Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Fakta Perselingkuhan yang Semakin Marak, Benarkah Selingkuh adalah 'Penyakit'?

Magang Radar Semarang • Selasa, 8 Oktober 2024 | 18:52 WIB
Ilustrasi pasangan patah hati
Ilustrasi pasangan patah hati

RADARSEMARANG.ID--Perselingkuhan adalah salah satu masalah yang sering muncul dalam hubungan romantis. Dengan semakin maraknya kasus perselingkuhan di masyarakat, banyak orang mulai mempertanyakan apakah perilaku ini bisa dianggap sebagai "penyakit."

Apakah perselingkuhan hanya sekadar tindakan yang disebabkan oleh ketidakpuasan, ataukah ada faktor psikologis yang lebih dalam yang mendorong seseorang untuk berselingkuh? Sebelum membahas hal tersebut, kita harus paham dulu definisi dari selingkuh.

Perselingkuhan secara umum didefinisikan sebagai pengkhianatan dalam hubungan yang melibatkan keterlibatan emosional atau seksual dengan orang lain di luar komitmen yang ada. Perselingkuhan tidak hanya terjadi dalam hubungan romantis, tetapi juga dapat terjadi dalam pernikahan, di mana pasangan memiliki komitmen yang lebih dalam.

Dampak dari perselingkuhan dapat sangat merusak, baik bagi korban maupun pelaku, dan seringkali menimbulkan luka emosional yang mendalam. Berbagai faktor dapat mendorong seseorang untuk berselingkuh, di antaranya adalah ketidakpuasan dalam hubungan, konflik, masalah jarak, bahkan hingga balas dendam.

Namun, apakah selingkuh bisa dikategorikan sebagai penyakit?

Banyak orang yang menganggap selingkuh sebagai penyakit karena orang yang pernah berselingkuh cenderung akan berselingkuh lagi dan sulit berhenti. Akan tetapi, meski banyak yang beranggapan demikian, selingkuh tidak secara resmi diakui sebagai penyakit. Sejumlah ahli psikologi mengatakan selingkuh adalah sebuah perilaku yang cukup kompleks dan dipengaruhi oleh banyak hal. 

Selain itu, beberapa ahli juga berpendapat bahwa individu yang memiliki kesulitan dalam berkomitmen dapat dianggap memiliki pola perilaku yang mirip dengan "penyakit." Hal ini dikarenakan mereka cenderung mengulangi perilaku tersebut sebagai cara untuk mengatasi ketidakpuasan.

Beberapa gangguan kepribadian juga dianggap sebagai pemicu seseorang untuk berselingkuh, contohnya adalah borderline personality disorder, narcissistic personality disorder, dan juga histrionic personality disorder. (Mg 18)

 

 

Editor : Iskandar
#Perselingkuhan #Psikologi #asmara #penyakit #Selingkuh