RADARSEMARANG.ID — Tradisi Rebo Wekasan kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat.
Hari Rabu terakhir di bulan Safar ini sangat lekat dengan ritual spiritual dan kebudayaan di berbagai daerah Indonesia.
Banyak warga mencari tahu kapan tanggal pastinya serta amalan apa saja yang dianjurkan untuk menolak bala.
Berikut adalah panduan lengkap jadwal, sejarah singkat, dan ragam amalan Rebo Wekasan 2026 yang dirangkum dari berbagai sumber keagamaan.
Jadwal Rebo Wekasan 2026 Tahun Ini
Berdasarkan kalender Hijriah, bulan Safar 1448 H jatuh pada bulan Juli hingga Agustus 2026.
Rebo Wekasan atau Rabu Pungkasan tahun ini diperkirakan jatuh pada:
Hari: Rabu
Tanggal: 12 Agustus 2026 (Mulai Selasa malam, 11 Agustus 2026)
Catatan: Kepastian tanggal tetap mengikuti konfirmasi penanggalan resmi dari otoritas keagamaan setempat.
Sejarah Rebo Wekasan 2026
Sejarah Rebo Wekasan berawal dari masa penyebaran Islam di Indonesia.
Masyarakat Jawa meyakini hari Rabu terakhir pada Bulan Safar merupakan hari naas dari kepercayaan lama kaum Yahudi.
Lalu, pada Bulan Safar tahun 1602, beredar kabar rencana penjajahan Belanda di Jawa.
Masyarakat kemudian melaksanakan serangkaian ritual menolak kedatangan penjajah tersebut.
Ritual tersebut berkembang menjadi tradisi Rabu Wekasan atau Rebo Wekasan.
Baca Juga: Teks Khutbah Jumat 7 Agustus 2026: Naskah Pertama dan Kedua Hikmah Rebo Wekasan Bulan Safar
Selain itu, Rabu Wekasan atau Rebo Wekasan berhubungan erat dengan penyebaran agama Islam di Indonesia.
Abdul Hamid Quds berpendapat bahwa terdapat 32.000 bala yang diturunkan Allah ke bumi pada hari Rabu terakhir setiap tahun di Bulan Safar.
Wali Songo berperan dalam mengembangkan tradisi ini.
Menurut kepercayaan masyarakat Desa Suci, Kabupaten Gresik.
Sunan Giri memberikan petunjuk sumber air ketika kekeringan dan berpesan untuk mengadakan upacara adat Rebu Wekasan 2026.
Peristiwa sosial dan budaya dalam banyak fenomena yang kita saksikan di media sosial atau di sanding mata kita, dapat dikatakan merupakan pertautan antar tiga entitas sekaligus, yaitu entitas agama, entitas sosial dan entitas budaya.
Baca Juga: Makanan Khas Rebo Wekasan di Bulan Safar Agustus 2025
Rebo Wekasan 2026 Warisan Wali Songo
Termasuk ketika kita melihat fenomena Rebo Wekasan (rebo= hari rabu; wekasan= lepas), dimana umat Islam Indonesia khususnya, melakukan ritual pada setiap hari Rabu terakhir di bulan Shafar dalam hitungan Kalender Hijriyah, seperti mandi mengikuti warisan tradisi dari Wali Songo;
- shalat berjamaah 4 rakaat dengan doa khusus di masjid atau musholla,
- silaturrahmi,
- sedekah atau sering disebut tawurji dan
Baca Juga: Kapan Waktunya Mandi dan Sholat Rebo Wekasan di Bulan Safar?
Membuat kue apem (disebut juga cimplo yaitu makanan ringan terbuat dari adonan dari tepung beras, tepung singkong, ragi dan dicampur dengan air kelapa yang disajikan dengan kuah gula merah atau kinca) dengan cara membagi-bagikannya kepada tetangga dan handai taulan.
Dari rangkaian kegiatan itu semua mengarah pada satu makna yang berfungsi sebagai tolak bala (=menangkal marabahaya).
Baca Juga: Teks Khutbah Jumat Pertama dan Kedua Hikmah Rebo Wekasan Bulan Safar Agustus 2025
Bagi sebagian umat Islam Indonesia, ritual keagamaan “rebo wekasan” ini memiliki makna yang sakral.
Paling tidak, pemaknaan dari sisi teologis dijelaskan dalam sumber otoritatif (Al-Qur’an dan Al-Hadis) tentang pentingnya ucap syukur dan permohonan.
Dalam konteks “Rebo Wekasan” ini termasuk upaya permohonan selamat dari berbagai macam jenis bahaya yang diyakini akan datang.
Makna Bencana Dalam Al Qur’an
Selaras dengan Prof Quraish Shihab (2006), yang menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an makna bencana memiliki pengertian dan konsep yang berbeda, seperti musibah, bala’, azab, iqob, dan fitnah.
Misalnya, terma musibah berarti mengenai atau menimpa, secara keseluruhan dari akar katanya disebutkan sebanyak 76 kali.
Baca Juga: Air 7 Ayat Salamun dalam Al Qur’an pada Hari Rebo Wekasan, Begini Cara Membuatnya
Al-Qur’an sendiri menggunakan kata musibah yang berarti sesuatu yang tidak menyenangkan yang menimpa manusia.
Selain itu, ada terma bala’ yang berarti tampak, tersebut enam kali dalam Al-Qur’an.
