RADARSEMARANG.ID, Semarang – Komunitas pecinta olahraga airsoft di Kota Semarang terus berkembang, salah satunya adalah Semarang Skirmish Team (SST).
Tak hanya kesenangan dengan hobi perang-perangan ala militer, komunitas ini juga menjadi ajang pembibitan atlet berprestasi.
Komunitas SST ini telah berdiri sejak tahun 2005, dan menjadi wadah bagi masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap aktivitas bertema militer.
Kini, jumlah anggota komunitas tersebut diperkirakan mencapai sekitar 200 orang dari berbagai kalangan, mulai pelajar, mahasiswa, hingga pengusaha.
"Terbentuknya SST berawal dari keinginan sejumlah penghobi militer untuk memiliki wadah bermain yang terarah dan sesuai aturan," salah satu pengurus SST, Febry Mustafat Ridwan, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (17/6/2026).
Pria yang akrab disapa Ridwan ini juga menyebut, untuk bergabung menjadi anggota airsoft terdapat beberapa aturan yang harus dipenuhi. Salah satunya wajib mengikuti klub resmi sebagai bentuk pembinaan dan pengawasan.
"Yang pertama harus mengikuti klub, itu wajib, karena klub menjadi wadah untuk memberikan regulasi kepada peserta. Kemudian anggota yang sudah bergabung juga harus memiliki unit atau senjata airsoft sendiri yang nantinya akan didata," ujarnya.
Lanjutnya mengatakan, pecinta hobi airsoft ini dinaungi oleh Persatuan Olahraga Airsoft Seluruh Indonesia (Porgasi), yang akan berkoordinasi dengan klub masing-masing untuk mencegah penyalahgunaan.
"Setiap anggota baru juga mendapatkan pelatihan internal, mulai dari Standar Operasional Prosedur (SOP), cara memegang unit, hingga cara penyimpanan yang aman," jelasnya.
"Unit airsoft yang dimiliki masing-masing anggota juga dilakukan pendataan dan teregister di kepolisian untuk mencegah penyalahgunaan," sambungnya.
Dalam kegiatannya, SST rutin menggelar permainan airsoft. Tidak hanya sekadar simulasi perang, namun juga memiliki misi tertentu seperti pencarian objek dengan petunjuk khusus.
"Uniknya airsoft itu masyarakat sipil bisa merasakan sensasi bermain perang ala militer, tetapi menggunakan senjata replika. Ada misi-misi khusus yang membuat permainan lebih menarik," ujarnya.
Menurutnya, permainan airsoft, peluru yang digunakan berupa bola plastik kecil berdiameter sekitar 6 milimeter. Meski demikian, aturan keselamatan tetap menjadi prioritas utama.
Baca Juga: Komnas HAM Soroti MBG: Diduga Langgar Hak Warga, Ratusan Kasus Keracunan Jadi Alarm Keras Pemerintah
Pihaknya menegaskan, pemain diwajibkan menggunakan perlengkapan keamanan seperti kacamata pelindung, rompi, helm, serta pakaian yang sesuai.
"Kalau tidak membawa kacamata pelindung, tidak diperbolehkan ikut bermain. Safety itu yang paling utama," tegansya.
Selain itu juga ada aturan terkait jarak minimal menembak dan pemain dilarang membidik bagian tubuh tertentu.
"Jarak minimal menembak itu enam meter. Rasanya kalau tertembak ya agak panas. Tapi kita pakai rompi, pakai celana yang agak tebal, ya enggak kerasa, paling kayak disentuh aja," uajrnya.
Terkait pakaian, pemain juga tidak diperbolehkan menggunakan seragam loreng milik TNI maupun Polri, karena sudah diatur dalam undang-undang. Sehingga, para anggota airsoft biasanya menggunakan pakaian bermotif militer yang tidak menyerupai institusi resmi.
Selain itu, komunitas ini juga diikuti anak sekolah setingkat Sekolah Dasar (SD). Namun, mereka belum dilibatkan dalam permainan ke hutan, hanya permainan tembak reaksi.
"Jadi ada yang SD, SMP, dia lebih ke tembak reaksi, ketangkasan cepat-cepatan nembak target," katanya.
Selain permainan, komunitas ini juga melahirkan atlet-atlet cabang tembak reaksi. Sejumlah anggota muda bahkan berhasil mengikuti kejuaraan tingkat nasional hingga internasional
"Banyak itu anak-anak muda, bahkan kelas SMP, SMA juga ada yang menjadi atlet sampai tingkat nasional ada yang sampai ikut kejuaraan di Malaysia," katanya.
