Nasi goreng Hengky berada di Jalan Puri Anjasmoro Blok K, Tawangsari, Kecamatan Semarang Barat. Hampir ketika buka tak pernah sepi pengunjung. Tak hanya dari Semarang, pelanggannya bahkan dari Jakarta, Surabaya dan lainnya. Warung nasi goreng ini dirintis Hengky yang awalnya hanya berkeliling di kompleks Puri Anjasmoro tahun 1988.
Tak hanya masyarakat umum, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Walikota Solo Gibran Rakabuming Raka, Kaesang Pangarep, bahkan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir kerap mampir. Meski sudah 36 tahun, nasi goreng ini tetap mempertahankan cita rasa dan cara masaknya.
Menggunakan kayu bakar dan disajikan diatas piring dengan alas daun pisah. Aromanya langsung menggugah selera. Perpaduan nasi goreng dan babat menjadikan kuliner ini terus diminati para pecinta kuliner. “Rasanya itu maknyuss, dan selalu ngangeni. Kalau kesini pasti nasi goreng babat dan paru goreng yang kriuk,” ujar Hartawan.
Ia sudah menjadi pelanggan nasi goreng babat Hengky sejak 20 tahun lalu. Sejumlah koleganya saat ke Semarang pasti diajak untuk mencicipi nasi goreng tersebut. “Istimewa pokoknya,” ujarnya.
Putra pemilik Nasi Goreng Hengky, Hanif Maulana Hakim mengakui Gubernur Ganjar kerap datang langsung. “Tapi setelah pandemi beliau belum pernah datang. Paling ajudannya yang kesini untuk pesan,” akunya.
Nasi Goreng Hengky sebenarnya tak jauh berbeda dengan nasi goreng pada umumnya. Bumbunya sama. Bawang putih, bawang merah, kemiri, dan lainnya. Yang membedakan adalah, saat memasak masih menggunakan kayu bakar. Cara penyajiannya juga masih dengan alas daun pisang. “Itu memang tak boleh berubah, karena bisa menambah cita rasa harum dan menjaga cita rasa,” tambahnya.
Tak hanya nasi goreng, berbagai varian lauk disajikan khusus dari jeroan sapi. Seperti babat, iso, limpa, paru, dan jantung. Selain itu, pelanggan biasanya mencari paru goreng kering yang selalu jadi pelengkap. Untuk satu porsi nasi goreng telur Rp 20 ribu, nasi goreng babat Rp 30 ribu.
Pecinta kuliner yang ingin mencicipi harus konfirmasi saat hendak ke warung. Sebab, bukanya tidak menentu. Terkadang dua minggu buka, dua minggu libur. “Ya kalau mau datang tanya dulu biar tidak kecewa karena warungnya tutup,” tambahnya.
Sekarang bahkan sudah mulai melayani orderan nasi goreng dan gongso frozen food. Biasanya dibuat setelah adanya pesanan. Ketahanannya bisa sampai tujuh hari. Awalnya Kaesang saat lebaran minta nasi goreng dan gongso. Tapi ia bingung bagaimana caranya bisa tahan lama sampai Jakarta. "Nah setelah lihat dari google akhirnya menemukan nasi goreng frozen food,” akunya. (kap/fth) Editor : Agus AP