Berita Semarang Raya Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto Jateng

Asal-usul Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia

Falakhudin • Senin, 25 Agustus 2025 | 12:32 WIB
Asal-usul Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia
Asal-usul Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia

 

RADARSEMARANG.ID — Untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai kapan tradisi ini mulai dilakukan oleh umat Islam Indonesia, dideskripsikan sekilas tentang awal mula masuknya Islam ke wilayah Nusantara.

Hal ini akan memberikan gambaran penting apakah tradisi ini muncul sejak Islam itu masuk ke wilayah ini atau tradisi ini muncul kemudian setelah adanya proses islamisasi yang panjang di wilayah ini. 

 

Ada banyak teori yang ditawarkan oleh para sejarawan dengan segala argumentasinya mengenai kapan Islam masuk ke Nusantara.

Sejumlah sarjana kebanyakan asal Belanda memegang teori bahwa asal-muasal Islam di Nusantara adalah anak benua India, bukannya Persia atau Arabia.

Sarjana pertama yang mengemukakan teori ini adalah Pijnappel, seorang ahli dari Universitas Lieden.

Dia mengaitkan asal Islam di Nusantara dengan wilayah Gujarat dan Malabar,  karena ada unsur kesamaan dalam bermadzhab antara umat Islam Indonesia dan umat Islam Gujarat dan Malabar, yakni mengikuti madzhab al-Syafi’i.

Hal ini disinyalir setelah orang-orang Arab menetap di Gujarat dan Malabar sambil berdagang kemudian menyebar menuju wilayah Nusantara.

 

Pendapat Pijnappel ini didukung oleh Snouck Hurgronje dengan berargumen bahwa begitu Islam berpijak kokoh dio beberapa pelabuhan Anak Benua India, kaum muslimin Dekkan banyak di antara mereka sebagai pedagang perantara dalam perdaganagan Timur Tengah dengan Nusantara datang ke Nusantara sebagai penyebar Islam pertama.

Baru kemudian mereka disusul orang-orang Arab kebanyakan keturunan Nabi Muhammad SAW karena menggunakan gelar sayyid atau syarif  yang menyelesaikan penyebaran Islam ke wilayah Nusantara.

Orang-orang Arab ini muncul di Nusantara baik sebagai pendeta (preist) maupun sebagai pendeta penguasa (priest-princes) atau sultan.

Snouck tidak menyebut secara jelas wilayah di India Selatan yang dipandang sebagai asal-usul Islam di Nusantara.

Tetapi ia menyebut abad ke-12 sebagai periode paling mungkin dari permulaan penyebaran Islam di Nusantara. 

Baca Juga: Dikenal Kitab Berjalan dan Sering Bermimpi Rasulullah, KH Thoifur Mawardi Wafat, Ini Karomahnya

 

Penting untuk dicatat apa yang telah disampaikan oleh Arnold yang berargumen bahwa Coromandel dan Malabar bukan satu-satunya tempat asal Islam dibawa, tetapi juga Arabia.

Dalam pandangannya para pedagang Arab juga menyebarkan Islam ketika mereka dominan dalam perdagangan Barat-Timur sejak abad-abad awal Hijriyah atau abad ke 7 dan ke-8 Masehi.

Meski tidak terdapat catatan-catan sejarah tentang kegiatan mereka dalam penyebaran Islam, cukup pantas diasumsikan bahwa mereka terlibat pula dalam penyebaran Islam kepada penduduk lokal di Nusantara.

Asumsi ini menjadi lebih mungkin bila orang misalnya mempertimbangkan fakta yang disebutkan sumber-sumber China, bahwa menjelang akhir abad ke–7 seorang pedagang Arab menjadi pemimpin sebuah pemukiman Arab Muslim di pesisir pantai Sumatra.

Sebagian orang-orang Arab ini dilaporkan melakukan perkawinan dengan wanita lokal, sehingga membentuk neukles sebuah komunitas muslim yang terdiri dari orang-orang Arab pendatang dan penduduk lokal. 

Menurut Arnord anggota-anggota komunitas Muslim ini juga melakukan kegiatan-kegiatan penyebaran Islam, meskipun mungkin mereka bukan orang-orang profesional yang memang dipersiapkan sebagai da’i, sehingga pengaruh Islam tidak terlihat nyata.

 

Baru setelah abad ke-12 Masehi pengaruh Islam terlihat nyata.

Karena itu, proses Islamisasi nampak mengalami akselarasi antara abad ke-12 dan ke-16. 

Terkait dengan akselarasi perkembangan Islam di wilayah Nusantara antara abad ke-12 dan ke-16, A. H. Johns menyajikan sebuah teori bahwa para sufi pengembara yang terutama melakukan penyiaran Islam di kawasan ini.

Para sufi ini berhasil mengislamkan jumlah besar penduduk Nusantara setidaknya sufi menyajikan Islam dalam kemasan yang atraktif, khususnya dengan menekankan kesesuaian dengan Islam atau kontinuitas, dari pada perubahan dalam kepercayaan dan praktek keagamaan lokal.

Dengan menggunakan tasawuf sebagai sebuah kategori dalam literatur dan sejarah Melayu-Indonesia, Johns memeriksa sejumlah sejarah lokal untuk memperkuat argumentasinya.

 

Di antara tradisi yang ditransmisikan kepada pemeluk baru, yakni para muallaf di wilayah Nusantara, adalah perayaan maulid Nabi SAW.

