8 Tipe Teman Toxic yang Harus Dihindari Menurut Psikologi

Tasropi • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 13:06 WIB
Ilustrasi beratnya berada di lingkungan kerja yang toxic
Ilustrasi beratnya berada di lingkungan kerja yang toxic

 

RADARSEMARANG.ID, Dalam perjalanan hidup, kita akan bertemu banyak orang. Sebagian dari mereka akan menjadi teman dekat.

Namun, tidak semua pertemanan memberikan dampak positif. Justru ada beberapa yang bisa menguras energi dan merugikan kesehatan mental.

Dalam psikologi, ada beberapa tipe kepribadian yang sebaiknya tidak dipertahankan sebagai teman.

Baca Juga: Julian Panik! Rencana Bungkam Saksi Polres Cakrabumi dan Teror Psikologis Fikri di Terikat Janji Episode 82 Hari Ini!

Dilansir dari Geediting, inilah 8 di antaranya:

1. Si Tukang Mengeluh Terus-Menerus

Semua orang pasti pernah punya hari buruk dan butuh tempat curhat. Itu wajar.

Tapi beda cerita jika ada teman yang hobinya hanya mengeluh setiap hari tanpa solusi.

Baca Juga: Bapperida Gelar Lomba Penelitian, Bupati Demak Harapkan Hasilnya Bisa Menjadi Solusi dalam Pembangunan Daerah

Psikologi membuktikan, terus-menerus terpapar energi negatif bisa menular dan merusak kesehatan mentalmu sendiri.

Jika setiap selesai bertemu dengannya kamu merasa lelah dan terkuras, itu adalah red flag.

2. Teman yang Tidak Pernah Timbal Balik (One-Sided Friendship)

Pertemanan yang sehat adalah tentang give and take. Jika hanya kamu yang selalu memberi perhatian, dukungan, dan usaha, sementara kebutuhan dan perasaanmu selalu diabaikan, maka pertemanan itu tidak seimbang.

Saatnya evaluasi ulang hubungan tersebut.

Baca Juga: Drama Kejar-kejaran Warnai Penangkapan Mahasiswa yang Diduga Bawa Kabur Siswi SMA di Semarang

3. Si Tukang Cari Drama

Ada tipe teman yang hidupnya selalu dipenuhi masalah dan konflik. Anehnya, mereka justru terlihat menikmatinya.

Riset psikologi menyebutkan, orang dengan kepribadian konfliktif memang sering mencari drama untuk mendapatkan perhatian dan validasi.

Terlalu lama di dekat mereka hanya akan merusak ketenangan batinmu.

Baca Juga: Kunjungan Presiden Erdogan ke Indonesia, Presiden Prabowo Singgung 75 Tahun Hubungan Diplomatik dan Hubungan Batin Sejak Era Kesultanan Usmaniyah

4. Teman yang Selalu Berkompetisi

Kompetisi kecil yang sehat bisa jadi motivasi. Namun, jika temanmu menjadikan segalanya sebagai ajang lomba untuk mengalahkanmu — mulai dari karier, pasangan, hingga barang yang dimiliki — itu tidak sehat.

Sikapnya yang selalu membandingkan akan membuatmu merasa tidak pernah cukup baik dan penuh tekanan.

5. Teman Musiman: Hanya Ada Saat Senang

Teman sejati akan tetap ada di masa sulitmu. Sayangnya, ada tipe teman yang hanya muncul saat pesta dan tawa, tapi hilang begitu saja ketika kamu terpuruk.

Kehadirannya yang hanya saat senang bisa meninggalkan luka rasa dikhianati dan kesepian saat kamu paling butuh dukungan.

Baca Juga: Film Garapan Bayu Skak 'Cocote Tonggo' Menghadirkan Cerita Gosip Penuh Komedi, Begini Sinopsisnya

6. Si Penyebar Gosip

Saling berbagi cerita memang bisa merekatkan pertemanan. Tapi ada batas jelas antara berbagi dan bergosip.

Menurut psikologi, pertemanan yang fondasinya hanya gosip tentang orang lain cenderung dangkal, penuh kecemasan, dan minim kepercayaan.

Jika kamu selalu was-was rahasiamu akan dibocorkan di belakangmu, sebaiknya tinggalkan.

Baca Juga: Sama-sama Egois, Rumah Tangga Tak Harmonis

7. Teman yang Egois dan Self-Centered

Seharusnya pertemanan itu saling peduli. Tapi teman yang egois hanya akan membahas dirinya sendiri.

Mereka tidak pernah benar-benar mendengarkan ceritamu atau peduli pada hidupmu. Lama-lama, kamu akan merasa tidak dihargai dan tidak dianggap ada.

8. Si Pembawa Pengaruh Buruk

Lingkungan sangat memengaruhi siapa diri kita. Ada teman yang justru menyeretmu pada kebiasaan buruk dan keputusan yang tidak sesuai dengan nilai hidupmu.

Jika kamu mulai melakukan hal-hal yang membuatmu tidak nyaman hanya karena ajakannya, itu tanda jelas untuk menjaga jarak.

Memilih teman sama pentingnya dengan memilih masa depan. Berani melepaskan pertemanan toxic bukan berarti jahat, tapi bentuk self-love untuk menjaga kesehatan mental dan kedamaian hidupmu.(tas)

Editor : Tasropi
Riset psikologi pertemanan toxic kesehatan mental