Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Dipercaya Bawa Keberuntungan Tahun Baru Imlek Ikan Dingkis Banyar Dicari Warga

Falakhudin • Rabu, 29 Januari 2025 | 12:28 WIB
Dipercaya Bawa Keberuntungan Tahun Baru Imlek Ikan Dingkis Banyar Dicari Warga
Dipercaya Bawa Keberuntungan Tahun Baru Imlek Ikan Dingkis Banyar Dicari Warga

RADARSEMARANG.ID, Semarang — Tidak seperti perburuan ikan lainnya yang mengandalkan alat modern, perburuan dingkis dilakukan dengan cara tradisional.

Para nelayan hanya menggunakan kayu, jaring, dan bubu sebagai alat tangkap.

Namun, hasilnya tidak bisa diprediksi. Untung-untungan.

 

Ada kalanya bubu penuh dengan ikan dingkis, namun tidak jarang juga pulang dengan tangan kosong.

Meski penuh ketidakpastian, nelayan tetap antusias menanti momen ini.

Menariknya, ikan dingkis sebenarnya bertelur tiga kali dalam setahun.

 

Namun, masa menjelang Imlek selalu menjadi waktu yang istimewa.

”Ikan dingkis ini seperti berkah di kala Imlek.

Kalau dapat banyak, rezeki nelayan juga banyak,” kata Kepala Dinas Perikanan Yudi Atmadji

Tradisi perburuan dingkis bukan sekadar soal ekonomi, tetapi juga sarat akan nilai-nilai budaya.

Suara gelak tawa nelayan, gemuruh ombak, hingga cerita-cerita yang dibagikan di atas perahu menjadi warna yang melengkapi suasana.

 

Semangat dan doa terus mereka panjatkan agar bubu yang terangkat dari dasar laut membawa banyak rezeki.

”Semalam (kemarin) tak dapat, hari ini begini.

Air keruh pula. Belum ada dapat seekor dingkis pun,” kata salah seorang nelayan yang ditemui di Perairan Pulau Pecong Jali.

Dia mengatakan, isu buaya juga membuatnya merasa waswas.

Sehingga, dia tak sendirian untuk memanen dingkis. ”Sama anak,” ucapnya singkat.

Hal senada diucapkan Tayib.

 

Isu buaya juga membuatnya agak takut-takut.

Meskipun begitu, panen dingkis adalah sebuah keharusan.

Harga dingkis, kata Tayib, sekitar 27 dolar Singapura (SGD) per kilogramnya atau setara Rp300 ribuan.

”Mau tak mau panen. Tak sebanyak semalam (kemarin),” ujarnya.

Dia mengatakan, ikan dingkis dipanennya seberat 30 kilogram.

 

Ikan tersebut didapatnya dari empat kelong miliknya.

”Keberuntungan lagi tak bagus,” tuturnya diiringi gelak tawa.

Namun, keberuntungan kemarin, tak menjadi alasan baginya tak memanen dingkis hari ini.

Waktu panen dingkis masih ada sekitar dua hari lagi.

Tayib optimistis, esok atau lusa, ikan dingkis didapatnya akan jauh lebih banyak dan besar.

 

Sikap optimistis bukan tanpa alasan.

Berdasarkan pengalamannya bertahun-tahun, ikan dingkis akan jauh lebih besar dan banyak didapat di H-1 dan hari H imlek.

”Telur-telurnya bisa lebih besar.

Semoge saje,” ucap dengan dialek Melayu yang cukup kental.

Bagi masyarakat Tionghoa, ikan dingkis diolah untuk berbagai jenis makanan khas Imlek.

Masyarakat Melayu pesisir juga memiliki olahan khas, salah satunya ikan dingkis masak lengse.

 

Kak Tien, begitulah panggilan akrab perempuan yang ditemui di Pulau Pecong.

Dia mengatakan, ada tiga cara umum dalam mengolah ikan dingkis.

”Lengse (digoreng dengan minyak yang minim), bakar, dan asam pedas,” ucapnya.

Tiga cara pengolahan ikan dingkis ini, sama-sama sedapnya.

Dia mengatakan, ikan dingkis di kala Imlek agar berbeda dibanding periode lainnya.

 

”Ikannya tak terlalu amis, dan punya telur-telur yang lezat,” ujarnya.

Kak Tien dengan cekatan membakar ikan dingkis yang baru saja ditangkap dari kelong. ”

Ini cuma bumbu sederhana, perasan jeruk sama garam saja,” katanya sembari membolak-balik ikan di atas bara.