Makna yang terkandung adalah ujian yang dapat menampakkan kualitas iman seseorang.
Kemudian terma fitnah atau cobaan dari Allah dapat berupa kebaikan dan keburukan.
Baca Juga: Kapan Waktunya Mandi dan Sholat Rebo Wekasan di Bulan Safar?
Penjelasan KH Maimoen Zubair tentang ritual rebo wekasan
Mengutip penjelasan KH Maimoen Zubair tentang ritual rebo wekasan, bahwa dalam kitab Tarikh Muhammadur Rasulullah dijelaskan Rasulullah saw ketika awal sakit beliau di hari rabu terakhir di bulan Shafar, yang disebut juga Arba’ Mustamir.
Selama 12 hari berturut-turut Rasulullah saw. sakit, kemudian beliau wafat pada tanggal 12 Rabiul awal.
Pada awal sakitnya, yaitu hari Rabu terakhir bulan Shafar, beliau pernah berpesan kepada Sayidina Abu Bakar, “Bersegeralah bersedekah, karena bala’ dan musibah tidak bisa mendahului amal sedekah.
Disadari, manusia dalam perspektif antropologis yaitu sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.
Dalam hal ini, umat Islam Indonesia, yang merupakan berpenduduk mayoritas muslim, memiliki ragam budaya dalam mengekspresikan ajaran mengenai relasi sosial, termasuk relasi dengan alam sebagai sumber kehidupan.
Antara lain tradisi Rebo Wekasan dengan mengirim apem sebagai simbol atas kesiapan dan kekuatan mental sosial dengan berbagi rasa kepeduliaan bersama (resiliensi sosial).
Baca Juga: Amalan Penolak 320.000 Bala, Pantangan dan Larangan Rebo Wekasan Rabu Terakhir di Bulan Safar 2025
Makna Ritual Ngapem pada Rebo Wekasan
Merujuk pada makna vokal dan fungsional tersebut, Makna ritual Ngapem pada Rebo Wekasan ini tidak lain adalah cara manusia yang memiliki keyakinan (Agama) dalam upaya menangkal keburukan apapun yang setiap saat akan terjadi, baik keburukan itu sebagai musibah yang menimpa ataupun peringatan dari Sang Pencipta.
Dari sisi makna vokalnya, Ngapem yang berarti menjaga segala macam keburukan yang bersumber dari mulut, seperti berita hoaks yang menimbulkan goncangan sosial.
Sedangkan dari sisi makna fungsionalnya, Rebo Wekasan yaitu momentum bersama untuk saling menjaga keharmonisan atau solidaritas sosial sebagai bentuk sikap respek terhadap bala’ dan musibah yang diderita umat manusia, baik dalam lingkungan yang berskala kecil maupun lingkungan spektrum yang lebih luas lagi, untuk masa kini dan nanti.
Baca Juga: Kapan Waktunya Mandi dan Sholat Rebo Wekasan di Bulan Safar?
Contoh-contoh upacara adat pada hari Rebo Wekasan di Tanah Jawa,
Sedekah Ketupat, Sidekah Kupat di daerah Dayeuhluhur, Cilacap.
Upacara Rebo Pungkasan, Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta.
Ngirab, di daerah Cirebonan.
Safaran di beberapa daerah.
Dan banyak orang muslim tertentu yang melakukan sembahyang tertentu.
Makanan yang dibuat untuk upacara biasanya di antaranya Ketupat, Apem, dan Nasi tumpeng.
Baca Juga: Air 7 Ayat Salamun dalam Al Qur’an pada Hari Rebo Wekasan, Begini Cara Membuatnya
Sumber Kitab Amalan Rebo Wekasan
‘Asal-Usul Amalan Rebo Wekasan’ dijelaskan bahwa terdapat beberapa sumber kitab yang menyebutkan tentang amalan di hari Rabu terakhir bulan Safar atau dikenal Rebo Wekasan, diantaranya sebagai berikut:
- - Kanz al-Najah wa al-Surur karya ‘Abdul Hamid Quds al-Makki (w. 1917).
- - Mujarrabat al-Dayrabi karya al-Dayrabi (w. 1801 M).
- - Nihayat al-Zain karya Syekh Nawawi (w.1897 M).
- - Na’t al-Bidayah karya Muhammad al-Fadhil bin Mamayn (w.1910 M).
- - Al-Jawahir al-Khams karya Muhammad bin Khatir al-Din (w. 1562 M).
- - Wasilah al-Tahlibin Ila Mahabbati rabb al-Alamin karya murid Hussamuddin (w. 1567 M) yang dikutip dalam kitab Majmu’ah Rasa’il al-Laknawi ketika menjelaskan hukum shalat-shalat tertentu, karya ‘Abd al-Hayy al-Laknawi (w. 1886), dan kitab lainnya.
Baca Juga: Amalan Penolak 320.000 Bala, Pantangan dan Larangan Rebo Wekasan Rabu Terakhir di Bulan Safar 2025
Rebo Wekasan merupakan wujud Akulturasi Budaya Jawa (Islam dan Jawa).
Daerah yang mengenal dan melakukan tradisi ini mayoritas adalah daerah pesisiran yang dikenal lebih dulu, kuat, dan kosmopolit keislamannya dibanding daerah pedalaman Jawa. (fal)
Editor : Baskoro Septiadi