Tradisi perayaan ini mungkin telah dilakukan oleh para pemeluk Islam di wilayah ini seiring proses Islamisasi yang terjadi pada abad ke-13 dan ke-16 sebagaimana telah disebutkan di atas.

Untuk mencari bukti-bukti autentik memang sulit, namun setidaknya apa yang telah dilakukan oleh para sufi serta mungkin ulama lainnya sebagai pembawa Islam ke wilayah ini telah juga ikut dipraktikkan di sini.

Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa pada abad ke-13 dan ke-14 di kawasan Timur Tengah di mana Islam berasal, sudah ada tradisi peringatan maulid Nabi SAW baik yang dilaksanakan oleh orang-orang Sunni maupun orang Syi’i, dan di antara kelompok-kelompok sufi yang datang ke Nusantara adalah mereka yang menganut madzhab Sunni maupun Syi’i, sehingga wajar bila tradisi perayaan ini turut dipraktikkan di wilayah ini. 

Perayaan maulid Nabi SAW ini pernah dilaksanakan oleh kesultanan Demak.

Pada masa kesultanan Mataram pada akhir abad ke-16, dan warisannya masih eksis sampai sekarang yang menjelma dengan sebutan keraton Ngayogyakarta dan keraton Kartosuro.

 

Sehingga, kesultanan Demak hanyalah meneruskan tradisi ini.

Kesultanan Mataram mengenal tradisi grebeg yang merupakan akulturasi adat Jawa dengan kebudayaan Islam, sehingga dikenal dengan adanya istilah Grebeg Besar, Grebeg Maulud dan Grebeg Puasa (Semarang: Megengan atau Dhandhangan).

Grebeg Maulid mungkin pertama kali dilaksanakan antara tahun 1613–1646 yang diselenggarakan di kesultanan Mataram disebut sekatenan , yang tujuannya adalah memperingati hari lahir Nabi SAW.

Dalam prosesinya, perayaan ini dilaksanakan pada bulan Rabiul Awwal (Jawa; Maulud) yang harus jatuh pada hari Senin Pon dengan tanpa memperhitungkan tanggal.

Perayaan ini tampil seperti pesta rakyat atau pasar malam yang daritualnya diawali dengan penjamasan (pencucian) dua keris yang bernama.
Baca Juga: 6 Amalan di Bulan Safar 2025 yang Sayang Kalau Dilewatkan, Salah Satunya Rebo Wekasan

 

Kyai Sekati dan Nyai Sekati kemudian diakhiri dengan do’a-do’a bagi keselamatan keluarga kesultanan khususnya dan umumnya bagi seluruh rakyat Mataram. 

Dalam catatan sejarah, kerajaan Islam selain kerajaan di atas yang pernah melaksanakan perayaan maulid Nabi SAW adalah kesultanan Banten.

Perayaannya sekitar menjelang akhir abad ke-17.

Hal ini juga diarsipkan oleh para sejarawan yang di antaranya adalah Azumardi Azra.

Dalam catatannya, Azumardi Azra lebih menekankan adanya jaringan antara ulama-ulama di Timur Tengah dengan para penguasa Islam di Nusantara.

 

Selanjutnya dijelaskan, Abd al-Qadir, penguasa Banten di Jawa Barat, pada tahun 1638 mendapat gelar sultan dari Syarif Makkah sebagai hasil missi khusus yang dikirimkannya ke tanah suci.

Sultan Banten ini juga menerima “bendera dan pakaian suci dan apa yang dipercayai sebagai bekas jejak kaki Nabi SAW” dari penguasa Haramain.

Semua pemberian Syarif Makkah ini diarak dalam prosesi keliling kota Banten pada saat perayaan atau peringatan maulid Nabi SAW. (fal)

Editor : Baskoro Septiadi
#Universitas Lieden #Keraton Ngayogyakarta #Dhandhangan Kudus #Azumardi Azra #peringatan maulid Nabi SAW #perayaan maulid Nabi SAW #Rasulullah SAW #umat Islam Indonesia #penyebar Islam pertama #wilayah Nusantara #madzhab Sunni #rabiul awal 2025 #5 september libur apa #Grebeg Puasa #Kesultanan Mataram #keraton Kartosuro #Rabiul Awwal #Penyebaran Islam di Nusantara #Dhandhangan #pendeta penguasa #kesultanan demak #Maulid Nabi 2025 #Grebeg Besar #pendeta #snouck hurgronje #memperingati hari lahir Nabi SAW #keturunan nabi muhammad saw #asal Islam di Nusantara #MAULID NABI #tradisi peringatan maulid Nabi SAW #megengan #maulid nabi muhammad #timur tengah #tanggal merah september 2025 #nabi muhammad saw #Dhandhangan adalah #Kesultanan Banten #dhandhangan merupakan #Pesta Rakyat #Pasar Malam #senin pon #kerajaan islam #akulturasi adat Jawa dengan kebudayaan Islam #Berita Islami #praktek keagamaan #bulan maulid 2025 #Nyai Sekati #Ucapan Maulid Nabi #kapan maulid nabi 2025 #Pijnappel #masuknya Islam ke wilayah Nusantara #pedagang Arab #gelar sayyid atau syarif #1 rabiul awal 2025 jatuh pada tanggal #maulid nabi tanggal berapa #India Selatan #grebeg maulud #grebeg maulid #tanah suci #Kyai Sekati #kapan Islam masuk ke Nusantara #Para sufi