Begitu ikan matang, warna cokelat keemasan dengan sedikit gosong di tepinya tampak menggoda.

Saat dicicipi, sensasi smoky berpadu dengan legitnya ikan segar langsung menyeruak.

Meski hanya dengan bumbu sederhana, rasa ikan dingkis bakar ini sungguh maknyos.

 

”Bumbu tak perlu banyak, yang penting ikan segar,” ujar Kak Tien sambil tersenyum.

Selain dibakar, Kak Tien juga menghidangkan ikan dingkis masak lengse.

Teknik memasak lengse ini khas Melayu, yakni dengan menggoreng ikan menggunakan sedikit minyak.

Hasilnya, tekstur ikan menjadi pas, tidak terlalu kering, tetapi tetap lembut.

Saat suapan pertama, rasa manis dan gurih ikan dingkis terasa dominan.

Ditambah sambal asam khas Pulau Pecong, hidangan sederhana ini menjadi luar biasa.

 

Nasi panas, sambal asam, dan ikan lengse ini sudah lebih dari cukup untuk bikin kenyang, bahagia.

Makanan ini tak hanya tentang rasa, tetapi juga tentang pengalaman, cerita, dan kehangatan tradisi pesisir yang akan selalu diingat.

Namun, makan ikan dingkis saat Imlek, kata Tien, pahit.

Istilah ini bukan merujuk ke rasa. Tapi, bagi masyarakat Melayu istilah ini merujuk akan harga ikan dingkis.

”Pahitt. Harganya mahal, bagus dijual. Paling kita makan seekor atau dua ekor je. Selebihnya jual, nanti makan dingkis pas tak Imlek saje,” ujarnya.

 

Ikan dingkis menjadi komoditas paling menjanjikan di kala Imlek.

Data Dinas Perikanan menunjukkan, pada Januari 2024 sebanyak 7.540 kilogram ikan dingkis diekspor ke Singapura.

Angka itu melonjak menjadi 23.145 kilogram di Februari, dan mencapai 1.091.404 kilogram pada Maret.

Sementara di bulan lainnya, seperti April dan Mei rata-rata ekspor sekitar 6 ribuan kilogram ikan dingkis.

”Juni sama Desember diekspor 3.500 sampai 4.000 kilogram ikan dingkis,” Ujar Yudi.

 

Komoditas dingkis, menjadi salah satu andalan eskpor sektor perikanan di Januari dan Maret.

Sehingga hal ini membuat nelayan mendirikan ratusan kelong dingkis.

”Jumlah ini bisa bertambah.

Sebab, untuk membangun satu kelong biayanya mulai dari Rp10 jutaan.

Sementara untungnya lumayan. Sebab, sekali buat kelong bisa tahan hingga 4 atau 5 tahun,” ucap Yudi.

Saat musim dingkis, menjadi berkah tersendiri bagi nelayan.

Akibat dingkis, beberapa nelayan bisa menunaikan hajatnya, naik haji, sekolahkan anak, umrah atau menabung.

 

”Tapi di musim kali ini, agak takut-takut juga para nelayan. Buaya menjadi ancaman. Banyak nelayan tak sendirian, mereka bawa anak atau sanak saudaranya,” ucap Yudi.

Sebab, untuk panen dingkis ini harus menyelam, demi memastikan ikan sudah masuk perangkap bubu.

Sementara, isu buaya agak membuat nelayan khawatir untuk panen dingkis.

Menjelang perayaan Imlek, harga pasaran ikan jenis ini melonjak dari biasanya Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram dapat mencapai Rp220 ribu per kilogram.

Bahkan, ikan yang berisi telur dan ukurannya lebih besar bisa dihargai hingga Rp300 ribu per kilogram.

 

Tingginya permintaan ini tidak lepas dari tradisi masyarakat Tionghoa yang kerap menyajikan ikan dingkis dalam perayaan, baik dengan cara dikukus (steam fish) maupun dipanggang.

Pada momen Imlek, permintaan ikan dingkis ke Singapura sangat tinggi, maka para pengepul ikan pun sigap dalam menjemput hasil tangkapan para nelayan untuk dikumpulkan ke tempat penampungan ikan.

Ikan dingkis memiliki nilai ekonomi yang signifikan bagi nelayan lokal, dan dengan adanya musim Imlek, sekali dalam setahun, menjadi kesempatan bagi para nelayan untuk mendapatkan lebih banyak ikan itu.

