Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Tren Fashion 2026 Mengarah ke Strive Style Berkelanjutan, Kasual Tetap Jadi Andalan

Khafifah Arini Putri • Jumat, 2 Januari 2026 | 05:25 WIB
Peragaan busana by Sudarna Suwarsa
Peragaan busana by Sudarna Suwarsa

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Tren fashion tahun 2026 diprediksi akan didominasi strive style dengan karakter yang lebih membumi, kasual, dan ramah lingkungan.

Strive style ini masih menjadi favorit, utamanya bagi generasi muda.

Hal itu disampaikan Ketua Indonesian Fashion Chamber (IFC) Semarang, Sudarna Suwarsa. Menurutnya mode fashion tak langsung muncul secara tiba-tiba.

Melainkan telah melalui proses analisis dan prediksi yang dilakukan jauh hari sebelumnya.

IFC kata dia, secara rutin menggelar kajian dan pagelaran untuk membaca arah tren mode di masa mendatang.

Menurutnya gaya fashion tersebut telah dipetakan melalui panduan dan buku yang disusun asosiasi.

"Asosiasi itu mengeluarkan buku tren. Jadi (untuk melihat) kecenderungan tren di masa mendatang itu kita tawarkan di tahun sebelumnya. Jadi tahun 2025 kita mengadakan event show untuk menganalisa, memprediksi tren tahun berikutnya pada 2026," kata Sudarna.

Untuk periode 2025–2026, IFC menetapkan strive sebagai tema utama.

Strive style ini tidak hanya dimaknai sebagai gaya kasual semata, tetapi juga merepresentasikan semangat perjuangan, dinamika sosial, dan kehidupan urban yang dekat dengan keseharian masyarakat.

"Untuk 2025-2026 itu tema besarnya strive (style). Jadi dalam strive itu ada beberapa subtema. Ada tema indie rebellion, ada tema quiet artistry, terus ada tema Hyperconnected Flux dan neo nostalgic begitu,” jelasnya.

Lebih lanjut, Indie Rebellion ini merupakan gaya bebas dan berani yang menonjolkan jati diri dan tidak mau ikut arus utama.

Kemudian banyak main mix and match, strive style, dan nuansa independen.

Sedangkan Quiet Artistry, gayanya sederhana tapi berkelas. Fokus pada kenyamanan, detail, dan warna-warna kalem. Terlihat tenang, rapi, tapi tetap stylish.

Lalu Hyperconnected Flux, terinspirasi dunia digital dan teknologi. Gayanya modern, futuristik, praktis, dengan warna kontras dan desain yang dinamis.

Sementara Neo Nostalgic adalah gaya lama yang dihidupkan kembali dengan sentuhan baru. Terinspirasi fashion era dulu, tapi dikemas lebih modern dan kekinian.

Ia menambahkan, masing-masing subtema street style tersebut masih dipecah lagi ke dalam tema-tema kecil.

Sedangkan dalam hal warna, tren strive style 2026 diprediksi akan mengarah pada palet warna yang lembut dan terinspirasi dari alam.

Warna-warna tersebut tetap merujuk pada tren global yang dirilis Pantone Color Institute, namun disesuaikan dengan karakter subtema street.

"Jadi warna di tahun 2026 kita prediksi adalah warna-warna putih tapi agak-agak abu-abu ada campuran biru. Jadi putih tapi bukan yang putih bersih, tapi putihnya agak keabu-abuan, jadi kayak warna langit," imbuhnya.

Strive style 2026 juga dinilai akan membawa perubahan pola produksi fashion, khususnya bagi UMKM.

Sudarna menilai tren ini akan berpengaruh jika pelaku usaha mendapatkan edukasi dan informasi yang memadai.

“Kalau dibilang berpengaruh, sebenarnya tren itu kan ramalan atau gambaran. Jadi kalau UMKM mungkin kalau mereka yang teredukasi, terinfo begitu ya,” ucapnya.

Ia menegaskan, strive style ke depan akan identik dengan fashion yang berkelanjutan. Penggunaan material ramah lingkungan, pewarna alami, serta pengurangan produksi massal menjadi bagian dari arah tren tersebut.

“Kecenderungannya di warna-warna yang lebih ke alam, warna-warna yang lebih membumi (earth tone). Fashion-fashion yang memang lebih ramah lingkungan,” ungkap Sudarna.

Meski tren terus berkembang, Sudarna memastikan strive style dengan busana kasual tidak akan tergeser.

Menurutnya, gaya ini akan tetap menjadi pilihan utama masyarakat, terutama generasi muda.

“Baju casual itu enggak akan mati ya karena itu adalah baju sehari-hari, baju buat kerja, buat hangout, buat di rumah dan lain sebagainya,” katanya.

Namun demikian, ia mengingatkan pelaku UMKM fashion agar tidak sekadar mengikuti tren pasar.

Strive style justru menuntut identitas dan ciri khas agar produk mudah dikenali dan memiliki segmen pasar sendiri.

“UMKM itu harus punya ciri khas biar produk kita bisa dikenali dan kita juga punya pasar yang tersegmentasi,” pungkasnya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#Tren Fashion #tren mode #generasi muda #Indonesian Fashion Chamber (IFC) #RAMAH LINGKUNGAN