RADARSEMARANG.ID, Semarang — Gen Z boleh jadi mendominasi saat ini.
Gen Alpha juga siap-siap mendominasi.
Tapi, mereka juga harus bersiap dengan kedatangan generasi berikutnya: Beta.
Mengutip berbagai sumber, generasi Alpha menjadi generasi pertama yang lahir sepenuhnya pada abad ke-21.
Generasi selanjutnya dinamai Beta yang diperkirakan akan mulai lahir pada tahun 2025 mendatang.
Meski mereka belum lahir, namun ada beberapa hal yang dapat diprediksi pada generasi Beta.
Prediksi muncul berdasarkan perkembangan teknologi dan sosial saat ni.
Seperti generasi-generasi sebelumnya, generasi Beta akan dibentuk oleh waktu, teknologi, dan peristiwa sosial yang terjadi di masa pertumbuhan mereka.
Baca Juga: Daftar 10 Film Bioskop yang Akan Tayang Desember 2024 Cocok Mengisi Liburan Anda
Peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di masa kecil dan remaja mereka akan memainkan peran penting dalam membentuk identitas, nilai, dan pandangan hidup mereka.
Sebagai generasi yang akan datang di tengah abad ke-21, generasi Beta akan membawa perubahan dan pengaruh besar di masa depan.
Pukul 00.00 tanggal 1 Januari 2025 menjadi waktu perpindahan tahun sekaligus periode hari pertama kemunculan Generasi Beta.
Kemunculan generasi baru ini menjadi masa terakhir bagi Gen Alpha yang periode kelahirannya sejak 2010.
Adapun Generasi Beta merupakan mereka yang lahir antara tahun 2025 sampai 2039 mendatang.
Gen Beta juga diharapkan dewasa di lingkungan yang penuh rasa keingintahuan tinggi.
Toleransi mereka diklaim cukup tinggi terhadap perbedaan, sehingga menerima dan melibatkan berbagai kelompok dalam aktivitasnya.
Adapun perbedaan Gen Beta dengan Gen Alpha dan Gen Z dapat kita lihat dari tahun kelahiran mereka masing-masing.
Periode kelahiran yang berbeda ini punya situasi terkininya sendiri dalam proses pembentukan kepribadian dan perilaku mereka.
Generasi Alpha diklaim lebih dekat dengan keluarga mereka lantaran nilai kekeluargaan yang dipegang oleh sejumlah generasi sebelumnya.
Adapun mereka rata-rata merupakan anak dari para generasi milenial.
Sementara Gen Z dikatakan lebih menggantungkan hidupnya dengan memanfaatkan teknologi.
Kebiasaan mereka ini kadang memberikan dampak negatif, misalnya lebih nyaman interaksi lewat teknologi dibandingkan tatap muka langsung.
Pembagian generasi kerap dibentuk oleh peristiwa-peristiwa besar, teknologi, dan transformasi sosial.
Pengalaman-pengalaman yang sama ini kemudian memengaruhi perilaku, nilai, dan sikap setiap generasi.
Konsep generasi pada dasarnya dapat membantu kita untuk melihat bagaimana kelompok usia yang berbeda berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya dan bagaimana pengalaman mereka secara umum berkontribusi terhadap perubahan dalam masyarakat dari waktu ke waktu.
Mengenal Generasi Greatest hingga Beta
1. Greatest Generation: 1901-1927
Menurut Tom Brokaw dalam bukunya The Greatest Generation, istilah generasi greatest digunakan untuk merujuk pada karakteristik resiliensi dan patriotik lantaran mereka hidup pada era Great Depression dan Perang Dunia II.
Generasi ini banyak yang merupakan orang tua dari baby boomers.
2. Silent Generation: 1928-1945
Menurut Colorado State Demography Office, generasi silent dinamai demikian karena konformitas dan kesadaran kewarganegaraan mereka yang tumbuh sebagai anak-anak pada masa Great Depression dan Perang Dunia II.