Dalam satu hari, nelayan dapat menghasilkan belasan hingga puluhan kilogram dingkis, yang jika dihitung, nilainya mencapai jutaan rupiah, bahkan puluhan juta.

Nelayan Latif menceritakan bahwa ia sukses menjual ikan dingkis sebanyak 5 kilogram dengan harga Rp1,7 juta.

 

Ia biasa mendapatkan puluhan kilo dalam sehari, dengan harga di atas Rp200 ribu.

Nelayan yang memiliki empat kelong itu rutin mengecek perangkap tradisionalnya dengan menyelam dan membersihkan bubu dari daun-daun yang ikut terperangkap.

Dengan puncak musim ikan dingkis berakhir pada 27 dan 28 Januari 2025, kesuksesan nelayan dalam memanen ikan dingkis tidak terlepas dari dukungan Dinas Perikanan.

Menurut Kepala Dinas Perikanan Yudi Admajianto pihaknya telah memberikan berbagai bantuan berupa alat tangkap, mesin tempel, hingga bubu yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan.

Melalui bidang perikanan tangkap, para nelayan mendapatkan bantuan sarana dan prasarana, seperti bubu dan jaring, yang tidak hanya digunakan untuk menangkap ikan dingkis, tetapi juga untuk ikan jenis lainnya.

Dinas Perikanan juga bekerja sama dengan balai karantina ikan untuk memastikan ikan yang diekspor, khususnya ke Singapura, memenuhi standar kualitas.

 

Pada tahun 2024 dan perayaan Imlek yang jatuh pada tanggal 10 Februari, jumlah ikan dingkis yang dipanen mencapai 23 ton di bulan Februari dan 1901,4 ton di bulan Maret, periode yang disebut sebagai “dingkis balik”.

Proses pendataan dilakukan oleh dinas perikanan melalui pengepul di Pulau Siali, yang menjadi pusat distribusi hasil tangkapan dari Pulau Pecong, Pulau Kasu, hingga Pulau Terung.

Dengan harga yang terus meningkat dan minat masyarakat yang semakin besar, ikan dingkis dari Belakangpadang menjadi favorit para pelanggan.

Perburuan ikan dingkis di Belakangpadang bukanlah hal baru.

Tradisi ini telah berlangsung selama puluhan tahun, menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

 

Panen ikan dingkis, biasanya terjadi tiga kali dalam setahun, tergantung pada kondisi laut dan musim angin.

Pada musim angin barat, ikan dingkis bertelur, meskipun harga jualnya tidak setinggi menjelang Imlek.

Menurut catatan dinas perikanan, keberhasilan panen ikan dingkis selalu menjadi rezeki tambahan yang sangat berarti bagi nelayan, dengan hasil penjualan yang dapat mencapai puluhan juta per hari.

 

Karena itu para nelayan selalu menanti momen tersebut, dan antusiasme mereka pun dapat dirasakan pada setiap kelong.

Meskipun ikan dingkis memberikan keuntungan besar, proses penangkapannya penuh tantangan.

Kondisi perairan yang tidak dapat diprediksi, cuaca yang tidak menentu dan arus laut yang tidak dapat dikendalikan, menjadi bagian dari keseharian nelayan.

  

Namun, dengan dukungan Pemerintah dan kerja sama antarnelayan dan pengepul ikan, harapan untuk mempertahankan tradisi panen ikan dingkis tetap tinggi.

Seiring dengan meningkatnya permintaan dari pasar lokal maupun internasional, potensi ekonomi dari ikan dingkis diharapkan terus berkembang.

Dengan menjaga tradisi ini dan mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan dan tradisional, panen ikan dingkis akan terus menjadi lahan rezeki bagi masyarakat pesisir di Batam.

 

Pelestarian Ikan dingkis terus dijaga, dengan siklus panen yang tetap hanya 3-4 kali per tahun, menunggu ikan dingkis untuk masuk ke dalam perairan dan menggunakan alat tangkap tradisional. (fal/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#ikan dingkis diolah untuk berbagai jenis makanan khas Imlek #Pelestarian Ikan dingkis #ikan dingkis saat Imlek #ikan dingkis #Dinas Perikanan #masyarakat tionghoa #Perairan Pulau Pecong Jali #ikan dingkis masak lengse #Tiga cara pengolahan ikan dingkis #Kepala Dinas Perikanan Yudi Admajianto #Teknik memasak lengse #dolar Singapura #Masyarakat Melayu pesisir