RADARSEMARANG.ID - Nama warungnya Soto Pojok Pak H Dul. Namun menu yang terkenal justru brongkos. Dan menjadi salah satu warung makan yang legendaris di Magelang. Berdiri sejak 1969.
Soto H Pak Dul awalnya berlokasi di Pasar Muntilan, Kabupaten Magelang. Kemudian pindah ke lokasi sekarang, Jl Pemuda no 9 Muntilan pada tahun 2017.
Usaha yang dirintis Pak Dul ini tidak hanya menyajikan soto. Tapi ada brongkos, pecel, ayam goreng, rames, opor ayam.
Untuk menu soto ada soto ayam, soto babat dan soto koyor. Menu brongkos justru yang menjadi legendaris.
Brongkos mulai disajikan sejak warung itu buka tahun 1969. Kala itu, belum banyak yang berjualan brongkos.
Potongan daging yang empuk dan bumbu yang meresap membuat setiap suapan terasa nikmat. Ditambah kuah kentalnya yang manis pedas.
“Tidak ada resep rahasia dari masakan-masakan ini. Hanya menggunakan racikan bumbu yang pas dan berkualitas. Sebelum dihidangkan, masakan selalu dicicipi terlebih dahulu oleh saya. Untuk mengetahui apakah racikannya sudah tepat atau belum,” ujar Rumini, pemilik Soto Pojok Pak H Dul.
Rumini merupakan istri Pak Dul. Setelah suami meninggal, ia meneruskan usahanya. Nantinya warug ini diteruskan oleh anak sulungnya.
Pak Dul merintis usaha pada tahun 1969 di Pasar Muntilan. Karena pembelinya semakin banyak, lalu pindah ke lokasi sekarang. Berada di pinggir jalan utama. Sehingga mudah dijangkau pembeli.
Pelanggan Soto Pojok Pak H Dul tidak hanya dari Magelang. Namun juga dari Jogjakarta, Klaten, Solo, Semarang, dan sekitarnya.
Menu soto babat disajikan dengan kuah bening dipadu potongan babat yang lezat. Kuah segar membuat kombinasi sempurna untuk cita rasa soto babat tersebut. Pelanggan boleh memesan sambal yang tingkat pedasnya terasa pas di lidah.
Salah seorang pelanggan, Ahmad warga Semarang mengaku cocok dengan menu yang disajikan di Soto Pojok P H Dul.
“Bumbunya itu meresap hingga dagingnya. Saya juga pesan soto. Kuahnya segar sekali, dan rempahnya terasa,” ujar Ahmad.
Ia mengaku sudah beberapa kali mengunjungi Soto Pojok Pak H Dul. Ia juga cocok dengan menu-menu tradisional yang disajikan di warung tersebut.
“Harganya menurut saya masih terjangkau. Sehingga saya dan keluarga suka makan di sini” tambahnya. (mg1/mg2/mg3/lis)
Editor : Baskoro Septiadi