Gaslighting: Manipulasi Emosional Halus yang Sering Terjadi dalam Percakapan Sehari-hari

Tasropi • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 14:09 WIB
Teman korban nampak emosi terhadap para tersangka yang melakukan pembunuhan Muhammad Tirza Nugroho Hermawan, 21, mahasiswa Udinus Semarang
Ilustrasi Orang Emosi

 

RADARSEMARANG.ID, Gaslighting tidak selalu muncul dalam pertengkaran besar atau konflik dramatis.

Sering kali, perilaku ini justru muncul secara halus dalam kehidupan sehari-hari, bahkan tanpa disadari oleh pelaku maupun korban.

Manipulasi emosional ini bisa terjadi dalam obrolan biasa, lewat kalimat-kalimat sederhana yang terdengar “wajar”, seperti:

Baca Juga: Davina Resmi Angkat Kaki! Sakit Hati Digantung Sena, Kalimat Terakhirnya di Terikat Janji Episode 115 Bikin Nyesek!

Kalimat-kalimat semacam ini, jika diucapkan berulang kali, dapat membuat seseorang perlahan meragukan ingatan, perasaan, dan penilaian dirinya sendiri.

Apa Itu Gaslighting?

Gaslighting adalah bentuk manipulasi psikologis di mana seseorang berusaha membuat orang lain mempertanyakan realitas, ingatan, atau persepsinya.

Tujuannya adalah agar korban kehilangan kepercayaan diri dan lebih bergantung pada versi “kebenaran” yang dibuat oleh pelaku.

Baca Juga: Kejari Kota Semarang Pulihkan Kasus Motor Digadaikan Teman melalui Restorative Justice, Korban Memaafkan Pelaku Kembali Bekerja

Perilaku ini sulit dikenali karena tidak selalu dilakukan dengan bentakan atau ancaman kasar.

Gaslighting biasanya berlangsung secara bertahap melalui pola percakapan yang berulang, seperti menyangkal fakta, memutarbalikkan kejadian, atau memindahkan kesalahan kepada korban.

Pola Gaslighting yang Sering Muncul

Saat terjadi masalah, alih-alih membahas solusi, pelaku gaslighting cenderung mengalihkan pembicaraan menjadi “siapa yang salah”. 

Alih-alih menyelesaikan masalah, fokus berubah menjadi pembelaan ego.Contohnya, ketika korban mencoba mengingatkan kesalahan, pelaku akan menjawab, “Aku nggak pernah bilang begitu,” atau “Kamu selalu berlebihan.”

Baca Juga: Dua Pemuda Candisari Ditangkap Usai Tusuk Pria di Jalan Baru Undip Semarang, Korban Alami Tujuh Luka Tusuk

Lama-kelamaan, korban akan berpikir, “Mungkin aku yang salah ingat” atau “Mungkin aku memang terlalu sensitif.”Meski demikian, tidak semua kalimat di atas otomatis berarti gaslighting.

Kadang memang ada kesalahpahaman atau salah ingat. Perbedaannya terletak pada pola yang berulang dan niat untuk mendominasi serta membuat pihak lain merasa bersalah terus-menerus.

Dampak Gaslighting Jangka Panjang

Jika dibiarkan berlanjut, gaslighting dapat menyebabkan korban mengalami:Kehilangan kepercayaan diri

Baca Juga: Bocoran Sinopsis Terikat Janji Malam Ini Episode 79: Bukti Kuat Dihancurkan, Jejak Komunikasi Danang Lenyap!

Membangun Komunikasi yang Sehat

Komunikasi yang baik bukan tentang siapa yang benar atau salah, melainkan saling menghargai perspektif masing-masing.

Ciptakan ruang diskusi di mana kedua belah pihak merasa aman untuk mengungkapkan perasaan tanpa takut disalahkan atau diragukan ingatannya.

Jika Anda sering mengalami pola ini dalam hubungan, ada baiknya untuk mencari perspektif dari orang ketiga yang netral atau profesional. (tas)

Editor : Tasropi
Gaslighting Manipulasi emosional manipulasi psikologis pelaku gaslighting Komunikasi yang Sehat