RADARSEMARANG.ID, Gaslighting tidak selalu muncul dalam pertengkaran besar atau konflik dramatis.
Sering kali, perilaku ini justru muncul secara halus dalam kehidupan sehari-hari, bahkan tanpa disadari oleh pelaku maupun korban.
Manipulasi emosional ini bisa terjadi dalam obrolan biasa, lewat kalimat-kalimat sederhana yang terdengar “wajar”, seperti:
- “Kamu terlalu sensitif sih.”
- “Mungkin kamu salah ingat.”
- “Aku nggak pernah bilang seperti itu.”
Kalimat-kalimat semacam ini, jika diucapkan berulang kali, dapat membuat seseorang perlahan meragukan ingatan, perasaan, dan penilaian dirinya sendiri.
Apa Itu Gaslighting?
Gaslighting adalah bentuk manipulasi psikologis di mana seseorang berusaha membuat orang lain mempertanyakan realitas, ingatan, atau persepsinya.
Tujuannya adalah agar korban kehilangan kepercayaan diri dan lebih bergantung pada versi “kebenaran” yang dibuat oleh pelaku.
Perilaku ini sulit dikenali karena tidak selalu dilakukan dengan bentakan atau ancaman kasar.
Gaslighting biasanya berlangsung secara bertahap melalui pola percakapan yang berulang, seperti menyangkal fakta, memutarbalikkan kejadian, atau memindahkan kesalahan kepada korban.
Pola Gaslighting yang Sering Muncul
Saat terjadi masalah, alih-alih membahas solusi, pelaku gaslighting cenderung mengalihkan pembicaraan menjadi “siapa yang salah”.
Alih-alih menyelesaikan masalah, fokus berubah menjadi pembelaan ego.Contohnya, ketika korban mencoba mengingatkan kesalahan, pelaku akan menjawab, “Aku nggak pernah bilang begitu,” atau “Kamu selalu berlebihan.”
Lama-kelamaan, korban akan berpikir, “Mungkin aku yang salah ingat” atau “Mungkin aku memang terlalu sensitif.”Meski demikian, tidak semua kalimat di atas otomatis berarti gaslighting.
Kadang memang ada kesalahpahaman atau salah ingat. Perbedaannya terletak pada pola yang berulang dan niat untuk mendominasi serta membuat pihak lain merasa bersalah terus-menerus.
Dampak Gaslighting Jangka Panjang
Jika dibiarkan berlanjut, gaslighting dapat menyebabkan korban mengalami:Kehilangan kepercayaan diri
- Rasa cemas berlebihan
- Kesulitan mengambil keputusan
- Ketergantungan emosional pada pelaku
Membangun Komunikasi yang Sehat
Komunikasi yang baik bukan tentang siapa yang benar atau salah, melainkan saling menghargai perspektif masing-masing.
Ciptakan ruang diskusi di mana kedua belah pihak merasa aman untuk mengungkapkan perasaan tanpa takut disalahkan atau diragukan ingatannya.
Jika Anda sering mengalami pola ini dalam hubungan, ada baiknya untuk mencari perspektif dari orang ketiga yang netral atau profesional. (tas)
Editor : Tasropi