Nilai-nilai pada generasi ini dibentuk dari kebutuhan akan stabilitas, yang menghasilkan pendekatan hidup yang lebih tenang dan lebih konservatif, berbeda dengan generasi baby boomer yang sering menunjukkan sentimen antikemapanan.
3. Baby boomer: 1946-1964
Generasi baby boomer lahir selama periode yang dikenal sebagai ”baby boom,” yang ditandai dengan peningkatan signifikan dalam angka kelahiran setelah Perang Dunia II.
Generasi baby boomer juga diuntungkan oleh ekonomi pasca Perang Dunia II yang stabil.
Situasi memungkinkan mereka mengumpulkan kekayaan dan memiliki peran kepemimpinan di berbagai sektor.
4. Generation X: 1965-1980
Generasi X sebagian besar terdiri dari anak-anak generasi silent dan generasi baby boomer awal.
Orang tua yang berasal dari generasi X adalah yang pertama kali mengadopsi gaya pengasuhan helikopter, yaitu lebih terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka dibandingkan dengan orang tua boomer yang lebih lepas tangan.
Generasi X berfokus pada pengaturan pertumbuhan sosial dan pendidikan anak-anak mereka secara ketat.
5. Millenial atau Generation Y: 1981-1996
Menurut Pew Research Center, generasi milenial saat ini berusia antara akhir 20-an hingga akhir 30-an dan awal 40-an.
Dretsch mengatakan bahwa generasi milenial adalah generasi yang sama sekali berbeda dari apa yang telah kita lihat sebelumnya, khususnya gen-X dan baby boomer.
”Jadi, generasi milenial menyambut dunia dengan optimisme.
Mereka semua ingin menjaga diri mereka sendiri dan menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih baik,” katanya.
Ia juga mencatat generasi milenial sangat berorientasi pada komunitas.
Dalam hal pengasuhan anak, generasi milenial lebih cenderung mendorong anak-anak mereka untuk menerima jati diri mereka yang sebenarnya, dibandingkan generasi sebelumnya.
Deborah Carr, seorang profesor di Universitas Boston, mengatakan kepada situs Parents generasi milenial merupakan pemimpin dalam membantu anak-anak merasa bahagia dengan diri mereka sendiri, terutama dalam hal identitas gender.
”Beberapa orang tua milenial, yang dulu selalu diperintah oleh orang tua lain, kini mengambil pendekatan yang lebih bebas dalam mengasuh anak, dengan membiarkan anak-anaknya bereksplorasi dan berkreasi tanpa struktur atau pengawasan yang konstan,” ujarnya.
6. Generation Z: 1997-2009
Dretsch menuturkan kepada media lifestyle ”GMA” bahwa gen-Z tumbuh di masa ketika informasi dan teknologi memainkan peran utama dalam kehidupan mereka.
Akan tetapi, mereka melihatnya sebagai sesuatu yang eksternal, hampir seperti pelarian, bukan sekadar sumber hiburan dan relaksasi.
Gen-Z dibentuk oleh era COVID-19.
Baca Juga: UMP Naik 6,5 Persen Ini Daftar Lengkap UMP 2025 di 38 Provinsi Indonesia
Generasi ini belajar bahwa perekonomian dapat mengalami gangguan mendadak, yang mendorong mereka untuk mengadopsi pendekatan yang lebih konservatif baik secara finansial maupun sosial.
7. Generation Alpha: 2010-2024
Anggota tertua generasi alpha saat ini berusia sekitar 14 tahun.
Mereka sebagian besar adalah anak-anak generasi milenial dan tumbuh dalam dunia yang sangat digital dan digerakkan oleh teknologi.
Menurut pakar generasi McCrindle, generasi alpha diperkirakan akan menjadi generasi terbesar dalam sejarah, dengan populasi yang diproyeksikan mencapai lebih dari 2 miliar pada saat semua anggotanya lahir.
