Kisah Mbah Riyan Kudus: Tukang Bangunan yang Diam-diam Jadi Ulama Muhaqqiq Kelas Dunia

Falakhudin • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 04:21 WIB
Mbah Riyan Kudus
Mbah Riyan Kudus

 

RADARSEMARANG.ID – Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh kisah inspiratif seorang pria asal Kudus, Jawa Tengah. 

Di siang hari, ia bekerja keras sebagai kuli bangunan yang berlumuran semen. 

Namun di malam hari, ia berubah menjadi seorang 'Allamah (ulama yang sangat cerdas) yang melahirkan karya-karya keilmuan Islam tingkat internasional.

Sosok bersahaja tersebut dikenal dengan panggilan Mbah Riyan atau Suprianto. 

Baca Juga: Sosok Gus Anas Hidayatullah yang Menikahi Ning Umi Laila

Dalam dunia literasi dan manuskrip Islam, ia menggunakan nama pena Ibnu Harjo Al-Jawi.

Kisah hidupnya mencuri perhatian publik setelah keahliannya dalam melakukan tahqiq (penyuntingan dan analisis teks klasik) diakui oleh para ulama besar dunia. 

Salah satunya adalah ulama senior Al-Azhar Mesir, Syekh Abdul Aziz Syahawi.

Baca Juga: Sosok Ning Umi Laila Menikah dengan Gus Anas Hidayatulloh Viral

Siang Angkat Semen, Malam Tulis Kitab Internasional

Mbah Riyan adalah bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi dan ketiadaan gelar formal bukan penghalang untuk menguasai ilmu agama yang mendalam. 

Meski tidak pernah mengenyam pendidikan di universitas Timur Tengah, kemampuan bahasa Arab dan metodologi penulisannya setara bahkan melebihi lulusan S3.

Setiap hari, Mbah Riyan menjalani aktivitas fisik yang berat sebagai buruh bangunan demi menafkahi keluarga. 

Namun, begitu malam tiba, ia mencurahkan seluruh energinya untuk membaca ribuan kitab kuno dan menulis.

Baca Juga: Sosok Profil Gus Yahya Dari Alumni Ponpes Al Munawwir Krapyak, UGM Sampai Ketum PBNU

 

Metode dakwahnya terbilang unik. 

Berbeda dengan ulama pada umumnya, Mbah Riyan:

Baca Juga: Sosok Gus Irfan yang Menjadi Menteri Haji dan Umrah, Ternyata Cucu Pendiri Nahdlatul Ulama NU

 

Tolak Undangan Penghargaan MUI ke Jakarta Demi Menjaga Keikhlasan

Kehebatan Mbah Riyan akhirnya tercium oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. 

Karena kontribusinya yang luar biasa terhadap khazanah keilmuan Islam, MUI mengundang Mbah Riyan ke Jakarta untuk menerima penghargaan resmi.

Pihak panitia bahkan telah menjamin seluruh biaya transportasi dan akomodasi selama di ibu kota. 

Namun, di sinilah letak keteladanan seorang ulama sejati. Mbah Riyan memilih untuk tidak menghadiri acara penghargaan tersebut.

Bagi Mbah Riyan, popularitas dan penghargaan duniawi bukanlah hal yang penting. 

Ia memilih tetap berada di daerahnya, melanjutkan hidup dalam kesederhanaan, dan menjaga keikhlasan ilmunya dari sorotan kamera.

 

Fenomena Ulama 'Mastur' di Era Modern

Fenomena Mbah Riyan mengingatkan masyarakat pada konsep ulama mastur, yaitu sosok wali atau orang berilmu tinggi yang menyembunyikan identitasnya di balik profesi masyarakat jelata. 

Baca Juga: Sosok Khansa Mariska yang Menikah dengan Gus Azmi

Di tengah era digital di mana banyak orang berlomba-lomba mencari panggung dan viralitas, kehadiran Mbah Riyan menjadi oase yang menyejukkan.

Netizen dan komunitas santri di Indonesia, khususnya gerakan Nahdhatut Turats, ramai-ramai memberikan apresiasi dan rasa syukur karena Indonesia masih memiliki sosok ulama yang begitu zuhud dan fokus membangun peradaban lewat literasi. (fal)

Editor : Baskoro Septiadi
Mbah Riyan Mbah Riyan Kudus Suprianto Mbah Riyan Ibnu Harjo Al-Jawi Ulama Mastur modern