Tim UMK Dorong Modernisasi Produksi Gebyok Kudus melalui Penerapan Teknologi CNC Router  

H. Arif Riyanto • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:43 WIB
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muria Kudus (UMK) dan Universitas STEKOM Semarang bersama mitra pengrajin Gebyok Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muria Kudus (UMK) dan Universitas STEKOM Semarang bersama mitra pengrajin Gebyok Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus.

RADARSEMARANG.ID, Kudus– Upaya menjaga keberlanjutan seni Gebyok Kudus tidak cukup hanya mempertahankan keterampilan ukir tradisional.

Adaptasi teknologi produksi, penguatan pemasaran digital, serta pengembangan edukasi budaya juga diperlukan agar kerajinan khas Kudus mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan kebutuhan pasar.

Hal tersebut menjadi perhatian Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muria Kudus (UMK) melalui program “Pemberdayaan Sentra Ekonomi Kreatif dalam Kerajinan Gebyok untuk Konservasi Budaya Lokal Produk Unggulan di Kabupaten Kudus”.

Program dalam skema Pemberdayaan Mitra Usaha Produk Unggulan Daerah (PM-UPUD) tersebut memasuki tahun ketiga pelaksanaan pada 2026.

Program dilaksanakan di Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, dengan melibatkan dua mitra pengrajin Gebyok, yaitu Avian Antiq milik H. Noor Hadi dan Arjuna Antiq milik Supriyono.

Tim pengabdian diketuai Dr. Nur Fajrie, M.Pd., dengan anggota Dr. Gilang Puspita Rini, S.E., M.M., Slamet Khoeron, S.T., M.T., dan Muhammad Sholikhan, S.Kom., M.Kom.

Ketua tim pengabdian menjelaskan, salah satu persoalan utama yang dihadapi pengrajin adalah proses produksi yang masih banyak mengandalkan teknik dan peralatan manual.

Kondisi tersebut menyebabkan proses pengerjaan, terutama pada tahapan pembentukan dan pengukiran motif, membutuhkan waktu relatif panjang.

“Teknologi tidak diarahkan untuk menghilangkan keterampilan tradisional pengrajin. Mesin justru digunakan untuk membantu pekerjaan yang membutuhkan pengulangan dan presisi, sementara sentuhan artistik, penyempurnaan detail, dan finishing tetap membutuhkan keterampilan pengrajin,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Mesin CNC router ukir kayu.yang telah disiapkan secara digital diterapkan pada panel kayu secara lebih terukur, presisi, dan konsisten.
Mesin CNC router ukir kayu.yang telah disiapkan secara digital diterapkan pada panel kayu secara lebih terukur, presisi, dan konsisten.

Pada tahun ketiga, salah satu teknologi yang diterapkan adalah mesin CNC router ukir kayu.

Teknologi tersebut memungkinkan desain motif Gebyok yang telah disiapkan secara digital diterapkan pada panel kayu secara lebih terukur, presisi, dan konsisten.

Penerapan teknologi juga diarahkan untuk mempercepat proses produksi tanpa menghilangkan karakter artistik Gebyok Kudus,” katanya.

Berdasarkan simulasi awal pada pengerjaan panel ukiran berukuran 120 x 120 sentimeter, penggunaan CNC router menunjukkan potensi peningkatan efisiensi yang cukup besar.

Pengerjaan secara manual diperkirakan membutuhkan sekitar 20 jam, sedangkan menggunakan CNC router dapat diselesaikan sekitar 5 jam atau memberikan penghematan waktu sekitar 75 persen.

Produktivitas juga berpotensi meningkat dari sekitar 0,05 panel per jam menjadi 0,20 panel per jam.

Kebutuhan tenaga kerja langsung diperkirakan berkurang dari 20 jam per orang menjadi sekitar dua jam per orang karena sebagian proses pemotongan dan pembentukan motif dilakukan mesin.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muria Kudus (UMK) Dr. Nur Fajrie, M.Pd. bersama kru Jawa Pos TV di tempat mitra pengrajin Gebyok Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus.

 
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muria Kudus (UMK) Dr. Nur Fajrie, M.Pd. bersama kru Jawa Pos TV di tempat mitra pengrajin Gebyok Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus.  

Dari aspek kualitas, simulasi menunjukkan akurasi dimensi dapat meningkat dari sekitar 99,83 persen menjadi 99,96 persen.

Potensi produk cacat dapat ditekan dari tujuh persen menjadi dua persen, sedangkan limbah kayu diperkirakan turun dari 12 persen menjadi delapan persen.

Efisiensi juga terlihat dari sisi biaya proses.

Biaya pengerjaan per panel yang secara manual diperkirakan sekitar hampir cost anggaran belanja jasa dapat ditekan menjadi menjadi seperempat terhadap cost anggaran jasa produksi dengan menggunakan CNC router, atau berpotensi memberikan penghematan sekitar 30 persen.

Data tersebut masih merupakan simulasi operasional dan selanjutnya dapat divalidasi melalui pengukuran produksi secara berulang di lokasi mitra.

Selain persoalan produksi, program pengabdian juga menyoroti pemasaran produk Gebyok yang selama ini masih menggunakan pendekatan konvensional dan semi-digital.

Tim mendorong penguatan dokumentasi produk, katalog digital, media sosial, serta pengembangan pemasaran berbasis digital agar jangkauan konsumen semakin luas.

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah keberlanjutan pelestarian budaya.

Menurut tim, konservasi Gebyok perlu dihubungkan dengan pendidikan seni dan budaya agar pengetahuan mengenai motif, proses produksi, filosofi, serta keterampilan pengrajin dapat dikenalkan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, pendekatan pemberdayaan tidak berhenti pada penyerahan mesin.

Mitra juga memperoleh sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, dan evaluasi, sehingga teknologi dapat benar-benar digunakan sebagai bagian dari sistem produksi sehari-hari.

Melalui integrasi teknologi produksi, keterampilan tradisional, digitalisasi pemasaran, dan pendidikan budaya, program PM-UPUD diharapkan mampu memperkuat daya saing pengrajin sekaligus menjaga Gebyok Kudus sebagai produk unggulan dan warisan budaya lokal.

Penerapan CNC router menjadi salah satu bentuk adaptasi teknologi yang tetap menempatkan pengrajin sebagai aktor utama.

Mesin digunakan untuk meningkatkan kecepatan dan presisi, sedangkan kepekaan artistik, karakter ukiran, serta nilai budaya tetap menjadi kekuatan utama seni Gebyok Kudus.

Program Pemberdayaan Sentra Ekonomi Kreatif Dalam Kerajinan Gebyok Untuk Konservasi Budaya Lokal Produk Unggulan di Kabupaten Kudus ini merupakan pendanaan Hibah Kemenristekdikti pada tahun ketiga dengan dosen-dosen Universitas Muria Kudus dan Universitas STEKOM Semarang dengan berbagai kepakaran dan keilmuan yang multidisiplin. (aro)

Editor : H. Arif Riyanto
kerajinan khas universitas muria kudus Pengabdian kepada masyarakat gebyok CNC