Dretsch menambahkan, generasi alpha memiliki ikatan yang kuat dengan keluarga mereka. Hubungan ini merupakan ciri khas dari pola asuh mereka, yang mencerminkan penekanan pada nilai-nilai keluarga yang telah bertahan dari generasi ke generasi seperti generasi milenial dan orang tua serta kakek-nenek mereka sebelumnya.
8. Generasi Beta: 2025-2039
Generasi beta diperkirakan akan menjadi generasi yang ditandai oleh integrasi teknologi yang signifikan dan apresiasi yang kuat terhadap keberagaman, menurut Mark McCrindle.
Seiring dengan semakin diterimanya perubahan dan penerimaan oleh masyarakat, generasi beta diperkirakan akan tumbuh dalam lingkungan yang menumbuhkan rasa ingin tahu dan inklusivitas.
Karakteristik Generasi Beta
Generasi beta muncul sebagai generasi pertama yang mengalami kehidupan hanya pada abad ke-21.
Dikutip dari United Nations International School of Hanoi, generasi ini diperkirakan berinteraksi dengan simulasi diri yang dihasilkan AI di media sosial atau memanfaatkan respons otomatis dalam interaksi daring secara lancar.
Generasi beta diprediksi akan sangat menginginkan pembelajaran dan peningkatan keterampilan berkelanjutan agar tetap relevan di pasar kerja yang berkembang pesat.
Dampak Teknologi AI pada Karakteristik Generasi Beta
Generasi beta akan tumbuh dalam dunia yang sangat terkait dengan AI dan teknologi.
Realitas ini akan membentuk karakteristik generasi beta dalam beberapa cara yakni:
Batas kehidupan pribadi dan pekerjaan menjadi blur: Otomatisasi AI dapat mengganggu jalur karier tradisional, yang mengarah pada pekerjaan yang fleksibel dan berbasis proyek.
Hal ini dapat mengakibatkan budaya kerja yang ”always-on”, yang menuntut adaptasi dan berpotensi memengaruhi keseimbangan kehidupan dan pekerjaan.
Kreativitas tanpa batas, didukung oleh AI: Dihadapkan pada konten yang dihasilkan AI, generasi beta akan berpikir kreatif, menggunakan alat AI untuk desain, penceritaan, dan pemecahan masalah.
Belajar melampaui batas: Dengan 80% generasi beta terlibat dalam pembelajaran daring, AI akan mempersonalisasi pendidikan.
Dengan simulasi interaktif, tutor yang didukung AI dapat menyesuaikan tingkat kesulitan dan akses instan ke informasi di luar buku teks.
Namun, kekhawatiran tentang gangguan dan keamanan daring perlu dipertimbangkan dengan saksama.
Cerdas menggunakan ponsel pintar, tetapi penuh tekanan: Penggunaan ponsel pintar yang intensif akan membentuk komunikasi dan konsumsi informasi generasi beta.
Baca Juga: Sosok Profil Gus Miftah dan Tugasnya Sebagai Utusan Khusus Presiden RI
Baca Juga: Presiden Prabowo Subianto Lantik 55 Wakil Menteri di Kabinet Merah Putih, Ini Nama-namanya
Baca Juga: Sosok Profil Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, dari Imam Masjid menjadi Menteri Agama Indonesia
Baca Juga: Presiden Prabowo Subianto Umumkan Nama Menteri Kabinetnya: Kabinet Merah Putih
Meskipun aplikasi berbasis AI dapat menawarkan kemudahan dan pengetahuan, kecemasan seputar perbandingan media sosial dan informasi yang berlebihan mungkin lazim terjadi.
Karyawan yang sadar sosial: Menyaksikan dampak teknologi pada masyarakat dapat membuat generasi beta mengharapkan perilaku perusahaan yang bertanggung jawab.
Mereka mungkin memilih pemberi kerja yang berdedikasi pada keberlanjutan, praktik data yang etis, dan dampak sosial yang positif. (fal/bas)
Editor : Baskoro Septiadi