Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Sudah Berdiri Sejak 1948 dan Jadi Langganan Presiden, Begini Sejarah Perjalanan Kuliner Legendaris Soto Bangkong Semarang

Ida Fadilah • Minggu, 8 Juni 2025 | 18:04 WIB

 

Soto Bangkong menjadi salah satu kuliner wajib yang harus dicicipi saat berkunjung di Kota Semarang. IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG
Soto Bangkong menjadi salah satu kuliner wajib yang harus dicicipi saat berkunjung di Kota Semarang. IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.ID - Kota Semarang memiliki berbagai kuliner legendaris dan sampai saat ini masih tetap eksis. Salah satunya adalah Soto Semarang. Soto khas yang dikenal dengan kuah bening, gurih, dan aroma rempah yang khas.

Salah satu soto Semarang yang legendaris adalah soto Bangkong. Soto ini sudah ada sejak 1948. Sekarang, menjadi salah satu favorit dan langganan Presiden RI.

Presiden ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke 7 Joko Widodo kerap menikmati soto Bangkong ketika berkunjung ke Kota Semarang.

Termasuk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sejumlah menteri dan pejabat negara.

"Siapapun pelanggannya tetap diberitakan pelayanan utama. Sejarah dari bapak saya itu tidak akan saya lupakan, Insya Allah. Orang tua selalu mengajarkan kepada kami jangan sombong. Ingat kamu adalah anaknya penjual soto," kata Anik Listyowati, generasi kedua yang mengelola Soto Bangkong.

Ia melanjutkan usaha kuliner legendaris dari orangtuanya H Soleh Sukarno dan Hj Muslimah. Ada beberapa cabang setelah kedua orang tuanya meninggal.

Meski begitu, wanita 63 tahun ini tetap fokus di resto utama Soto Bangkong di samping kantor Pos Jl Brigjen Katamso, Semarang Selatan.

Bicara soal rasa, tidak berbeda dengan soto Semarang lainnya. Sebetulnya masalah soto masakan rumahan.

Semua orang bisa. Yang membedakan dalam melayani konsumen harus selalu sumeh dan menggunakan 'rasa' dalam hati. Kemudian penyajiannya juga apik.

Selain cepat, lauk pauk seperti aneka sate, perkedel maupun tempe goreng baru disuguhkan bersamaan dengan datangnya soto. Tidak dijejer di meja.

Hal itu untuk memastikan higienis, serta menghindari pelanggan yang hanya menyentuh lauk namun tak diambil.

"Jadi kalau cita rasa memang kita harus mengutamakan kualitas ya, pelayanannya," tuturnya.

Sebelum seperti sekarang, orang tuanya berjualan ider alias keliling di sekitar Jalan Brigjen Katamso.

Kalau sudah pukul 18.00 WIB dagangannya masih sisa kemudian jualan di kawasan ke Bioskop Gelora.

Kemudian berjualan menetap dengan diawali emplek-emplek atau warung sederhana di samping kantor Pos Bangkong Semarang. Tahun 2003 sang ibu sakit dan ada keinginannya ingin memperlebar.

"Sebelum terwujud sudah dipanggil Allah. Setelah itu akhirnya beli di sebelahnya. Ya jadi seperti sekarang ini," akunya.

Ia diberi pesan untuk berkomitmen dengan ajaran orang tuanya, salah satunya banyak bersosial dan sedekah, kemudian dengan siapapun tidak membedakan. Yang ditekankan adalah pelayanan maksimal bersama 30 karyawannya.

Dalam sehari, rata-rata menghabiskan 50-70 ekor ayam kampung. Kalau hari libur menghabiskan 100 ekor ayam.

"Sebagaimana peninggalan bapak, hanya fokus menyediakan soto daging ayam kampung, tidak menyediakan soto daging," tambahnya. 

Di sisi lain, Soto Bangkong menjadi pelopor terselenggaranya Soto Vaganza yang digelar Pemerintah Kota Semarang saat perayaan ulang tahun. Kegiatan itu untuk saling merekatkan, guyub rukun antar sesama penjual soto. (ifa/fth)

 

Editor : Baskoro Septiadi
#semarang #soto bangkong #Kuliner #khas #legendaris