RADARSEMARANG.ID – Besok hari Rabu 20 Agustus 2025 merupakan rabu terakhir di bulan Safar.
Tak pelak kita bergegas untuk memperbanyak amalan di hari rabu wekasan tersebut.
Sedangkan Rabu Wekasan sendiri ada beberapa yang berpendapat.
Menurut kepercayaan masyarakat Desa Suci, Kabupaten Gresik.
Sunan Giri memberikan petunjuk sumber air ketika kekeringan dan berpesan untuk mengadakan upacara adat Rabu Wekasan.
Peristiwa sosial dan budaya dalam banyak fenomena yang kita saksikan di media sosial atau di sanding mata kita, dapat dikatakan merupakan pertautan antar tiga entitas sekaligus, yaitu entitas agama, entitas sosial dan entitas budaya.
Termasuk ketika kita melihat fenomena rebo wekasan (rebo= hari rabu; wekasan= lepas), dimana umat Islam Indonesia khususnya, melakukan ritual pada setiap hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam hitungan Kalender Hijriyah.
Seperti mandi mengikuti warisan tradisi Wali Songo, sholat berjamaah 4 rakaat dengan doa khusus di masjid atau musholla, silaturrahmi, sedekah atau sering disebut tawurji dan membuat kue apem.
Apem (disebut juga cimplo yaitu makanan ringan terbuat dari adonan dari tepung beras, tepung singkong, ragi dan dicampur dengan air kelapa yang disajikan dengan kuah gula merah atau kinca).
Kemudian Apem dibagi-bagi kepada tetangga dan handai taulan.
Dari rangkaian kegiatan itu semua mengarah pada satu makna yang berfungsi sebagai lidaf’il bala’ atau tolak bala (menangkal marabahaya).
Bagi sebagian umat Islam Indonesia, ritual keagamaan rebo wekasan ini memiliki makna yang sakral.
Paling tidak, pemaknaan dari sisi teologis dijelaskan dalam sumber otoritatif (Al-Qur’an dan Al-Hadis) tentang pentingnya ucap syukur dan permohonan.
Dalam konteks Rabu Wekasan ini termasuk upaya permohonan selamat dari berbagai macam jenis bahaya yang diyakini akan datang.
Selaras dengan Prof. Habib Quraish Shihab (2006), yang menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an makna bencana memiliki pengertian dan konsep yang berbeda, seperti musibah, bala’, azab, iqob, dan fitnah.
Misalnya, terma musibah berarti mengenai atau menimpa, secara keseluruhan dari akar katanya disebutkan sebanyak 76 kali.
Al-Qur’an sendiri menggunakan kata musibah yang berarti sesuatu yang tidak menyenangkan yang menimpa manusia.
Selain itu, ada terma bala’ yang berarti tampak, tersebut enam kali dalam Al-Qur’an.
Makna yang terkandung adalah ujian yang dapat menampakkan kualitas iman seseorang.
Contoh-contoh upacara adat di Tanah Jawa:
- Sedekah Ketupat, Sedekah Kupat di daerah Dayeuhluhur, Cilacap Jawa Tengah.
- Upacara Rebo Pungkasan, Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta.
- Ngirab, di daerah Cirebonan Jawa Tengah.
- Safaran di beberapa daerah.
- Dan banyak orang muslim tertentu yang melakukan sembahyang tertentu.
Makanan yang dibuat untuk upacara biasanya di antaranya Ketupat, Apem, dan Nasi tumpeng.
Baca Juga: Mengapa Hari Pramuka Diperingati Setiap Tanggal 14 Agustus? Ternyata Begini Sejarahnya
Asal dari Amalan Rebo Wekasan dijelaskan bahwa terdapat beberapa sumber kitab yang menyebutkan tentang amalan di hari Rabu terakhir bulan Shafar atau dikenal Rabu Wekasan, diantaranya sebagai berikut:
- Kanz al-Najah wa al-Surur karya ‘Abdul Hamid Quds al-Makki (w. 1917).
- Mujarrabat al-Dayrabi karya al-Dayrabi (w. 1801 M).
- Nihayat al-Zain karya Syekh Nawawi (w.1897 M).
Daerah yang mengenal dan melakukan tradisi ini mayoritas adalah daerah pesisiran yang dikenal lebih dulu, kuat, dan kosmopolit keislamannya dibanding daerah pedalaman Jawa.
Daerah tersebut merupakan bekas dari penyebaran yang dilakukan oleh Walisongo pada masanya.
Daerah tersebut terkenal dengan nama pantai utara (pantura) atau pesisir Jawa (fal)
Editor : Baskoro Septiadi