RADARSEMARANG.ID - Bersepeda dengan mengenakan setelan jas mewah dan mahal tentu menjadi hal yang kurang lazim. Tapi, ketidaklaziman itulah yang membuat perkumpulan Sepeda Onthel Necis ini ada.
Ya, para anggota Onthel Necis setiap kali bersepeda mereka tidak mengenakan pakaian sport seperti pesepeda pada umumnya. Komunitas pesepeda yang beranggotakan 10 orang ini, justru lebih memilih mengenakan pakaian ala pejabat atau seorang eksekutif muda.
Mereka akan bersepeda mengenakan setelan jas lengkap dengan dasinya, rompi tuxedo, blazer, sepatu pantofel, topi koboi, topi kodok dan sebagainya. Tak pelak, hal tersebut kerap mencuri perhatian warga dan pengguna jalan.
Perkumpulan pecinta sepeda tua ini, terbentuk 2021 silam. Dipelopori oleh Dody yang sudah lama mengoleksi sepeda onthel. Ia kemudian berinisiatif teman-teman dekatnya untuk ngonthel bersama keliling kota Semarang.
“Kami ini bukan komunitas, hanya sekumpulan orang yang memiliki visi sama. Yakni sama-sama menyukai sepeda onthel,” katanya.
Julukan Onthel Necis yang ia sematkan pada grupnya itu lantaran berangkat dari tampilan anggotanya. Dimana setiap ngonthel akan terlihat rapi alias necis.
“Komunitas onthel ini berbeda dengan dari kebanyakan komunitas pesepeda pada umumnya,” tutur Dody.
Pakaian serba necis, diakuinya bukan sembarangan atau sekedar cari sensasi semata. Melainkan, ada sejarah sepeda onthel pernah menjadi barang mewah dan mahal. Yakni pada era sebelum kemerdekaan alias zaman kolonial belanda.
Pada zaman itu, sepeda onthel adalah representasi masyarakat kelas atas. Sepeda hanya dimiliki oleh orang-orang belanda, para cendekiawan, dan pekerja kantoran.
Mereka biasa bersepeda mengenakan setelan jas, berdasi dan topi serta sepatu kulit menjadi ciri khas pengonthel zaman kolonial.
Dari itulah, ia ingin menghargai sepeda sebagai sebagaimana orang-orang terdahulu. Yakni saat awal sepeda masuk di negeri ini sebagai barang mewah.
“Awal mulanya waktu ngonthel itu kalau liat pengonthel lain kok mereka sepertinya kurang menghargai sepedanya, maksudnya kostumnya kok biasa,” tuturnya.
Kebetulan, anggota Onthel Necis ini memiliki kesenangan sama untuk belajar sejarah. Makanya ia lebih suka pengonthel zaman era kolonial sebelum kemerdekaan.
“Kami memperlakukan sepeda onthel sebagaimana zaman dahulu onthel diperlakukan sebagai barang mewah atau luxury goods,” kata ucap Markus, anggota Onthel Necis lainnya.
Perkumpulan ini biasa melakukan aktivitasnya untuk mengonthel pada pagi hari sekitar jam 6 dan sudah berkumpul di titik yang ditentukan.
Kemudian mereka akan mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Seperti gedung-gedung yang telah lama ditinggalkan, atau museum-museum yang menyimpan sejarah di Kota Semarang.
“Kami, ngonthel biasa sabtu dan berangkat dari pagi jam setengah 6. Setiap perjalanan ada rute tempat bersejarah yang akan kami kunjungi. Seperti bangunan-bangunan tua. Karena banyak sekali tempat-tempat bersejarah yang belum terekspos di Semarang,” imbuhnya. (mg6/mg5/mg7/bud)
Editor : Baskoro Septiadi