RADARSEMARANG.ID, MEDIA sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern, terutama bagi generasi muda.
Platform-platform ini dirancang untuk memfasilitasi interaksi sosial dan menjaga hubungan agar tetap terhubung satu sama lain dari manapun.
Namun, dampaknya terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan individu ternyata kompleks dan beragam.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dapat memicu adanya perbandingan sosial yang tidak sehat, masalah citra tubuh, gangguan konsentrasi, dan gangguan tidur.
Tak hanya itu, Media sosial yang dirancang untuk menghubungkan kita, seringkali justru memicu perasaan terisolasi.
Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) semakin marak di kalangan pengguna media sosial, di mana individu merasa tertinggal dan cemas akan kehilangan pengalaman menyenangkan yang dialami orang lain.
Dengan terpapar kehidupan orang lain yang tampak sempurna di layar dapat memicu kecemasan, depresi, dan perasaan tidak cukup baik.
Di tengah maraknya budaya FOMO (Fear of Missing Out) yang mendorong kita untuk selalu terhubung dan tidak ingin ketinggalan, muncullah sebuah tren yang menawarkan alternatif menyegarkan, yaitu JOMO (Joy of Missing Out).
Jika FOMO (Fear of Missing Out) membuat kita merasa gelisah dan tertekan karena merasa tertinggal, JOMO (Joy of Missing Out) justru mengajak kita untuk menikmati momen saat ini, bebas dari tekanan untuk selalu mengikuti arus dan menikmati kebahagiaan dengan sengaja menghindari keramaian sosial atau mengikuti tren yang sedang populer.
JOMO (Joy of Missing Out) menyadarkan kita bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari mengejar pengalaman baru yang terus-menerus, melainkan juga dari menikmati ketenangan, kesendirian dan lebih memusatkan perhatian pada kebahagiaan diri sendiri.
Konsep JOMO (Joy of Missing Out) sebagian besar muncul dari penelitian yang berkembang tentang FOMO (Fear of Missing Out).
Dalam penelitian “JOMO: Joy of missing out and its association with social media use, self-perception, and mental health”, ditemukan bahwa orang yang menyukai JOMO (Joy of Missing Out) cenderung lebih suka menyendiri.
Mereka merasa lebih tenang dan bahagia saat tidak terus-menerus melakukan interaksi sosial yang membuat stres atau memicu kecemasan.
Seseorang yang menikmati JOMO (Joy of Missing Out) biasanya lebih sadar akan dirinya sendiri dan merasa puas dengan hidupnya.
Mereka lebih menghargai waktu sendirian dan hubungan yang lebih dekat dengan orang-orang terdekat.
Singkatnya, JOMO (Joy of Missing Out) adalah tentang menemukan kebahagiaan dalam kesendirian dan menjalani hidup dengan lebih sadar.
Tren JOMO (Joy of Missing Out) ini berfokus pada pola pikir seseorang selama waktu yang dihabiskan sendirian.
Jika seseorang secara sengaja memilih untuk menikmati waktu sendiri, hal ini dapat meningkatkan kesejahteraan, seperti menurunkan stres, kecemasan, dan depresi, serta meningkatkan kesadaran diri dan kepuasan hidup.
Dengan cara ini, waktu sendirian dapat dirasakan menyenangkan dan memulihkan energi.
Namun, jika kesendirian yang dirasakan tidak diinginkan, hal ini bisa berujung pada perasaan kesepian dan memicu FOMO (Fear of Missing Out).
Sehingga dalam tren JOMO (Joy of Missing Out) ini membuka pandangan baru bahwa setiap orang memiliki kecenderungan yang berbeda terhadap rasa khawatir karena melewatkan kegiatan sosial atau hal-hal yang sedang menjadi tren.
Beberapa orang mungkin justru merasa lebih bahagia ketika memilih untuk tidak memantau atau ikut serta dalam kegiatan tersebut. (mg29)
Editor : Tasropi