Gegerkan Jagat Ulama! Dikira Buruh Kasar Biasa, Mbah Riyan Pria Kudus Ini Diam-Diam Jadi Penulis Kitab Internasional

Falakhudin • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 05:55 WIB
Mbah Riyan

Gegerkan Jagat Ulama! Dikira Buruh Kasar Biasa, Mbah Riyan Pria Kudus Ini Diam-Diam Jadi Penulis Kitab Internasional

 

RADARSEMARANG.ID – Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh kisah inspiratif seorang pria asal Kudus, Jawa Tengah. 

Di siang hari, ia bekerja keras sebagai kuli bangunan yang berlumuran semen. 

Namun di malam hari, ia berubah menjadi seorang 'Allamah (ulama yang sangat cerdas) yang melahirkan karya-karya keilmuan Islam tingkat internasional.

Baca Juga: Viral! Sosok Mbah Riyan, Tukang Bangunan Asal Kudus yang Ternyata Ulama Dunia Penulis Kitab Turats

Sosok bersahaja tersebut dikenal dengan panggilan Mbah Riyan atau Suprianto Mbah Riyan. 

Dalam dunia literasi dan manuskrip Islam, ia menggunakan nama pena Ibnu Harjo Al-Jawi.

Kisah hidupnya mencuri perhatian publik setelah keahliannya dalam melakukan tahqiq (penyuntingan dan analisis teks klasik) diakui oleh para ulama besar dunia. 

Salah satunya adalah ulama senior Al-Azhar Mesir, Syekh Abdul Aziz Syahawi.

Baca Juga: Kisah Mbah Riyan Kudus: Tukang Bangunan yang Diam-diam Jadi Ulama Muhaqqiq Kelas Dunia

 

Siang Angkat Semen, Malam Tulis Kitab Internasional

Mbah Riyan adalah bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi dan ketiadaan gelar formal bukan penghalang untuk menguasai ilmu agama yang mendalam. 

Meski tidak pernah mengenyam pendidikan di universitas Timur Tengah, kemampuan bahasa Arab dan metodologi penulisannya setara

bahkan melebihi lulusan S3.

Setiap hari, Mbah Riyan menjalani aktivitas fisik yang berat sebagai buruh bangunan demi menafkahi keluarga. 

Namun, begitu malam tiba, ia mencurahkan seluruh energinya untuk membaca ribuan kitab kuno dan menulis.

Metode dakwahnya terbilang unik. 

Baca Juga: Kisah Mbah Riyan Kudus: Tukang Bangunan yang Diam-diam Jadi Ulama Muhaqqiq Kelas Dunia

Berbeda dengan ulama pada umumnya, Mbah Riyan:

- Tidak memiliki majelis taklim besar.

- Tidak mengasuh pondok pesantren.

- Fokus berdakwah lewat tulisan, bukan lisan.

- Hingga saat ini, puluhan karya tahqiqan miliknya telah diterbitkan dan berhasil menembus pasar internasional, khususnya di negara-negara Timur Tengah.

Baca Juga: Kisah Mbah Riyan Kudus: Tukang Bangunan yang Diam-diam Jadi Ulama Muhaqqiq Kelas Dunia

 

Tolak Undangan Penghargaan MUI ke Jakarta Demi Menjaga Keikhlasan

Kehebatan Mbah Riyan akhirnya tercium oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. 

Karena kontribusinya yang luar biasa terhadap khazanah keilmuan Islam, MUI mengundang Mbah Riyan ke Jakarta untuk menerima penghargaan resmi.

Pihak panitia bahkan telah menjamin seluruh biaya transportasi dan akomodasi selama di ibu kota. 

Namun, di sinilah letak keteladanan seorang ulama sejati. Mbah Riyan memilih untuk tidak menghadiri acara penghargaan tersebut.

Bagi Mbah Riyan, popularitas dan penghargaan duniawi bukanlah hal yang penting. 

Ia memilih tetap berada di daerahnya, melanjutkan hidup dalam kesederhanaan, dan menjaga keikhlasan ilmunya dari sorotan kamera.

Baca Juga: Merendah demi Ikhlas: Mbah Riyan Tukang Bangunan Asal Kudus Ini Tolak Akomodasi Mewah MUI Jakarta, Ternyata Bukan Orang Sembarangan!

 

Profil Suprianto Mbah Riyan

Supriyanto lahir di Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.

Ia menempuh pendidikan dasar hingga SMA di Kudus, lalu meraih beasiswa kuliah di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta, cabang Universitas Jamiatul Imam Riyadh, Arab Saudi.

Tahun 2005 ia mulai mendalami Syariat Islam, khususnya bidang Ushul Fiqih.

Baca Juga: Bikin Merinding! Dikira Buruh Kasar Biasa, Mbah Riyan Pria Asal Kudus Ini Ternyata Ulama Besar yang Diakui Al-Azhar Mesir

 

Kajian ilmiahnya meliputi Ahkam Sujud Sahwi, At-Tarku Indal Ushuliyyin, hingga Al-Istihsan. Ia berkesempatan dibimbing dosen dari Universitas Al-Azhar Kairo.

Perjalanan akademiknya berbuah prestasi, bahkan pernah meraih hadiah ibadah haji pada 2012 karena menjuarai lomba hafalan kitab Arba’in Nawawi.

Lulus kuliah, Supriyanto ditarik ke Sukabumi pada 2013 untuk mengajar dan mengelola perpustakaan pondok pesantren yang sedang merintis sekolah tinggi.

Hingga 2025, jumlahnya menembus lebih dari seratus kitab.

Beberapa bahkan diterbitkan di Mesir, seperti Taufiq Jali dan Fathul Majid.

Namun yang paling ia tekuni adalah menghidupkan kembali manuskrip klasik ulama Nusantara, seperti karya Syekh Mahfudz Termas dan Ahmad Khatib Minangkabawi.

Di rumah, ia menjadi ayah bagi empat anak laki-laki dan mengisi waktu luang dengan memancing.

Baca Juga: Bikin Merinding! Dikira Buruh Kasar Biasa, Mbah Riyan Pria Asal Kudus Ini Ternyata Ulama Besar yang Diakui Al-Azhar Mesir

 

Kitab-Kitab yang Ditahqiq oleh Ibnu Harjo Al-Jawi (Mbah Riyan Kudus)

Baca Juga: Bikin Merinding! Dikira Buruh Kasar Biasa, Mbah Riyan Pria Asal Kudus Ini Ternyata Ulama Besar yang Diakui Al-Azhar Mesir

Fenomena Ulama Mastur modern

Fenomena Mbah Riyan mengingatkan masyarakat pada konsep ulama mastur, yaitu sosok wali atau orang berilmu tinggi yang menyembunyikan identitasnya di balik profesi masyarakat jelata. 

Di tengah era digital di mana banyak orang berlomba-lomba mencari panggung dan viralitas, kehadiran Mbah Riyan menjadi oase yang menyejukkan.

Netizen dan komunitas santri di Indonesia, khususnya gerakan Nahdhatut Turats, ramai-ramai memberikan apresiasi dan rasa syukur karena Indonesia masih memiliki sosok ulama yang begitu zuhud dan fokus membangun peradaban lewat literasi. (fal)

Editor : Baskoro Septiadi
Mbah Riyan Mbah Riyan Kudus Suprianto Mbah Riyan Ibnu Harjo Al-Jawi Ulama Mastur modern