Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Angkringan Pak Gik Semarang, Menyantap Nasi Bungkus di Pinggir Kali

Agus AP • Minggu, 4 Juni 2023 | 18:06 WIB
Aneka macam makanan yang dijual di angkringan Pak Gik. (Muhammad Hariyanto/Jawa Pos Radar Semarang)
Aneka macam makanan yang dijual di angkringan Pak Gik. (Muhammad Hariyanto/Jawa Pos Radar Semarang)
RADARSEMARANG.ID, Semarang - Nama angkringan Pak Gik sudah tak asing lagi di telinga penggemar kuliner malam Semarang. Menunya tak semewah rumah makan, namun pelanggannya datang dari berbagai kalangan. Mulai anak muda pelajar, mahasiswa hingga pejabat di Kota Semarang. Selain asyik menyantap makanan, juga untuk menikmati malam alias nongkrong.

Angkringan Pak Gik berlokasi di Jalan Inspeksi, Gajah Mada, tepi Kali Semarang. Lapaknya tidak luas, hanya berukuran dua meter dengan panjang sekitaran lima meter. Hanya menggunakan meja, yang di atasnya terdapat sajian menu makanan, seperti halnya nasi bungkus dan terdapat tulisan, nasi gurih, termasuk nasi rambak dan nasi kuning, rendang ayam, nasi telor, dan nasi telor. Bungkusan nasi dalam kertas juga tidak besar, hanya sekepal tangan orang dewasa.

Kemudian ada juga, makanan gorengan, mulai mendoan, pangsit. Ada juga tempe pia-pia, lumpia. Rata-rata, gorengan tersebut masih hangat, sama juga dengan nasi bungkusnya. Selain itu, juga ada menu sate-satean berupa telur puyuh, termasuk sosis yang dibalut bumbu pedas.

Jumat (2/6) menjelang berganti Sabtu (3/6), tampak yang datang mulai kalangan muda-mudi maupun dewasa. Penampilan pelanggan cewek juga bervariasi, ada yang berhijab. Kemudian ada yang celana street, celana pendek, rok mini dan mengenakan kostum ketat. Sementara para cowok tak kalah gaulnya.

"Baru kali ini datang kesini. Kalau nama Pak Gik dengar sudah lama. Penasaran, terus diajak teman ke sini. " ungkap Syafik yang duduk lesehan di trotoar tepi Jalan Gajahmada.

Syafik mengakui, pembayaran pesanan makan tersebut secara patungan. Totalnya mencapai Rp 67 ribu bersama empat temannya. Ia pun mengeluarkan uang Rp 20 ribu. Datang ke tempat tersebut usai nongkrong di Jalan Pahlawan.

"Tadi ada yang makan satu nasi, ada yang goreng-gorengan. Tidak banyak. Kalau aku makan dua nasi, nasi gurih sama nasi rambak. Sama gorengan pia-pia, enak masih anget-anget gitu," jelas mahasiswa akhir di perguruan tinggi di Kota Semarang, asal Jepara ini.

Mereka yang datang juga tidak hanya kalangan pengendara motor. Namun ada juga yang turun dari mobil. Meski didominasi plat nomor H, ada juga yang bernopol AD, K, ada juga yang terlihat luar Jawa BH, di bahu jalan, persisnya jembatan inspeksi.



Salah satu juru parkir, Wiwid, mengakui kendaraan yang parkir dari pelanggan Pak Gik sangat banyak. Mereka dari berbagai kalangan. Menurutnya, sekarang ini ramai pengunjung mulai pukul 20.00 sampai pukul 01.00.

"Pernah ada anggota dewan yang datang ke sini. Ya meski tidak kenal, tapi tahu wajahnya, dia orang semarang sendiri. Paling banyak ya mahasiswa, pekerja," katanya.

Sementara, Sudarwanto mengakui merupakan generasi kedua setelah Sugijo atau Pak Gik, mertuanya meninggal. Pria ini membeberkan, Pak Gik membuka usaha tersebut sejak 1967.

Namun lokasi jualan tersebut tidak berada di tempat sekarang ini. Berawal dari angkringan dengan pikulan, lalu ganti gerobak hingga menetap di Jalan Inpeksi hingga sekarang.

Menurutnya, ada juga pembeli yang kedapatan curang dalam menghitung menu yang dimakan.

"Namanya manusia, ada yang jujur ada yang tidak. Tapi kalau bapak dulu hanya pasrah, semua rezeki dari Allah. Pisan pindo dibiarkan, kalau diulangi berkali-kali ya kita tegur," bebernya. (mha/ton) Editor : Agus AP
#angkringan Pak Gik #kuliner malam Semarang #Kuliner Semarang