Ya, komunitas ini selain berkembang di Jepang, juga ada di Indonesia. Khususnya Semarang, seperti Itasha Culture Community (ICC) Semarang. Mereka merupakan gabungan dari para pecinta sepeda motor Itasha.
Itasha berasal dari kata itā yang berarti sakit. Jadi Itasha adalah kendaraan yang tersakiti. Mereka percaya dengan menempelkan stiker karakter anime sepeda motor merupakan bentuk ekspresi sakit, merusak visual motor dan siap dari persepsi masyarakat.
Ada berbagai modif, dari yang sepeda motor mencolok, sampai yang shoft. Komunitas ini menggabungkan kultur anime dalam otomotif. Ade, 24 warga Kabupaten Semarang, sebagai penggiat seni itasha.
Ia mengaku bergabung di ICC Semarang karena memang suka anime dan otomotif. Kebetulan juga bisa editing gambar anime.
“Sehingga saya mendapat banyak orderan menyunting dan mengaplikasikan itasha,” akunya.
Kebanyakan dari peminat baru, kisaran harga jasa stiker anime di sepeda motor berkisar Rp 450-900 ribu. Untuk gabung komunitas ini, syarat mudah. Cukup bisa aktif dalam berkegiatan saja di ICC.
ICC ini sering disebut wibu racing, komunitas ini mendapat tanggapan baik positif maupun negatif dari masyarakat.
Ada yang mengapresiasi kreatifitas, tapi ada juga yang berkomentar negatif. “Dari menganggap aneh, norak dan kekanak-kanakkan,” akunya.
Ketua ICC, Fathan, 23, warga Mijen mengatakan Wibu adalah bentuk ekspresi kecintaan pada kebudayaan Jepang. Orang yang disebut Wibu, kalau sudah menyukai sesuatu sangat totalitas.
Ia melihat ICC sebagai bentuk totalitas dari menyukai sebuah karakter kartun Jepang.
“Semoga ICC bisa lebih menjangkau masyarakat dan bisa diterima. Karena setiap orang bebas menyukai sesuatu tanpa harus mendapat stigma negatif dari orang lain,” katanya. (magang/bud)
Editor : Baskoro Septiadi