rata anggota kami masih muda di bawah 30 tahun," kata Yunus. (man/ton)
Editor : Agus AP