Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Banyak Rumah Makan Menjual Nama Daerah, Padahal Pemiliknya Orang Semarang

Agus AP • Minggu, 26 Maret 2023 | 18:32 WIB
Rumah Makan Padang Murah Jaya di Jalan Wotgandul Barat, pemiliknya warga Semarang. (PUTRI SELLA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Rumah Makan Padang Murah Jaya di Jalan Wotgandul Barat, pemiliknya warga Semarang. (PUTRI SELLA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID - Banyak warung atau rumah makan yang menjual nama daerah. Ada Rumah Makan Padang, Soto Lamongan, Sate Madura, Warung Tegal, Sate Blora, Soto Solo, Ketoprak Jakarta, dan lainnya. Namun benarkah pemilik rumah makan itu benar-benar berasal dari daerah tersebut?

Bisnis kuliner memang menjanjikan. Tak heran banyak rumah makan, kafe, resto, dan warung kaki lima berdiri di Kota Semarang. Di antara rumah makan itu menggunakan nama daerah. Rumah Makan Padang salah satunya.

Hampir di setiap sudut Kota Lunpia berdiri Rumah Makan Padang. Termasuk di kawasan kampus yang menawarkan harga murah. Rumah makan ini dengan ciri khas etalase kaca yang menjorok ke depan.

Semua menu makanan ditata rapi di etalase itu. Menu andalannya rendang, daun singkong, dan sambal hijau. Selain itu, juga udang goreng, perkedel, lele, ayam goreng, dan paru sapi.

Tapi, benarkah pemilik Rumah Makan Padang pasti asli Padang, Sumatera Barat? Ternyata tidak. Faktanya, ada yang sama sekali tidak punya darah Minang. Misalnya, Rumah Makan Padang Murah Jaya di Jalan Wotgandul Barat. Ternyata pemiliknya asli Kota Semarang. Rumah makan yang dirintis sejak 2014 itu sekarang sudah memiliki empat cabang. Yakni, di Jalan Citarum, Jalan Malangsari, Jalan Wotgandul Barat, dan Jalan Kaligawe.

Pemilik Rumah Makan Padang Murah Jaya, Dion, menggunakan jasa koki untuk memasak. Misalnya, di  cabang Jalan Wotgandul Barat, ia memiliki tiga karyawan, salah satunya asli Padang Solok. “Pemiliknya memang bukan asli Padang, tapi saya yang kebetulan asli Padang Solok yang menjadi juru masaknya,” kata Mahbub Junaedi, karyawan asli Solok.

Mahbub mengakui banyak Rumah Makan Padang di Semarang. Masing-masing memiliki ciri khas tersendiri. Untuk RM Padang Murah Jaya, terkenal dangan harganya yang murah.

“Harga seporsi makanan paling murah Rp 12.000, dengan menu nasi telur dadar. Sedangkan yang paling mahal Rp 19.000 dengan menu nasi rendang,” ujarnya.

Dibanding dengan rumah makan Padang lain, tentu harga ini tergolong murah. Sebab, yang lain bisa antara Rp 20.000-Rp 40.000 seporsi.

Meski pemiliknya bukan asli Padang, Mahbud menjamin rasa dan kualitasnya tetap sesuai standar rumah makan Padang pada umumnya. “Saya sudah bekerja di sini selama delapan tahun. Alhamdulillah, pelanggannya sudah banyak,” katanya.



Photo
Photo
Soto Ayam Lamongan Lorenzo di Jalan Sambiroto menggunakan spanduk kain lukis. (FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Warung makan dengan nama daerah yang juga marak di Kota Semarang adalah Soto Ayam Lamongan. Bahkan di salah satu jalan protokol, terdapat lebih dari satu warung makan Soto Ayam Lamongan. Ada yang berjualan di bangunan permanen maupun kaki lima.

Di Jalan Sambiroto, Tembalang misalnya. Setidaknya ada tiga warung Soto Ayam Lamongan yang jaraknya berdekatan. Yakni, Soto Ayam Lamongan Lorenzo Cak Fathur, Soto Ayam Lamongan Cak Brengos 3, dan Soto Ayam Lamongan Barokah.

Di Soto Ayam Lamongan Lorenzo Cak Fathur kemarin, suasananya tampak ramai. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo kerap mampir di warung ini.

Pemilik warung Cak Fathur menjelaskan perbedaan yang mencolok dari Soto Ayam Lamongan yakni dari cita rasanya. "Entah itu kurang garam, kaldunya kurang nendang, ayamnya kurang banyak. Dan pembeli sering membandingkan kok rasanya beda," ujarnya.

Cak Fathur tak menampik, tak sedikit warung Soto Ayam Lamongan yang pemiliknya bukan asli Lamongan, Jatim. Ia pun sedikit membocorkan, ciri khas warung Soto Ayam Lamongan yang benar-benar asli Lamongan biasanya menggunakan spanduk kain yang dilukis. Karena lebih awet dan menjadi ciri khasnya.

"Kalau ditanya asli Lamongan dia menghindar, pasti bukan asli Lamongan, dan biasanya tulisannya menggunakan MMT. Kalau yang benar-benar asal Lamongan, biasanya menggunakan spanduk kain yang dilukis. Bikinnya butuh waktu sebulan," katanya sambil menunjukkan KTP yang benar-benar asli Lamongan.

Ia mengaku sudah berjualan Soto Ayam Lamongan sejak 2009.  Nama Lorenzo merupakan akronim dari “Lor-e Bengawan Solo.” Sebab, di Lamongan, ia memang tinggal di sebelah utara Sungai Bengawan Solo.  "Kalau sesama orang Lamongan, buka warung soto ya minimal berjarak satu kilometer. Jadi, tidak terlalu berdekatan,” ujarnya.

Selain itu, pemilik Soto Ayam Lamongan biasanya mengikuti paguyuban dan terdata. "Saat ini, di Semarang ada 30 anggota, tapi sementara ini saya vakum. Pertemuannya sebulan sekali, waktu saya belum ada," katanya.

Tak jauh dari Soto Ayam Lamongan Lorenzo, ada Soto Ayam Lamongan Barokah. Warung tersebut dipasang MMT sebagai penanda. Suasananya tampak sepi. Sesekali ada ojol (ojek online) yang melayani Go Food di warung ini.

Winda, pemilik Soto Ayam Lamongan Barokah mengaku warga asli Malang. Ia sudah empat tahun membuka warung Soto Ayam Lamongan di tempat itu.  "Suami asli Semarang, saya dari Malang. Buat Soto Ayam Lamongan kan hanya gitu-gitu saja, tidak ada lainnya," ujarnya.

Di seberang Soto Ayam Lamongan Barokah, terdapat Soto Ayam Lamongan Cak Brengos 3. "Cabangnya sudah ada di Magelang, tapi kalau pemiliknya belum tahu orang Lamongan atau tidak," kata salah satu pelayan yang keberatan ditulis namanya.  (mg1/mg3/mg6/fgr/aro) Editor : Agus AP
#rumah makan #soto lamongan #rumah makan padang #Kuliner Semarang