Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Mengenal Sosok Antasena dan Bambang Wisanggeni, Duo Ndugal Kewarisan di Babak Mahabarata Pada Pewayangan Jawa

Nurfa'ik Nabhan • Senin, 26 Agustus 2024 | 15:35 WIB
Wisanggeni (kiri), Antasena (kanan)
Wisanggeni (kiri), Antasena (kanan)

RADARSEMARANG.ID - Di dalam pewayangan Jawa terutama dalam babak Mahabaratha terdapat banyak penokohan didalamnya.

Terutama dalam Mahabarata terbagi dalam dua kubu yakni kubu Pandawa dan kubu Kurawa.

Kedua kubu tersebut memiliki sifat, watak, dan karakteristik yang saling bertolak belakang. Kubu Pandawa yang mencerminkan kebaikan dan kubu Kurawa mencerminkan keburukan atau kebatilan.

Namun didalam lakon atau cerita pada babak Mahabarata terdapat dua tokoh wayang yang terkenal dengan sebutan "ndugal kewarisan" yang rela mengorbankan dirinya untuk kemenangan Pandawa.

Dua tokoh tersebut yakni Antasena anak dari Werkudara dan Wisanggeni anak dari Arjuna.

Mari mengenal lebih dekat dengan dua tokoh pewayangan tersebut 

Antasena Ksatria dari Sapta Pertala

Antasena merupakan anak bungsu dari Werkudara atau Bimasena dan Putri Urangayu. Dimana Putri Urangayu ini merupakan anak dari Batara Baruna. 

Antasena dikenal dengan ksatria yang memiliki kekuatan yang luar biasa. Selain itu ia juga merupakan tokoh "ndugal kewarisan".

Antasena sendiri lahir dengan keadaan yang tidak biasa. Diceritakan pada lakon Kali Serayu Binangun, Werkudara dan Putri Urangayu menikah saat Pandawa dan Kurawa berlomba untuk membuat sebuah sungai. 

Namun setelah perlombaan itu usai, Putri Urangayu ditinggalkan Werkudara untuk kembali ke Kerajaan Amarta.

Singkat cerita, Kahyangan Suralaya diserbu oleh Prabu Dewa Kintaka dari Kerajaan Guwancinraka.

Saat itu Antasena masih dalam kandungan Putri Urangayu dan dikeluarkan oleh Sang Hyang Narada untuk maju dalam peperangan. 

Berkat perlindungan dari Sang Hyang Wenang, Antasena berhasil mengalahkan Prabu Dewa Kintaka beserta pasukannya. Setelah itu, Antasena diserahkan ke Sang Hyang Antaboga untuk dilatih menjadi ksatria.

Antasena sendiri memiliki beberapa keistimewaan. Diantaranya ia memiliki kulit yang terlindungi oleh sisik udang yang membuatnya kebal dengan berbagai senjata.

Tidak hanya itu, Antasena juga memiliki kemampuan untuk amblas ke bumi, terbang, dan dan menyelam di air. 

Bahkan Antasena juga memiliki kemampuan yakni Cupu Madusena yang mampu menghidupkan orang yang sudah mata.

Antasena sendiri memiliki senjata andalannya yakni pedang sakti yang bernama Gadaiswara yang mampu memancarkan api dan petir.

Wisanggeni Ksatriya dari Kahyangan Daksinageni

Wisanggeni atau Bambang Wisanggeni adalah putra dari Arjuna atau Janaka dengan Dewi Dresanala putri dari Batara Brahma.

Ia lahir di Kahyangan Daksinageni saat Arjuna menjadi raja Kahyangan Kainderan bergelar Prabu Karitin.

Kelahiran Wisanggeni ini berawal dari kecemburuan Dewasrani anak dari Batari Durga dan Batara Guru. Kecemburuan tersebut karena Arjuna menikah dengan Dewi Dresanala. 

Dewasrani pun meminta ibunya untuk memisahkan perkawinan Arjuna dan Dewi Dresanala. Kemudian Batari Durga meminta bantuan Batara Guru untuk memisahkan perkawinan Arjuna. Namun keputusan tersebut ditentang oleh Batara Narada yang berpihak kepada Arjuna.

Kemudian Batara Brahma berbohong kepada Arjuna dengan mengatakan Dewi Dresanala akan menjadi penari di kahyangan. Dengan begitu Arjuna tidak curiga dan kembali ke dunia manusia.

Sejak kepergian Arjuna, Dewi Dresanala dilasa untuk melahirkan sebelum waktunya. Bayu dari Dewi Dresanala akhirnya dimabi oleh Batari Durga dan Dewasrani lalu dibuang ke Kawah Candradimuka.

Melihat kejadian tersebut, Batara Narada langsung menyelamatkan Wisanggeni yang masih bayi tersebut. Nama Wisanggeni sendiri dari kata "wisata" yang berarti bisa atau racun dan "geni" yang berarti api. 

Singkat cerita Wisanggeni tumbuh menjadi pemuda kuat dan tak terkalahkan. Dan Wisanggeni membuat kekacauan di kahyangan, Batara Guru dan Brama mengakui kesalahan mereka.

Wisanggeni kemudian mencari ayahnya, Arjuna di Kerajaan Amarta dan meminta pengakuan sebagai anak.

Awalnya, Arjuna menolak, namun setelah dikalahkan Wisanggeni dalam pertempuran sengit, Arjuna akhirnya mengakui dan menemui Dewasrani di Kerajaan Tunggulmalaya. Melalui pertempuran yang berani, Wisanggeni berhasil menyelamatkan Dresanala.

Kesaktian Wisanggeni yang terkenal adalah "Racun Api" yang diperoleh dari Batara Brahma. Dimana siapapun yang terkena ludah atau tergigit oleh Wisanggeni akan bisa binasa dan mati.

Dua tokoh "ndugal kewarisan" tersebut akhirnya moksa bersama setelah mendapatkan amanah dari Sang Hyang Wenang untuk mencegah Batara Kala dan Batari Durga untuk ikut campur dalam perang Mahabarata. Keduanya pun tidak sempat ikut dalam perang tersebut dan memilih moksa bersama. (nun/bas)

 

 

Editor : Baskoro Septiadi
#batara guru #Dewi Dresanala #Tokoh Wayang #batara kala #batara brahma #kurawa #Batara Narada #janaka #Ndugal Kewarisan #mahabarata #Bimasena #arjuna #Kawah Candradimuka #batari durga #Putri Urangayu #werkudara #Pewayangan jawa #Pandawa