RADARSEMARANG.ID – Pecinta boneka Labubu harus bisa mengetahui perbedaan antara boneka Labubu asli dengan boneka Labubu palsu.
Sebagaimana diketahui jika boneka Labubu merupakan karakter lucu yang dijual oleh Pop Mart.
Labubu sangat diminati sehingga stoknya tidak pernah bertahan lama dipasaran.
Begitu ada stok baru, pasti akan langsung sold out diburu penggemarnya dalam waktu singkat.
Dengan viralnya Labubu banyak juga oknum-oknum yang menjual atau bahkan membuat boneka Labubu palsu agar mendapat keuntungan.
Nah, karakter ini merupakan bagian dari The Monsters dan saat ini sedang viral. Karena popularitasnya, banyak barang tiruan yang beredar di pasaran.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengetahui cara membedakan Labubu asli dan palsu.
Berikut ini, beberapa cara membedakan boneka Labubu asli dan palsu.
1. Kemasan
Kemasan Labubu yang asli memiliki perpaduan warna yang mencolok dan ukurannya lebih besar. Sedangkan yang palsu, memiliki bentuk lebih kecil dan berwarna cenderung krem.
2. Bentuk
Perbedaan yang kedua pad bgain bentuknya. Bentuk kaki Labubu asli cenderung lebih lurus sementara yang palsu cenderung mengangkang.
Pada bagian telinga, Labubu asli akan berbentuk lebih rapat dan yang palsu lebih renggang.
Perbedaan yang paling mencolok yaitu kepala Labubu yang asli dapat berputar 360 derajat, sementara yang palsu tidak bisa
3. Barcode
Labubu yang asli memiliki barcode yang diarahkan pada web resmi Sedangkan Labubu yang palsu ada yang memiliki barcode dan ada yang tidak. Walaupun memiliki barcode pada Labubu palsu, tetapi tidak bisa tidak dapat mengarah ke website resminya.
4. Logo
Logo pada uang terlihat pada Labubu asli dan sangat halus. Sementara, pada Labubu palsu tidak terlalu terlihat dan lebih kasar. Selain itu, pada kemasannya, Labubu asli terdapat tulisan “Pop Mart”. Sedangkan Labubu palsu tidak ada.
5. Tanda di Kaki
Pada Labubu yang asli memiliki tulisan “@kasing” yang tercetak dibagian bawah kaki. Sedangkan yang palu tidak ada tulisannya.
Maka, harus berhati-hati ya dalam membeli boneka Labubu, jangan pernah tergoda harga murah. (dka/bas)
Editor : Baskoro Septiadi