Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Pewarisan Seni Gebyok Dalam Pemberdayaan Ekonomi Kreatif Berkelanjutan di Kabupaten Kudus

H. Arif Riyanto • Rabu, 24 September 2025 | 06:44 WIB
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Kewirausahaan Lingkup Mitra Usaha Produk Unggulan Daerah (PM-UPUD) Tahun 2025 yang diketuai Dr. Nur Fajrie, S.Pd., M.Pd.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Kewirausahaan Lingkup Mitra Usaha Produk Unggulan Daerah (PM-UPUD) Tahun 2025 yang diketuai Dr. Nur Fajrie, S.Pd., M.Pd.

RADARSEMARANG.ID, Kudus---Di tengah arus modernisasi yang kian deras, tradisi dan warisan budaya lokal menghadapi ancaman serius.

Salah satunya adalah seni gebyok Kudus—sebuah karya arsitektur tradisional yang khas dengan ukiran rumit dan bernuansa filosofis.

Gebyok bukan sekadar penyekat ruangan atau hiasan dinding, melainkan simbol identitas masyarakat Kudus yang sarat dengan makna spiritual, sosial, dan estetika.

Namun, keberadaan seni gebyok kini kian terpinggirkan. Minimnya regenerasi pengrajin, keterbatasan teknologi, serta tantangan pemasaran membuat seni adiluhung ini terancam kehilangan relevansinya di tengah perkembangan industri kreatif modern.

Dalam konteks inilah, Universitas Muria Kudus (UMK) mengambil langkah nyata melalui program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Kewirausahaan Lingkup Mitra Usaha Produk Unggulan Daerah (PM-UPUD) Tahun 2025.

Program yang didanai hibah penelitian dan pengabdian ini mengusung tema besar Pemberdayaan Sentra Ekonomi Kreatif Dalam Kerajinan Gebyok Untuk Konservasi Budaya Lokal Produk Unggulan di Kabupaten Kudus.

Tim pengabdian yang terdiri atas para pakar multidisiplin berkomitmen menjadikan gebyok tidak hanya sebagai artefak budaya, tetapi juga sebagai sumber daya ekonomi berkelanjutan.

Berdasarkan penjelasan Dr. Nur Fajrie, M.Pd., dosen Pendidikan Seni di UMK sekaligus ketua tim pengabdian, gebyok memiliki nilai strategis.

“Seni gebyok adalah warisan yang tidak ternilai. Jika tidak dikelola, bisa hilang ditelan zaman. Tetapi jika dikelola dengan tepat, ia dapat menjadi sumber ekonomi kreatif sekaligus media edukasi budaya,” ujarnya saat ditemui di Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus.

Tim pengabdian kepada masyarakat menunjukkan produk kerajinan seni gebyok di Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus.
Tim pengabdian kepada masyarakat menunjukkan produk kerajinan seni gebyok di Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus.

Program ini berdiri di atas kolaborasi lintas disiplin.

Ketua tim, Dr. Nur Fajrie, membawa kepakaran di bidang seni dan pendidikan budaya. Aspek konservasi nilai tradisional dalam setiap langkah program.

Didampingi oleh Dr. Gilang Puspita Rini, SE., MM., seorang ahli pemasaran digital, tim berhasil merancang strategi promosi gebyok yang adaptif dengan era e-commerce.

Selain itu, hadir pula Muhammad Sholikhan, M.Kom., pakar sistem informasi, yang merancang media pembelajaran berbasis Augmented Reality (AR).

Dari aspek teknologi produksi, Slamet Khoeron, ST., MT., berperan menghadirkan inovasi mesin yang ramah dan efisien.

Kehadiran tim multidisiplin ini menjadi fondasi penting, Seni gebyok tidak hanya dipandang dari sisi artistik, tetapi juga ekonomi, teknologi, pendidikan, dan sosial budaya.

Sinergi inilah yang membuat program pengabdian ini berbeda dari sekadar proyek konservasi, melainkan sebagai model pemberdayaan berbasis kewirausahaan yang menyasar keberlanjutan.

Tahun pertama program (2024) difokuskan pada penguatan dasar.

Tim melakukan dokumentasi motif gebyok tradisional, lalu mendigitalisasi desain agar lebih praktis digunakan dalam produksi.

Selain itu, pelatihan pemasaran digital diperkenalkan.

Pengrajin yang sebelumnya hanya mengandalkan jaringan lokal mulai memanfaatkan media sosial untuk promosi.

Memasuki tahun kedua (2025), fokus bergeser ke penerapan teknologi produksi modern.

Mesin Bandshow Tipe 36 diperkenalkan untuk memotong kayu berukuran besar dengan presisi tinggi.

Selain itu, alat press kayu dengan aktuator linier menjadi solusi terhadap masalah sambungan panel yang rapuh.

Kompresor angin 3/4 HP mendukung proses finishing dengan pembersihan debu dan penyemprotan cat yang lebih merata.

Tak kalah penting, media AR Maker Joglo Pencu mulai diuji coba sebagai media edukasi.

Hasil uji coba menunjukkan peningkatan minat belajar hingga 75% dibanding metode konvensional.

Luaran program pada tahun kedua mencakup kombinasi teknologi keras dan lunak: mesin Bandshow Tipe 36, alat press dengan aktuator linier multi-sisi, media AR, e-catalog, serta aplikasi web pemasaran digital.

Seluruh inovasi ini dilengkapi buku panduan edukasi untuk mempermudah adopsi di lapangan.

Lebih jauh, hasil program telah didaftarkan sebagai paten sederhana, yang memberikan legitimasi hukum sekaligus perlindungan atas karya inovasi.

Pendanaan hibah melalui PPM-BIMA 2025 memungkinkan program berjalan selama tiga tahun.

Tahun ketiga akan diarahkan pada diversifikasi produk, penguatan pemasaran global, dan pembangunan showroom permanen.

Program pengabdian ini membuktikan bahwa pelestarian budaya tidak harus bertentangan dengan modernisasi.

Justru, melalui pendekatan multidisiplin, seni gebyok Kudus dapat diwariskan sekaligus dikembangkan sebagai sumber daya ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

“Pewarisan budaya seni gebyok bukan hanya tentang menjaga ukiran kayu, tetapi juga menjaga denyut kehidupan masyarakat Kudus agar tetap berdiri di atas identitasnya,” tegas Dr. Nur Fajrie.

Dengan dukungan teknologi, pemasaran digital, dan inovasi pendidikan, gebyok Kudus siap menembus batas lokal dan menjadi simbol ekonomi kreatif yang mendunia. (web/aro)

Editor : H. Arif Riyanto
#Nur Fajrie #universitas muria kudus #Pengabdian kepada masyarakat #gebyok #umk #KALIWUNGU