RADARSEMARANG.ID - Menggunakan busana kebaya ternyata tetap bisa terlihat modis, simpel, anggun, dan elegan. Itulah yang dilakukan seorang influencer, Alifia Hidayanti dan mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Undip, Anik Rusmiaty.
Sebagai orang Jawa, mereka merasa punya tanggung jawab untuk melestarikan budaya Jawa melalui kebaya dan kain tradisional.
Alifia Hidayanti merupakan perempuan yang sudah suka dengan fashion lawas. Tetapi ia baru mulai memutuskan untuk berkebaya dan berkain sehari-hari awal tahun 2022.
Dengan membawa gagasan serta harapan bahwa masyarakat terutama kaum muda untuk semakin peduli dan cinta terhadap budaya dan warisan leluhur.
“Awal-awal memakai kebaya sering dapet ledekan. Habis kondangan dari mana mbak? Tapi saya cuek aja,” aku Alifia Hidayanti kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Kebaya dan kain tradisional tersebut kebanyakan didapat secara turun-temurun dari simbah uti atau nenek, tidak sedikit juga yang beli dipasar tradisional.
Cara berpakaian mungkin masih terlihat asing atau tidak biasa bagi sebagian besar masyarakat.
Karena mengenakan kebaya dan kain tradisional biasa ditemui dalam acara formal. Seperti kondangan, wisuda, dan perayaan yang bertema kebudayaan.
“Saya hanya ingin menunjukan kebaya tetap cocok dan modis dipakai. Apalagi bisa dipadu padukan dengan berbagai kain atau fashion lain. Tinggal kita pede atau tidak,” tambahnya.
Hal sama dilakukan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Undip, Anik Rusmiaty. Ia ingin mengajak milenial melestarikan kebaya. Bangga menggunakannya sebagai fashion sehari-hari.
Semua itu sebagai bentuk rasa cinta terhadap budaya tanah air dan melestarikan dengan cara mempergunakannya.
“Ya saya bangga dan senang menggunakan kebaya. Perempuan milenial harusnya lebih aware sebenarnya kita memiliki kebaya yang tidak aneh untuk dijadikan fashion sehari-hari dan tetap bisa bergerak bebas walau memakai pakaian tradisional,” akunya.
Fashion lawas tersebut sebenarnya bisa menyesuaikan gaya dan referensi diri masing-masing penggunanya.
Seperti untuk pakaian kuliah atau kerja, bawahan bisa menggunakan kain tapi atasannya kemeja. Ditambah aksesoris yang lainnya untuk menunjang fashionnya biar lebih terlihat menarik dan cantik.
“Fashion berkebaya dan berkain harus dilestarikan karena kalau bukan kita mau siapa lagi. Kalau tidak dari diri sendiri dulu mau bujuk orang lain gimana. Jadi mulai dari diri sendiri akhirnya menginfluence orang-orang sedikit demi sedikit untuk orang lain,” tambah Anik Rusmiaty. (magang/fth)
Editor : Baskoro Septiadi