RADARSEMARANG.ID, Semarang – Gaya berpakaian generasi Z (Gen Z) semakin mengarah pada konsep sederhana, nyaman, namun tetap terlihat stylish. Tren ini diprediksi masih akan bertahan hingga 2026.
Seiring kuatnya pengaruh media sosial, warna-warna bumi, serta meningkatnya kesadaran terhadap fashion berkelanjutan. Gen Z juga lebih suka gaya clean outfit.
Laili Luthfinnisa, salah satu Gen Z, mengaku lebih menyukai gaya pakaian kasual untuk aktivitas sehari-hari.
Nisa sapaan akrabnya, kerap mengenakan sweater, kerudung pashmina, bahkan celana kargo.
Menurutnya, pilihan tersebut terasa lebih praktis, tidak ribet, dan nyaman. Tentunya tetap terlihat menarik.
“Memang lebih suka pakaian kasual kalau buat aku, dan yang penting nyaman. Dipakai sehari-hari jadi lebih enak dan tetap kelihatan kece,” ujar Nisa.
Terkait tren fashion 2026, Nisa menyambut positif prediksi dominasi pakaian kasual dengan warna-warna bumi.
Ia mengaku menyukai warna seperti cokelat, krem, dan hijau karena terlihat natural, mudah dipadukan, serta cocok untuk berbagai warna kulit.
“Warna bumi itu gampang di-mix and match, masuk ke warna kulit, dan enggak bikin kelihatan kusam meski dipakai di luar ruangan,” katanya.
Bagi Nisa, kenyamanan tetap menjadi prioritas utama dibanding sekadar tampil stylish.
Menurutnya, pakaian yang terlihat menarik akan kehilangan nilainya jika tidak nyaman dipakai. Rasa tidak nyaman justru membuat kepercayaan diri menurun.
Nisa menyebut pengaruh media sosial sangat besar dalam membentuk gaya berpakaian Gen Z. Ia mengaku hampir seluruh referensi fashion-nya berasal dari media sosial dan influencer.
“Aku sering cari referensi outfit dari influencer, terutama buat mix and match warna dan gaya,” imbuhnya.
Sementara dalam memilih produk fashion, Nisa lebih condong pada brand lokal.
Ia menilai kualitas brand lokal saat ini semakin bagus dan desainnya unik.
Bahkan, banyak anak muda yang mulai terjun ke dunia fashion dengan menciptakan desain sendiri.
“Menurut aku brand lokal itu keren karena mereka mengembangkan kreativitas sendiri. Jadi lebih unik,” bebernya.
Nisa juga menilai tren mix and match pakaian lama dengan gaya baru masih akan relevan di 2026.
Menurutnya, gaya retro dan busana jadul justru kembali diminati anak muda saat ini.
Ia pun tak jarang memanfaatkan pakaian lama milik ibunya sebagai outfit sehari-hari.
Selain itu, Nisa mendukung penuh tren fashion ramah lingkungan.
Ia menilai penggunaan bahan yang ramah lingkungan serta desain yang tahan lama penting untuk mengurangi dampak negatif industri fashion.
"Tren fashion ramah lingkungan aku dukung banget sih, desainnya tahan lama dan tidak merusak lingkungan," akunya.
Sementara itu, Yuna pekerja di Semarang yang juga Gen Z memiliki pendekatan berbeda namun sejalan.
Ia lebih menyukai gaya clean outfit yang rapi dan minimalis tanpa banyak motif. Menurutnya, pakaian simpel mencerminkan kepribadian dan tetap enak dipandang.
“Clean outfit enggak harus pakai kemeja, kaos juga bisa asal rapi,” ujarnya.
Yuna juga menyukai warna-warna bumi karena netral dan mudah dipadukan. Dalam keseharian, ia mengandalkan mix and match pakaian dengan model yang sama namun warna berbeda agar tidak perlu membeli banyak baju.
Cara ini sekaligus menjadi bentuk penerapan fashion berkelanjutan.
“Dengan mix and match, bajunya tetap kelihatan beda tanpa harus beli banyak,” pungkasnya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi