RADARSEMARANG.ID, Kudus—“Dari Kelas Menuju Panggung, Dari Ide Menjadi Karya”, Pameran dan Pagelaran Seni PGSD UMK 2025 adalah sebuah perayaan jiwa dan kreativitas dari mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar — tempat di mana seni bukan sekadar pertunjukan, tetapi cermin hati dan identitas.
Program Studi PGSD UMK telah terakreditasi UNGGUL dan mampu berdaya saing global tetapi mengakar pada budaya lokal.
Acara pentas seni yang dilaksanakan di Aula Darul Ilmi Universitas Muria Kudus (UMK) berubah menjadi panggung kemegahan seni.
Ratusan pasang mata menyaksikan kilasan warna, alunan nada, dan gerak tubuh yang mengalun puitis.
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMK semester 4 tampil memukau dalam acara Pameran dan Pagelaran Seni yang dilaksanakan pada 1 Juli 2025.
Acara ini merupakan luaran pembelajaran dari mata kuliah Kreasi Produk Seni yang menampilkan gabungan tiga ranah seni: seni musik, seni tari, dan seni rupa.
Acara pentas seni ini bukan hanya pameran kreativitas, tetapi juga menjadi wujud konkret dari kompetensi calon guru Sekolah Dasar (SD) yang tak hanya mampu berpikir teoritis, tetapi juga memiliki keterampilan praktis di bidang seni.
Melalui pendekatan lintas disiplin dan berbasis teknologi, para mahasiswa PGSD UMK menghadirkan karya-karya edukatif dan transformatif yang siap diterapkan dalam pembelajaran sekolah dasar.
Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan III FKIP Dr. Nur Mahardika, M.Pd.
Dalam sambutannya, Nur Mahardika menekankan bahwa kegiatan ini adalah bukti nyata mahasiswa PGSD UMK siap menjawab tantangan zaman.
“Kegiatan ini bukan sekadar tugas mata kuliah, tetapi manifestasi dari bagaimana guru SD masa depan mengemas pembelajaran yang menarik, edukatif, dan relevan dengan kemajuan teknologi. Melalui pendekatan seni, pembelajaran dapat menjadi ruang yang menyenangkan sekaligus membangun karakter anak-anak di era digital,” ujarnya disambut tepuk tangan meriah.
Mahasiswa PGSD UMK menampilkan berbagai aransemen musik tradisional dan kontemporer yang menggambarkan kearifan lokal sekaligus semangat inovatif.
Di bawah bimbingan Wasis Wijayanto, S.Sn., M.Sn., kelompok musik tradisional membawakan komposisi gamelan dan alat musik daerah lain dengan sentuhan kontemporer.
Aransemen-aransemen tersebut tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga berfungsi sebagai media pembelajaran seni musik untuk anak-anak usia dini.
Nada-nada yang dilantunkan sarat dengan makna edukatif, membangun suasana inklusif, dan menghadirkan pengalaman musikal yang menyentuh.
Para pengunjung diajak untuk menyelami nilai-nilai lokal yang dikemas dalam harmoni bunyi dan ritme modern.
Pertunjukan tari menjadi bagian yang tak kalah memikat.
Di bawah arahan Etik, M.Pd., para mahasiswa menampilkan berbagai jenis tari kreasi yang menggambarkan tema pendidikan, lingkungan, dan budaya.
Tarian yang dikembangkan tidak hanya mengasah psikomotorik mahasiswa, tetapi juga berorientasi pada pembelajaran anak-anak Sekolah Dasar.
Dengan koreografi yang komunikatif dan gerak yang penuh makna, tari-tari tersebut menunjukkan betapa pentingnya seni sebagai pendekatan pedagogis.
Baca Juga: 32 Mahasiswa Magister Pendidikan Universitas Muria Kudus Lulus 1,5 Tahun
Setiap gerak tidak hanya indah, tetapi juga mengandung pesan moral dan pendidikan karakter.
Seni rupa hadir dalam bentuk pameran karya-karya visual mahasiswa. Dr. Nur Fajrie, M.Pd., sebagai dosen pengampu mendampingi para mahasiswa dalam menghasilkan karya-karya inovatif, edukatif, dan ramah anak.
Karya yang ditampilkan meliputi media pembelajaran berbasis digital, seni instalasi edukatif, hingga proyek pelestarian budaya lokal.
Salah satu karya menonjol adalah media pembelajaran berbasis digital “Merah Putih di Hatiku” karya Rizky Fany.
Komik digital interaktif berbasis aplikasi Android dan teknologi barcode ini dirancang untuk meningkatkan minat baca dan nasionalisme siswa SD melalui pendekatan cerita visual dan teknologi mobile learning.
Begitupula Nabilatusy Syifa juga menghadirkan karya menarik berupa Diorama Miniatur Rumah Adat Kudus yang terbuat dari limbah kayu.
Karya ini merepresentasikan pelestarian budaya lokal melalui pendekatan seni tiga dimensi.
Karya ini dinilai tidak hanya estetis, tetapi juga sarat nilai edukatif dan ramah lingkungan.
Ketua panitia Satria Pratama dalam sambutannya memberikan penghargaan kepada seluruh peserta dan dosen pembimbing yang telah membimbing secara intensif.
Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momen penting bagi mahasiswa untuk tampil totalitas.
“Melalui seni, kami tidak hanya mengekspresikan kreativitas, tetapi juga menjalani proses menjadi guru yang mampu menginspirasi. Kami belajar tidak hanya mengajar, tetapi juga mencipta dan menyentuh hati,” ujarnya.
Para pengunjung yang terdiri atas dosen, mahasiswa lintas jurusan, dan masyarakat umum memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya acara ini.
Mahasiswa PGSD UMK menikmati sajian seni yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan menyentuh secara emosional.
Acara ini menjadi representasi nyata bagaimana kurikulum PGSD UMK mendorong kolaborasi lintas bidang seni.
Mahasiswa tidak hanya belajar membuat karya, tetapi juga mengkontekstualisasikannya dalam dunia pendidikan.
Ini menjadi bagian dari kompetensi pedagogik dan profesional yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan dasar.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa pendekatan seni dalam pendidikan bukanlah pelengkap, melainkan strategi utama dalam membangun pembelajaran yang humanis, kreatif, dan transformatif. Dengan dukungan teknologi dan semangat pelestarian budaya, seni menjadi sarana yang kuat untuk membangun kepekaan sosial dan intelektual anak-anak sejak usia dini.
Pameran dan pagelaran seni ini bukan hanya menjadi ajang unjuk bakat, tetapi juga momentum refleksi.
Bahwa di tangan para calon guru inilah masa depan pendidikan akan dibentuk—dengan sentuhan seni, dengan teknologi, dan dengan hati.
Mahasiswa PGSD UMK telah menunjukkan bahwa pendidikan yang bermakna haruslah mampu menyentuh jiwa, membangkitkan rasa, dan menumbuhkan karakter.
Karya-karya yang dipamerkan dan dipentaskan menjadi inspirasi bahwa seni bukan sekadar hiburan, tetapi juga ruang pedagogis, terapi emosional, dan jalan menuju pendidikan yang lebih inklusif dan berbudaya.
Dengan semangat itu, UMK kembali meneguhkan komitmennya untuk melahirkan pendidik masa depan yang kreatif, reflektif, dan adaptif terhadap perubahan zaman. (*/aro)
Editor : H. Arif Riyanto