RADARSEMARANG.ID, Semarang - Ryan Barkaz mengoleksi radio sejak 2016. Uniknya, radio miliknya hampir semua jadul. Bahkan, koleksinya ada yang buatan tahun 1930.
Ratusan radio jadul tertata rapi di sebuah ruangan rumah Jalan Kanguru Selatan VII No 44 Kelurahan Gayamsari, Kecamatan Gayamsari. Ada sekitar 150 radio tabung dan 150 radio transistor. Semua normal dan bisa menyala.
Sesekali, seorang lelaki terlihat mengotak-atik radio tersebut. Itulah Ryan Barkaz pemilik Kanggoroe Vintage Store. Ia merupakan kolektor ratusan radio tabung dan radio transistor. Selain, itu Ryan juga menservis radio yang rusak.
“Radio ini dapat dari melalui sosial dari seluruh Indonesia, seperti Medan, Sulawesi, Kalimantan dan lainnya,” akunya.
Lelaki 41 tahun ini mulai gemar mengoleksi radio jadul sejak tahun 2016. Awalnya hanya mengoleksi radio transistor. Kemudian koleksinya bertambah merambah ke radio tabung.
Ia awalnya menyukai radio transistor berwarna. Sekitar tahun 2000 ia mulai sepeda robot, hingga pandemi covid-19 mulai sepi. "Saya lari ke radio, cari radio mati lalu memperbaikinya," jelasnya.
Sejak SMP, Ryan sangat menyukai barang lama. Seperti Tipe, kaset pita Koes Plus hingga lengkap. Hingga menikah, tidak memiliki pekerjaan, ia mencari barang antik.
"Pernah menyervis handphone, ketinggalan dengan android lalu beralih ke radio ini," akunya.
Dari situlah, Ryan memiliki bekal untuk memperbaiki radio. Ia bertemu dengan teknisi radio yang membimbingnya untuk servis radio. Service radio tabung berkisar Rp 600 - 700 ribu.
Radio yang baru datang, dibongkar dan diperbaiki agar bisa menyala. Paling lama sebulan untuk radio tabung.
“Lamanya itu menangkap sinyal, kalau menyala sih nyala. Tapi menangkap sinyal itu sulit," katanya.
Selain itu, sparepart atau jeroannya sulit dicari. Karena tidak terlalu familiar dan radionya aneh, seperti dari Jerman, dan Rusia. Sehingga harus hunting ke elektronik jadul, bongkaran toko.
Rata-rata radio dihargai Rp 1,5 juta hingga Rp 13 juta dengan kondisi menyala normal. Ryan memberi garansi mesin enam bulan dan garansi pengiriman.
"Karena pembeli inginnya aman, dan nyala ketika sampai. Tanpa diminta, tukar boleh, ganti uang boleh," tuturnya.
Radio tabung tertua yang dikoleksi tahun 1930 - 1960 yang termasuk antik. Berbahan kayu dan ebonit. Dari berbagai jenis merk dan berbagai negara.
Seperti Siegfried, Blaupunkt dan Telefunken dari Germany, Phillips dan Erres dari Holland, GEC dari England. "Ini yang paling kecil Phillips BIN ini sekitar 20 x 25 centimeter," katanya.
Sedangkan radio transistor uang dikoleksi dari tahun 1960 - 1980 yang termasuk jadul yang lebih kecil. Berbahan plastik. Harga termahal Rp 2,5 juta.
"Warna merah termahal, karena komunitas jadul itu paling mahal warna merah," katanya.
Salah satu pelanggan, Dwi Adhi Sena, mengaku sudah mengenal Ryan sejak empat tahun lalu. Awalnya, ia mengenal sejak sepeda robot jadul. Hingga, ia mampir ke rumahnya dan terpukau dengan koleksi radio antiknya.
"Saya membeli tiga radio tabung. Rencananya membeli radio transistor. Radionya buat di pajang di rumah," kata warga Pleburan ini. (fgr/mg8/mg9/m10)
Editor : Baskoro Septiadi