Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Legenda Kesegaran Dawet Ketan Pak Agus Khas Boyolali, Sebuah Perjalanan Rasa dari Terminal hingga ke Hati Pelanggan

Magang Radar Semarang • Minggu, 15 Februari 2026 | 05:38 WIB

Dawet Ketan Pak Agus Khas Boyolali.
Dawet Ketan Pak Agus Khas Boyolali.

RADARSEMARANG, ID - Kisah semangkuk dawet ketan Pak Agus di Silayut Ngaliyan Semarang yang segar ini tidak muncul begitu saja, melainkan lahir dari sebuah perjalanan sederhana yang penuh inspirasi.

Sang pemilik, yang merupakan istri dari Pak Agus, mengisahkan bahwa ide usaha ini muncul saat dirinya sedang bepergian menuju Solo.

Ketika beristirahat di sebuah terminal, ia mencicipi sajian dawet yang menurutnya sangat istimewa.

Rasa lezat itulah yang kemudian ia ceritakan kepada suaminya, hingga akhirnya niat untuk membuka usaha sendiri benar-benar terlaksana.

Akar sejarah usaha ini telah dimulai sejak bulan Mei tahun 2012.

Selama lebih dari satu dekade perjalanannya, kedai dawet ini telah menjadi saksi bisu perubahan ekonomi yang terekam jelas dari sejarah harganya.

Sang pemilik mengenang masa-masa awal merintis usaha ini dengan harga yang sangat terjangkau bagi masyarakat.

"Pas awal jualan Rp2.000, terus nambah Rp. 2500, Rp. 3000 dan sekarang Rp. 4000" ungkapnya mengenang memori tersebut, Selasa (10/2/2026).

Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya biaya bahan baku, harga tersebut mengalami penyesuaian secara bertahap, mulai dari Rp2.500 hingga Rp3.000, dan kini menetap pada angka Rp4.000 untuk satu porsi standar.

Bagi pelanggan yang menginginkan sensasi rasa yang lebih kaya dan tradisional, tersedia pilihan menggunakan tape dengan harga Rp5.000 per porsinya.

Keunikan dari Dawet Ketan Pak Agus ini terletak pada bagaimana sajiannya mampu memikat berbagai generasi dengan selera yang berbeda-beda.

Menariknya, selera pembeli biasanya terbagi secara alami berdasarkan kategori usia.

"Kalau anak-anak sukanya ketan dikasih kuah, kalau orang tua ya komplet. Ada ketan, ada tape," tuturnya menjelaskan selera pelanggan.

Menu komplet dengan tambahan tape singkong menjadi produk yang paling sering diburu pelanggan. Sehingga tak jarang stok tape sudah habis sebelum tutup.

Kekuatan utama dari keberlangsungan usaha ini juga terletak pada nilai kekeluargaan yang kental dalam pengelolaannya.

Usaha ini bukan dijalankan oleh orang asing, melainkan bahu-membahu oleh istri Pak Agus bersama anak, menantu, hingga adik-adiknya.

Mereka menerapkan sistem pembagian tugas yang sangat teratur.

Kedai ini mulai menyapa pelanggan setiap pagi pada pukul 10.00 WIB dan biasanya akan mengakhiri aktivitas operasionalnya sekitar pukul 14.30 WIB.

Membawa kesegaran bagi siapa saja yang melintas di tengah teriknya matahari. (mg5/mg6/ mg7/mg8/mg9)

 

Editor : Baskoro Septiadi
#es dawet legendaris #makanan manis #Kuliner sehat