Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Komunitas Kendal Heritage Edukasi Generasi Muda Pentingnya Nguri-uri Warisan Budaya

Budi Setiyawan • Minggu, 8 September 2024 | 16:49 WIB
Komunitas Kendal Heritage
Komunitas Kendal Heritage

RADARSEMARANG.ID - Berawal dari minimnya kepedulian terhadap budaya, M Yusril Mirza menginisiasi Komunitas Kendal Heritage.

Tujuannya mengedukasi sejarah dan warisan budaya yang ada di Kendal. Selain itu upaya melestarikan warisan budaya yang rentan ditinggalkan.

Selama ini banyak masyarakat beranggapan warisan budaya tidak lagi penting, tidak menarik dan tidak populer atau memiliki relevansi dengan kondisi sosial yang ada sekarang ini. Sehingga warisan budaya menjadi objek yang kurang bernilai.

Salah contoh bangunan cagar budaya. Banyak yang dibiarkan begitu saja. Bahkan kondisinya kumuh dan tidak terawat. Akibatnya banyak bangunan cagar budaya di Kendal mengalami kerusakan.

Tak hanya cagar budaya, sampai kuliner khas Kendal menurutnya juga berpeluang hilang dan menjadi langka jika generasi muda saat ini tidak belajar dan tidak mengetahui cara pembuatannya.

Padahal jika dikembangkan dan dikelola, warisan budaya bisa memberikan pengetahuan dan nilai ekonomis untuk kesejahteraan masyarakat. Misalnya dijadikan destinasi wisata cagar budaya dan wisata kuliner.

“Sehingga bisa menarik minat masyarakat luas dan kepedulian warga Kendal untuk nguri-uri warisan budaya lokal,” katanya. .

Yusril menjelaskan, Kendal Heritage  resmi ia dirikan 16 September 2019 bersama dua temannya Galih Setyo Aji dan Asa Rajasa. 

Ia kemudian menginisiasi akun instagram Kendal Heritage. Tujuannya untuk menyebarkan konten edukasi perihal informasi tentang sejarah dan warisan budaya di Kendal. “Sasarannya adalah generasi muda,”  jelasnya.

Cara tersebut ternyata cukup efektif. 2020 ketika terjadi pandemi, keberadaan Kendal Heritage rupanya mendapat respon baik dari masyarakat Kendal.

Bahkan diketahui banyak sekali konten-konten dari Kendal Heritage yang kemudian disebarkan ulang oleh berbagai akun media sosial lainnya.

Alumni Arkeologi UGM itu  berharap Kendal Heritage dapat menjadi wujud kontribusi pelestarian warisan budaya daerah.

“Apalagi selama berkuliah di Yogyakarta, saya sedikit banyak memiliki pengalaman membangun komunitas pelestari cagar budaya,” akunya.

Dari awalnya tiga orang, saat ini Komunitas Kendal Heritage memiliki sekitar 10 anggota aktif. Para anggotanya tersebar di beberapa wilayah di Kendal, seperti Rowosari, Patebon, Weleri, dan Kangkung.

⁠Setiap anggota akan membuat konten-konten edukasi tentang warisan budaya yang dibuat berdasarkan hasil kajian penelitian maupun arsip oleh para anggotanya. 

Sehingga para anggota Kendal Heritage dapat belajar bersama tentang sejarah dan warisan budaya di Kendal.

Selain dengan menghasilkan konten-konten edukasi hasil riset, beberapa kali Kendal Heritage turut menginisiasi kegiatan bersama dengan komunitas lainnya, seperti diskusi online ‘Ngobrol Bareng’ dengan Komunitas Roemah Toea dari Yogyakarta.

Lalu sempat membuat Webinar Sastra dan Narasi Kemerdekaan dengan Pelataran Sastra Kaliwungu. Membuat Film Dokumenter tentang Matra Kalang Obong.

Selain berkegiatan dengan komunitas lainnya, Kendal Heritage sesekali akan melakukan blusukan bersama ke berbagai tempat bersejarah atau cagar budaya di Kendal.

Beberapa bangunan cagar budaya yang disambangi Kendal Heritage seperti bangunan bekas Pabrik Gula Gemuh, Situs Candi Bototumpang, Gedung Eks Kawedanan Boja, hingga beberapa situs marginal yang keberadaannya sangat terancam.

“Kegiatan ini selain untuk kembali bersama-sama juga untuk mengedukasi masyarakat sekitar yang ditemui ketika blusukan tentang pentingnya melestarikan tempat bersejarah,” tambahnya. (bud/fth)

Editor : Baskoro Septiadi
#heritage #komunitas