RADARSEMARANG.ID, Tipu Sultan, yang dikenal sebagai Tiger of Mysore, adalah salah satu penguasa paling tangguh dan visioner di India pada akhir abad ke-18.
Ia menjadi simbol perlawanan sengit terhadap ekspansi kolonial Inggris dan dianggap sebagai mimpi buruk bagi British East India Company.
Hingga hari ini, warisannya tetap memicu kekaguman sekaligus perdebatan politik di India modern.
Baca Juga: Jokowi Injak Kepala Kerbau Saat Terima Gelar Adat di Lampung, Picu Perdebatan Publik
Harimau Ikonik di Museum London
Trofi Kekalahan Inggris
Salah satu artefak paling ikonik yang mewakili perlawanan Tipu Sultan adalah Tipu’s Tiger, sebuah patung harimau kayu otomatis berukuran hampir sebesar manusia.
Patung ini menggambarkan seekor harimau sedang menerkam seorang tentara Eropa.
Baca Juga: Kang Dedi Mulyadi Ternyata Pernah Main Film, Judulnya 7 Manusia Harimau
Mekanisme di dalamnya menghasilkan suara raungan harimau dan jeritan korban ketika dioperasikan.
Patung ini dibuat di istana Tipu dan diambil sebagai barang rampasan perang setelah ibu kota Mysore, Srirangapatna, jatuh pada 1799.
Kini, patung tersebut menjadi salah satu koleksi unggulan di Victoria and Albert (V&A) Museum, London.
Artefak ini bukan sekadar pajangan. Ia melambangkan keberanian dan kebencian Tipu terhadap kekuasaan kolonial, sekaligus menjadi pengingat abadi bagi Inggris atas perlawanan sengit yang pernah mereka hadapi di anak benua India.
Latar Belakang dan Keberanian Militer
Tipu Sultan lahir pada 1750 sebagai putra Haider Ali, seorang prajurit yang naik pangkat dan merebut kekuasaan di Kerajaan Mysore.
Haider Ali dikenal sebagai pemimpin cakap yang merekrut tentara bayaran Prancis untuk memodernisasi pasukannya dengan taktik Eropa. Tipu mewarisi semangat itu dan membuktikan kemampuannya sejak muda.
Puncak keberanian Tipu terjadi pada Pertempuran Pollilur (1780) selama Perang Anglo-Mysore Kedua.
Pasukannya berhasil menghancurkan pasukan Inggris di bawah Kolonel William Baillie, salah satu kekalahan terburuk Inggris di India saat itu.
Baca Juga: Kompetisi Roket Terkendali akan Dipatenkan
Tipu juga dikenal sebagai pionir roket militer. Ia mengembangkan roket berlapis besi (Mysorean rockets) yang memiliki jangkauan hingga 2 km.
Teknologi ini kelak menginspirasi roket Congreve yang digunakan Inggris pada Perang Napoleon.
Tipu terlibat dalam empat Perang Anglo-Mysore. Ia berhasil mendiktekan syarat perjanjian kepada Inggris pada satu kesempatan dan menjadi salah satu dari sedikit penguasa di Asia Selatan yang mampu memberikan perlawanan serius terhadap East India Company.
Pembangunan Ekonomi dan Administrasi Modern
Tipu Sultan bukan hanya panglima perang, tetapi juga administrator visioner. Ia memahami keunggulan Eropa dalam manufaktur dan perdagangan, lalu menerapkannya di Mysore.
Beberapa pencapaiannya meliputi:
- Mendirikan puluhan pabrik negara yang memproduksi senjata, sutra, peralatan, dan bubuk mesiu dengan kualitas tinggi.
- Memperkenalkan sistem irigasi baru, kalender, mata uang, dan departemen pemerintahan modern.
- Meningkatkan produksi pertanian sehingga Mysore menjadi salah satu wilayah paling subur dan padat penduduk di India saat itu.
- Mendorong perdagangan internasional hingga ke Jeddah dan negara-negara lain.
- Ekonomi Mysore mencapai puncaknya di bawah kepemimpinannya, dengan militer yang terorganisir dan teknologi maju.
- Ia juga dikenal memiliki perpustakaan besar dan mendukung seni serta arsitektur.
Baca Juga: MTQ Nasional XXXI Usung Harmoni dan Toleransi Menuju Indonesia Emas
Kebijakan Agama dan Toleransi
Sebagai Muslim yang taat, Tipu Sultan memerintah kerajaan dengan mayoritas penduduk Hindu.
Banyak catatan sejarah menunjukkan ia mengangkat pejabat tinggi Hindu, seperti Purnaiah (salah satu menteri utama), Krishna Rao (bendahara), dan Shamaiya Iyengar.
Ia juga memberikan hibah tanah dan hadiah kepada kuil-kuil Hindu, termasuk dukungan saat kuil Sringeri diserang pihak lain.
Kebijakan ini mencerminkan pendekatan pragmatis dan toleran untuk menjaga stabilitas kerajaan yang luas.
Akhir Kekuasaan dan Warisan
Pada 4 Mei 1799, selama Perang Anglo-Mysore Keempat, pasukan Inggris yang didukung sekutu lokal menyerbu Srirangapatna.
Tipu Sultan gugur dalam pertempuran di bentengnya. Kematiannya dirayakan besar-besaran di Inggris, dan harta karun kerajaannya dijarah sebagai trofi.
Meski kalah, Tipu diakui sebagai salah satu pemimpin paling cakap di Asia pada zamannya.
Ia menjadi inspirasi perlawanan anti-kolonial di kemudian hari.
Baca Juga: Padukan Arsitektur Kolonial dengan Desain Interior Modern
Upaya BJP Menghapus Warisan Sang Sultan
Di India kontemporer, warisan Tipu Sultan menjadi bahan perdebatan politik.
Partai Bharatiya Janata Party (BJP) sering mengkritik Tipu dengan tuduhan penindasan terhadap Hindu. Kritik ini mencakup penolakan terhadap perayaan hari lahirnya, patung, dan nama tempat.
Contoh nyata adalah penggantian nama Tipu Express (kereta Bengaluru-Mysuru) menjadi Wodeyar Express pada 2022, meskipun Dinasti Wodeyar sempat bekerja sama dengan Inggris pasca-1799.
Baca Juga: Dubes Inggris Tindak Lanjuti Potensi Kerja Sama Dengan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi
Hingga beberapa tahun lalu, BJP sendiri pernah terlibat dalam penghargaan terhadap Tipu, termasuk penerbitan buku yang memujinya.
Kritikus melihat perubahan sikap ini sebagai bagian dari upaya menulis ulang sejarah untuk menekankan narasi Hindu Rashtra.
Namun, banyak sejarawan menekankan peran Tipu sebagai pahlawan anti-kolonial yang membangun negara maju dengan elemen toleransi dan inovasi.
Sang Harimau yang Tak Terlupakan
Tipu Sultan mewakili era di mana India memiliki pemimpin visioner yang mampu menantang kekuatan global terbesar saat itu. Harimau mekanik di London tetap menjadi pengingat kekuatan simbolis perlawanannya.
Sementara upaya menghapus namanya terus berlanjut di panggung politik India, fakta sejarah menunjukkan sosok jenius militer, administrator ulung, dan simbol perlawanan yang sulit dihapus dari ingatan kolektif.
Warisan Tipu Sultan terus hidup — sebagai inspirasi bagi mereka yang menghargai perjuangan melawan penjajahan dan modernisasi di tengah tantangan zaman. (tas)
Editor : Tasropi