RADARSEMARANG.ID, KLATEN - Penyebab kematian pasangan suami-istri (pasutri) berinisial Y, 37, dan I, 39, yang ditemukan dalam posisi berpelukan di rumah mereka di Desa Tegalrejo, Kecamatan Ceper pada Rabu (11/10) lalu, masih menjadi misteri.
Namun, di sisi lain keluarga tak mempersoalkan kejadian tersebut.
Agus Abdul Rochim, 67, terlihat masih menyimpan duka. Dia masih syok atas kepergian sang anak sekaligus menantunya dengan cara yang tragis di rumahnya.
Diketahui sebelumnya, I dan suaminya Y meninggal misterius. Sampai sekarang belum diketahui penyebab pasutri ini meninggal. Namun, Agus sudah mengikhlaskan kepergian sang anak dan menantu.
“Saya sudah ikhlas. Tidak mempermasalahkan. Itu sudah takdir Yang Maha Kuasa,” ujar Agus kepada Radarsolo.com, Kamis (12/10).
Agus menjadi saksi dan orang pertama yang mengetahui kejadian ini sehingga sempat membuat dia mengalami syok sampai jatuh pingsan.
Agus tidak melihat keanehan pada jenazah putri dan menantunya. Begitu juga dengan kondisi rumah.
Dari hasil pemeriksaaan petugas medis, juga tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh pasutri itu. Apalagi tidak ada barang berharga yang hilang maupun kerusakan pada pintu rumah.
“Tidak ada tanda apa-apa. Mulutnya juga tidak ada busa. Kondisinya wajar-wajar saja,” ujar Agus.
Menurut pengakuan Agus, sang anak yakni I sempat mengeluhkan sakit kepala karena tensi darahnya tinggi selama satu minggu terakhir.
Memang I memiliki riwayat hipertensi. Sedangkan menantunya yakni Y memiliki riwayat asma.
Ia mengungkapkan, Y dan I menikah sekira tiga tahun lalu. Rumah yang ditempati Y dan I merupakan rumah Agus.
Rumah tersebut memang lama tidak ditinggali Agus, karena dia menempati rumah lainnya yang jaraknya sekitar 300 meter.
“Y ini memang pekerja keras dalam menjalankan usaha sebagai pengepul rosok logam. Termasuk menyuplai bahan baku untuk industri pengecoran logam di Tegalrejo dan sekitarnya,” ucap Agus.
Sementara itu, I membantu suaminya menjalankan usaha gudang di Desa Kurung, Kecamatan Ceper.
Meski bertempat tinggal di Desa Tegalrejo, tetapi aktivitas keduanya banyak dihabiskan di Desa Kurung.
Agus sendiri menilai Y dan I cukup harmonis. “Selama ini tidak ada masalah apa-apa. Tidak pernah cerita apa-apa ke saya. Ya anak saya hanya mengeluhkan rasa pusing karena hipertensi itu,” ucapnya.
Sementara itu, salah seorang tokoh masyarakat Desa Tegalrejo, Jafar Rodhi menjelaskan, sebelum ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, Y dan I tetap beraktivitas seperti biasa pada Rabu (11/10).
Bahkan, tetangga seberang rumah sempat melihat I menjemur pakaian di samping rumah.
“Pada saat bersamaan, ada warga yang melihat Y sedang menggendong anaknya yang masih balita. Tetapi tidak ada hal yang aneh. Sekira 40 menit setelah itu, pasutri itu ditemukan meninggal,” ucap Jafar.
Dia mengungkapkan, saat kejadian dia sempat mendatangi lokasi hingga menghubungi polisi. Dari hasil pemeriksaan polisi, tidak ditemukan unsur kekerasan pada tubuh pasutri itu.
Dia juga menjelaskan, keluarga dari kedua belah pihak sepakat tidak dilakukan otopsi pada jenazah Y dan I.
Meski begitu, pihaknya membenarkan sejumlah sampel makanan dan minuman yang ada di dalam rumah dibawa kepolisian. Termasuk yang tersimpan di lemari es.
“Pada lokasi kejadian ditemukan sisa air minum dari kedua gelas, berupa teh. Sepertinya sehabis diminum keduanya. Lantas semua barang-barang cairan di lemari es telah dibawa oleh pihak kepolisian,” ujar dia. (ren/bun/ria)
Editor : Agus AP