Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Kolektor Piringan Hitam dan Kaset Pita Asal Semarang Ini Punya Koleksi 500 Kaset, Semua Tentang Keroncong

Figur Ronggo Wassalim • Minggu, 7 Juli 2024 | 16:59 WIB
Ibnu Amar Muchsin bersama dengan ratusan koleksinya yang tertata rapi dan terawat. FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG 
Ibnu Amar Muchsin bersama dengan ratusan koleksinya yang tertata rapi dan terawat. FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG 

RADARSEMARANG.ID - Ibnu Amar Muchsin, sudah 24 tahun lebih mengoleksi piringan hitam dan kaset pita keroncong.

Di tengah kemajuan teknologi, ia tetap mempertahankan rekaman musik jadul tersebut. Semua terawat dan ada ratusan koleksi di rumahnya.

Sejak duduk di bangku SMA, ia sudah tertarik mendengarkan music. Di tahun 2002, kaset pita dan piringan hitam masih menjadi incaran untuk mendengarkan music.

Ia mengaku gemar mengoleksi berbagai piringan hitam atau vinyl dan kaset pita keroncong. 

Sebelum perilisan musik secara digital, rilisan fisik menggunakan Vinyl atau piringan hitam. Lalu kaset pita pada 1970-an dan berkembang ke CD dan digital. 

"Nah, yang aku koleksi ini diskografi musik keroncong rilisan Vinyl dan kaset pita," katanya.

Romo – sapaan akrabnya - mengoleksi berbagai Vinyl dan kaset pita musik keroncong produksi Lokananta, GNP, Musik, dan produksi lokal. Yang Vinyl paling susah didapatkan.

“Sampai saat ini koleksi ada 100 keping Vinyl atau piringan hitam dan 500an kaset pita,” ujarnya.

Diceritakan, saat duduk di bangku SMP, dirinya mulai menyimpan kaset pita. Lambat laun, SMA terus kuliah dan barang itu masih disimpan.

"Saya tidak menyangka, kalau barang jadi barang koleksi karena perkembangan zaman, kan," ujarnya.

Sementara untuk Vinyl atau piringan hitam, Romo mengoleksi sejak lima tahun ini. Sangat susah mendapatkannya. 

Kesusahannya seperti saat ingin mendapatkan piringan hitam musik musik keroncong Grup Tetap Segar. Namun, sudah masuk ke kolektor. Sehingga merogoh kocek yang cukup dalam.

"Kalau di loakan harganya Rp 50 - 100 ribu. Kalau sudah masuk ke kolektor ini sampai Rp 1 - 2 juta," katanya.

Untuk mendapatkan kaset pita harus berkeliling di Surabaya, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Bandung, dan Jakarta.

"Saya hanya memilih keroncong, karena saya juga minatnya keroncong, posisiku pelaku keroncong, peneliti keroncong, supaya terkoneksi dengan baik," jelasnya.

Ia menambahkan, kesulitan lainnya adalah ketika diskografi ingin mengetahui data dari karya keroncong untuk didengar. Sedangkan kolektor ini kan hanya mengoleksi saja, kata dia, tidak mendengarkan.

"Sehingga membahayakan, terutama Vinyl atau piringan hitam 78rpm berbahan shellac atau keramik tahun 30an, kolektor ini tidak memberikan ruang dengar ke masyarakat, sehingga saya ini Arsiparis," katanya.

Melalui diskografi tidak hanya menikmati musik saja. Namun, mengetahui sejarah perkembangan bentuk-bentuk kreativitas seniman. "Dari tahun ke tahun, grup musik ini bisa dianalisa ," ujarnya.

Ia mengoleksinya di Kedai Romo, Gunungpati. Ada ratusan kaset pita, Vinyl, alat musik keroncong, lukisan sejarah keroncong, dan buku tentang keroncong pun diarsipkan.

Sehingga para pengunjung dapat mendengarkan, bahkan bisa meneliti tentang keroncong. Apalagi anak-anak sekarang lagi nge-hits piringan hitam, karena audionya itu berbeda dari digital.

"Saat kita memutarnya terkesan lebih hangat, bulat, mantap dan tebal. Sedangkan digital ini terlalu clear. Sehingga malah menjadi mahal, sehingga anak-anak muda ini sadar dengan perjalanan keroncong. Sehingga anak cucu kita bisa membaca jejak kreativitas," ujarnya. (fgr/fth)

 

 

Editor : Baskoro Septiadi
#Kaset Pita #kaset #Kaset pita jadul #Keroncong