FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
RADARSEMARANG.ID, Semarang – Tiga belas tahun telah berlalu sejak ulama salaf sekaligus pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Az Zuhri Ketileng, Abah Syeikh Saeful Anwar, wafat.
Rabu (11/2) malam, diperkirakan ribuan santri dan masyarakat kembali memadati kompleks ponpes di Jalan Ketileng Raya 13A, Kota Semarang, untuk memperingati haul ke-13 melalui tradisi ganti luwur, kain kelambu penutup makam sang guru.
Ketua Panitia Haul Ke-13 Abah Syeikh, Dr Alwi Alex Sujanto SE SPd MM, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan telah dipersiapkan sejak jauh hari.
Menurutnya, haul bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum merawat jejak spiritual sekaligus meneguhkan nilai-nilai tradisi pesantren yang diwariskan Abah Syeikh semasa hidup.
“Haul ini tidak hanya menjadi ruang doa dan ziarah, tetapi juga ajang silaturahmi santri lintas generasi. Kami mengajak masyarakat merefleksikan keberlanjutan tradisi pesantren sebagai penyangga identitas kultural dan keislaman,” ujar Alex, didampingi Sekretaris Panitia Drs Saad Sapto Adi S MM dan Panglima Santri Drs Haris Heri Supangat, Selasa malam (10/2).
Tahun ini, haul mengusung tema “Terbarkan Kawelasasihan”. Tema tersebut menekankan pentingnya nilai kasih sayang, kepedulian, dan kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Spirit kawelasasihan dimaknai sebagai ajakan untuk saling menguatkan, berbagi, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Sebagaimana keteladanan Abah Syeikh yang terus dikenang para santri.
“Ini bukan sekadar seremonial. Kawelasasihan menjadi ruh kegiatan, agar pesan moral Abah Syeikh tetap hidup di tengah masyarakat,” imbuh Alex.
Sementara itu, putra sekaligus penerus Abah Syeikh, Gus Luqman, atau yang akrab disapa Guse, menegaskan, haul merupakan cara menjaga ingatan kolektif tentang adab dan pengabdian seorang guru.
Menurutnya, tradisi yang terus diuri-uri itu menjadi jembatan nilai antara masa lalu, masa kini, dan masa depan umat.
“Dari haul kita belajar keikhlasan, adab, dan pengabdian. Menebarkan kawelasasihan adalah inti ajaran yang diwariskan Abah Syeikh,” tuturnya.
Selain doa dan pengajian, ribuan santri yang hadir juga memanjatkan harapan agar bangsa Indonesia dijauhkan dari bencana alam maupun bencana sosial.
Guse mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mawas diri dan semakin mendekatkan diri kepada Sang Khalik sebagai ikhtiar spiritual menghadapi berbagai tantangan zaman. (fgr)
Editor : Baskoro Septiadi