Komunitas airsoft ini ternyata juga menjamur di berbagai wilayah di Jawa Tengah. Seperti halnya SCAR, Anak Rimba, VOG, Canon Gel, Spark Kudus, Rakun Airsoft Team, hingga Raid Magelang.
Nama-nama komunitas tersebut juga baru saja berkumpul di wilayah Tinjomoyo, Kota Semarang, Sabtu 13 Juni 2026. Mereka mengikuti event War Night Tinjomoyo, yang digelar malam hari.
Mereka mengenakan seragam loreng menyerupai militer, serta menggunakan rompi taktis, helm, hingga senjata replika yang menggantung di pundak.
Sekilas, suasana itu menyerupai persiapan operasi militer, dipadukan dengan dandanan mereka yang seolah akan melakukan peperangan. Namun mereka bukanlah pasukan tempur sungguhan, melainkan para pecinta olahraga airsoft.
Sebelum permainan dimulai, seluruh peserta berkumpul untuk mengikuti briefing terkait skenario permainan, tujuan misi, hingga jalur yang akan dilalui selama berada di kawasan hutan.
Sesekali terdengar tawa dan obrolan ringan, namun suasana segera berubah serius ketika instruksi demi instruksi disampaikan.
Malam itu, para peserta dibagi menjadi dua kelompok yang akan menjalankan skenario penyelamatan seorang pilot yang jatuh. Masing-masing tim memiliki peran dan tujuan berbeda.
Kemudian, mereka harus bergerak menyusuri jalur hutan, melewati medan yang menantang, sekaligus mengantisipasi pergerakan lawan.
"Iya, jadi kegiatan ini kami gelar untuk mewadahi teman-teman yang mempunyai hobi airsoft. Kami ingin memberikan ruang agar mereka bisa menyalurkan energi dan kegemarannya ke kegiatan yang positif," jelasnya.
Febry, mengakui, kegiatan ini airsoft bukan sekadar permainan tembak-tembakan. Menurutnya, di dalamnya terdapat unsur strategi, kerja sama tim, kedisiplinan, hingga kemampuan membaca situasi di lapangan.
"Keseruan airsoft itu bukan hanya soal menembak. Ada misi yang harus diselesaikan, ada tantangan medan yang harus dilewati, dan ada kerja sama tim yang harus dibangun. Apalagi kalau dimainkan malam hari di hutan seperti ini," katanya.
Saat permainan berlangsung, para peserta bergerak menembus gelapnya hutan dengan cahaya senter yang terbatas. Mereka menyusuri jalan setapak, melintasi kontur tanah yang menanjak, hingga melewati beberapa titik yang telah ditentukan sebagai bagian dari skenario permainan.
Bagi para peserta, sensasi bermain di malam hari menjadi pengalaman yang berbeda dibanding latihan rutin. Selain menguji ketepatan strategi, kondisi minim pencahayaan juga menuntut kewaspadaan dan komunikasi yang baik antartim.
Meski terlihat seperti simulasi pertempuran, faktor keselamatan tetap menjadi prioritas. Setiap peserta diwajibkan mengenakan perlengkapan pelindung seperti kacamata khusus, sepatu, dan perlengkapan keselamatan lainnya selama permainan berlangsung.
Setiap kegiatan, panitia juga menyiapkan pengamanan area dengan batas lokasi permainan dan petugas marshal 5 sampai 6 orang untuk mengarahkan peserta supaya tidak ke sasar di dalam hutan.
"Jadi, panitia itu selalu prepare. Dia akan ngasih garis police line batas maksimal di hutan itu kita kasih ke police line supaya peserta yang dari luar kota pengin join, enggak bakal kesasar," katanya.
Konsep kegiatan ini olahraga, rekreasi, dan pembinaan. Bahkan saat bermain di area hutan, anggota tetap diwajibkan menjaga lingkungan dan tidak mengganggu satwa liar yang ditemui.
"Pernah ada yang bertemu hewan-hewan kayak ular lewat, ular piton, gede itu pernah. Sekitaran panjang 3 sampai 4 meter ada. Ya teman teman pasti menjauh menghindari. Tidak melakukan apa-apa, enggak boleh menembak," tegasnya.
SST berharap airsoft dapat menjadi kegiatan positif bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Selain menjadi ajang menyalurkan hobi, kegiatan tersebut juga menjadi wadah silaturahmi sekaligus tempat berbagi pengalaman bagi para pegiat airsoft dari berbagai daerah.
"Kita juga sering di luar Semarang, ada event undangan, dari klub. Paling jauh itu Kebumen, Banyumas. Kegiatan enggak, selalu malam hari, ada yang pagi," pungkasnya. (mha)
Editor : Baskoro Septiadi